Saat Xu Jiale mendekat, para Alfa yang mengepung Fu Xiaoyu dengan motif tersembunyi semuanya merasakan tekanan yang tidak nyaman.
Alfa kelas A biasanya memegang posisi dominan, dan feromon Xu Jiale memiliki sedikit aroma mint.
Meskipun secara teori termasuk dalam kategori herba ringan, feromonnya dapat mengeluarkan aroma tajam saat terangsang, menjadikannya salah satu feromon paling agresif di antara jenis herba.
Persaingan di antara para Alfa pada hakikatnya bersifat k**********n, jadi dalam hal pacaran, begitu seorang Alfa dengan kelas A memasuki tempat kejadian, Alfa lain yang peringkatnya lebih rendah pasti akan bersikap hati-hati dan jeli.
Fu Xiaoyu secara alami merasakan mendekatnya feromon beraroma mint dari Xu Jiale.
“Tidak perlu khawatir tentangku,” katanya singkat dan berbalik untuk pergi ke tempat lain untuk berdansa.
Keringat membasahi dahinya yang halus, seolah baru saja asyik menari beberapa saat yang lalu. Namun, begitu melihat Xu Jiale, sikapnya berubah dingin, dan sikapnya jauh dari ramah.
“Kau mau kemana?” Xu Jiale dengan malas mengulurkan tangannya untuk menghentikan Fu Xiaoyu.
Meskipun ia menjaga jarak dengan Alfa lain, ia tidak menyentuh pinggang Fu Xiaoyu. "Aku tidak berencana untuk datang. Han Jiangque-lah yang datang. Katanya dulu dialah yang berdansa denganmu, jadi dia khawatir kau sendirian di sini dan memintaku untuk menjagamu."
Fu Xiaoyu ragu sejenak, lalu tanpa sadar melirik ke arah Han Jiangque, yang berada di seberang pub.
Sang Alfa jangkung masih tampak mencolok di antara kerumunan, dan saat ini, ia tengah menopang p****t Wen Ke dan mengangkatnya ke udara.
Mereka begitu akrab.
Hanya saat berada di samping Wen Ke, hanya saat menatap Wen Ke, Han Jiangque baru bisa menunjukkan kegembiraan yang begitu murni.
Fu Xiaoyu tidak dapat menahan diri untuk berpikir demikian.
Tatapan Xu Jiale juga tertuju pada wajah Fu Xiaoyu.
Irama yang menghentak memekakkan telinga, dan penonton menjadi sangat gembira. Di bawah cahaya neon menyilaukan yang jatuh di antara mereka di pub, Xu Jiale melihat sekilas kesepian di mata sang omega yang bangga.
Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
Mata Fu Xiaoyu mengingatkannya pada ayah omega-nya. Ia selalu percaya bahwa omega bermata besar dapat menahan emosi lebih lama.
Pada usia 14 tahun, Xu Jiale membolos sekolah untuk pertama kalinya karena minum-minum karena hubungan asmaranya yang gagal.
Bir dingin yang baru saja dituang itu memiliki lapisan busa putih tebal. Ia meneguknya penuh, dan busa itu meleleh di mulutnya seperti awan pahit, meninggalkan perutnya yang masih kosong, dalam ilusi.
Sejak saat itu, ia percaya bahwa ini adalah rasa kesepian.
Tetapi momen sinestesia ini sudah cukup baginya untuk melihat menembus Fu Xiaoyu.
“Terakhir kali, aku bertanya mengapa kau bergabung dengan proyek ini meskipun kau tidak menyukainya, dan kau tidak menjawabku.”
"Tapi tadi, ketika Han Jiangque mengatakan itu, aku tiba-tiba menebak jawabannya." Di tengah musik yang berisik, Xu Jiale membungkuk dan berbisik di telinga Fu Xiaoyu, "Fu Xiaoyu, kau menyukai Han Jiangque."
Dia bahkan tidak perlu bertanya; saat mengucapkan kalimat itu, dia yakin tebakannya benar.
Fu Xiaoyu tiba-tiba tertegun dan berbalik menatapnya dengan bingung.
Kedekatan mereka terasa lebih dekat dari sebelumnya. Hidung mereka hampir bersentuhan. Xu Jiale dapat dengan jelas melihat kesedihan dan kepedihan di mata kucing itu. Pada saat itu, kenikmatan yang tak biasa dan intens menjalar dari hatinya hingga ke seluruh tubuhnya.
Emosi manusia, terutama yang paling indah, sering kali cepat berlalu.
Seperti kunang-kunang di malam musim panas, meskipun mereka hanya dapat hidup selama tujuh hari, anak-anak tetap akan menangkapnya dengan jaring dan menggantungnya di ujung tempat tidur mereka.
Manusia adalah makhluk yang bisa bersikap sangat kejam demi menyaksikan keindahan.
Pada saat ini, dia seperti anak nakal yang memegang jaring, berkeliaran di mata Fu Xiaoyu.
Tiba-tiba, Xu Jiale menjadi waspada.
