Sonya menatap putranya, Erlangga, yang melangkah turun dengan langkah berat dan wajah lesu. Sudah beberapa hari ini ia memperhatikan perubahan sikap Erlangga, namun kali ini putranya terlihat lebih murung daripada biasanya.
“Ada apa, Nak?” tanya Sonya lembut sambil menyodorkan secangkir teh hangat ke meja di depannya.
Erlangga mendesah, lalu duduk di sofa tanpa mengangkat wajahnya. “Aku sudah memikirkan semuanya, Ma. Aku nggak mau menikah.”
Sonya tersenyum kecil, seolah sudah menduga bahwa putranya akan mengatakan hal ini. "Kamu tidak punya alasan untuk menolak menikah, Erlangga. Apalagi setelah skandal yang kamu buat. Ini demi nama baik keluarga kita."
Mata Erlangga terbelalak mendengar kalimat itu. Ia berpikir keras, mencoba mencari celah untuk menghindar dari keinginan ibunya. “Tapi, Ma… menikah itu bukan hal yang bisa dipaksakan.”
“Justru itu alasan yang lebih kuat untukmu menikah sekarang, Erlangga.” Suara Sonya tegas. “Kamu tahu, kan, orang-orang mulai membicarakan hal buruk tentang keluarga kita? Kamu harus bertanggung jawab.”
Erlangga tertunduk, meski hatinya bergolak dengan perasaan tak menentu. Tak ada yang bisa ia ucapkan untuk membantah keputusan ibunya.
Sonya kemudian tersenyum, kali ini dengan nada misterius. "Lagipula, Mama sudah menemukan calon yang tepat untukmu."
Erlangga mengangkat alisnya, bingung sekaligus penasaran. “Siapa gadis itu, Ma?”
“Miranti Larasati,” jawab Sonya santai, lalu melanjutkan, “keponakan Mbok Sri.”
Erlangga terperangah, merasa seakan mendengar sesuatu yang salah. "Keponakan Mbok Sri? Gadis kampung itu?”
“Ya,” jawab Sonya, tanpa mengurangi senyumnya sedikit pun. “Miranti adalah pilihan terbaik.”
“Ma, tidak mungkin! Aku tidak mau menikah dengan gadis kampung! Aku bahkan tidak mengenalnya,” protes Erlangga, menatap ibunya dengan tatapan penuh penolakan.
Sonya tidak tampak terpengaruh oleh amarah putranya. “Erlangga, kamu tidak punya pilihan. Ini keputusan yang sudah Mama buat, dan kamu harus mematuhinya.”
Erlangga menarik napas panjang, merasa terjebak dalam keputusan yang tidak bisa ia tolak. Meski hatinya merasa berat, ia akhirnya menyerah pada situasi ini.
“Kalau begitu, pertemukan aku dengan Miranti,” gumam Erlangga setelah beberapa saat, suaranya terdengar lirih. Ia ingin melihat langsung siapa gadis yang akan menjadi calon istrinya.
Sonya tersenyum tipis, merasa senang putranya akhirnya menyerah. “Mama akan mempertemukan kalian seminggu lagi,” ujar Sonya, lalu meninggalkan Erlangga yang termenung sendirian di ruang tamu.
---
Seminggu kemudian, Miranti datang bersama Mbok Sri ke rumah besar itu. Ia tampak sederhana namun anggun dalam balutan kebaya sederhana berwarna pastel. Wajahnya terlihat tenang, meski sebenarnya hatinya sedang berdebar-debar, tidak tahu apa yang akan ia hadapi di rumah besar itu.
Sonya menyambutnya dengan hangat, lalu mengajaknya duduk di ruang tamu. “Miranti, terima kasih sudah datang. Kamu sudah tahu kan, kenapa Tante Sonya memanggilmu ke sini?”
Miranti menunduk malu. “Iya, Tante. Mbok Sri sudah menjelaskan semuanya,” jawabnya sopan.
Erlangga kemudian muncul dari ruang sebelah. Ia memandang Miranti dari ujung rambut hingga ujung kaki, merasa aneh dengan calon istri yang dipilihkan ibunya. Ia tidak pernah menyangka akan berakhir seperti ini—harus menikah dengan gadis yang sama sekali asing baginya.
“Jadi, ini gadisnya, Ma?” Erlangga menatap Miranti tanpa menyembunyikan rasa skeptis.
Sonya mengangguk. “Ya, ini Miranti, keponakan Mbok Sri. Dia akan menjadi istrimu.”
Erlangga memandang Miranti lagi, masih tidak yakin. Dalam pikirannya, ia merasa ada banyak alasan untuk menolak pernikahan ini. Tapi satu tatapan dari ibunya membuatnya bungkam. Ia tahu bahwa Sonya tidak akan mundur dalam keputusan ini.
“Miranti,” panggil Sonya lembut, memecah keheningan yang menegang di antara mereka, “apakah kamu bersedia menikah dengan Erlangga?”
Miranti menundukkan kepala, mencoba menutupi kegugupannya. “Saya… bersedia, Tante.”
Mendengar jawaban itu, Erlangga merasa kecewa sekaligus bingung. Bagaimana mungkin gadis sederhana ini mau menerima pernikahan yang begitu mendadak? Apakah ia hanya mengejar kehidupan mewah, atau ada alasan lain yang belum ia pahami?
Sonya tampak puas dengan jawaban Miranti, sementara Erlangga masih berusaha menerima kenyataan. Sonya kemudian meminta Mbok Sri untuk mengantar Miranti kembali ke rumah mereka, sedangkan Erlangga tetap diam di tempatnya, masih memikirkan tentang pernikahan yang