"Jangan khawatir, aku tidak akan memberi tahu siapa pun, termasuk Wen Ke. Tapi, Fu Xiaoyu—" Setelah mengucapkan kalimat itu, Xu Jiale menjauhkan diri. Langkahnya hanya sesaat, lalu ia tersenyum santai dan mengambil dua gelas minuman keras dari bartender. Sambil menyerahkan satu gelas kepada Fu Xiaoyu, ia berkata dengan nada penuh arti, "Dia sudah menjadi milik Wen Ke, kau tahu?"
Fu Xiaoyu memegang gelas, dan jari-jarinya sedikit gemetar.
Xu Jiale adalah sahabat Wen Ke, dan Fu Xiaoyu memahami peringatan yang tersirat dalam kata-kata Xu Jiale.
Saat itu, ia teringat tatapan dingin yang tak terhitung jumlahnya yang ia alami di kota kecil yang tertutup semasa kecil akibat perselingkuhan ayahnya. Tatapan itu membuat tubuhnya memanas karena rasa malu.
Namun justru karena inilah, semangat juangnya melambung tinggi seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Fu Xiaoyu mendongak dan meneguk habis wiski di gelasnya dalam sekali teguk. Kemudian, ia membanting gelas ke bar dengan bunyi berdentang keras dan, dengan satu gerakan cepat, mendorong Xu Jiale ke dinding di tepi lantai dansa.
Tubuhnya lebih tinggi dan lebih ramping daripada omega rata-rata, dan kekuatan dorongan ini tak terduga kuat.
Karena terkejut, alkohol pun tumpah ke Xu Jiale.
Namun Fu Xiaoyu tidak memperdulikannya. Ia bisa sangat galak saat marah, mencengkeram kerah baju Xu Jiale dan menekannya ke dinding. Ia mengucapkan sepatah kata demi sepatah kata, "Xu Jiale, perasaanku pada Han Jiangque sudah berlalu. Aku tidak takut kau memberi tahu siapa pun. Aku tahu aku kalah dari Wen Ke dan aku baik-baik saja dengan itu. Tapi aku tidak akan pernah menjadi orang ketiga, apalagi ikut campur dalam hubungan orang lain. Kau mengerti?"
Terdengar suara "krak" yang keras, disertai suara pecahan kaca, saat Xu Jiale mengerang dan kemudian tercium bau samar darah yang bercampur dengan bau alkohol yang kuat.
Fu Xiaoyu tiba-tiba sadar dan melangkah mundur, dan ketika dia menundukkan kepalanya, dia melihat telapak tangan Xu Jiale telah terluka oleh pecahan kaca, dan beberapa tetes darah telah memercik ke kemeja putihnya, membuat noda darah semakin terlihat jelas di bawah lampu yang berkedip-kedip.
Ekspresi Fu Xiaoyu membeku, dan orang-orang di sekitarnya juga terkejut, mengira ada perkelahian. Mereka buru-buru mundur beberapa langkah, dan bartender segera memberikan plester. "Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah kau perlu dijahit?"
“Tidak, hanya goresan kecil,” Xu Jiale tetap tenang, menggunakan tangannya yang lain untuk mencubit kedua sisi telapak tangannya, menghentikan pendarahan.
"A-aku akan melakukannya," Fu Xiaoyu dengan gugup mengambil plester itu, lalu mendekati Xu Jiale. Aroma Alfa Xu Jiale, yang biasanya lebih ringan sebagai herbal, kini terasa lebih pedas, bercampur dengan aroma darah, dan agak menyengat.
"Maaf," Fu Xiaoyu mulai meminta maaf, tetapi begitu dia mengucapkan kata pertama, dia melihat Xu Jiale menatapnya.
Fu Xiaoyu melanjutkan, “Itu karena impulsivitasku.”
"Kurasa aku pantas mendapatkannya."
Xu Jiale tampak agak berantakan, dengan satu sisi kemejanya basah oleh alkohol, dan bercak-bercak darah kecil di mana-mana. Namun, ia masih bisa tersenyum getir.
Dalam keadaan ini, dia tampak agak sedih, tidak seperti dirinya yang biasanya tampan.
Fu Xiaoyu tak bisa menahan diri untuk tidak merasa geli melihat penampilan Xu Jiale saat ini. Untuk meredam pikiran-pikiran anehnya, ia menggigil tanpa sadar, dan Xu Jiale langsung menekannya dengan suara "hisss" pelan. Fu Xiaoyu segera menundukkan kepalanya untuk terus fokus memasang plester.
Melihat sisi wajah Fu Xiaoyu, Xu Jiale tiba-tiba berbisik, “Hei…”
Fu Xiaoyu mengangkat kepalanya untuk menatapnya.
“Aku tahu kau tidak akan melakukan itu,” kata Xu Jiale.
Pernyataan ini agak tiba-tiba, tetapi Fu Xiaoyu jelas memahaminya, meskipun dia tidak menanggapi.
Xu Jiale tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi kenyataannya, ketika Fu Xiaoyu menangkapnya sebelumnya, matanya memerah, bibirnya tertutup rapat, dan dia tampak seganas singa kecil.
Dia dapat merasakan bahwa ini adalah respons stres akibat trauma psikologis yang parah.
Apa yang dialami Fu Xiaoyu? Apakah itu dari keluarganya? Atau dari hal lain?
Mungkin profesinyalah yang membuatnya tidak dapat menahan rasa ingin tahu.
.
.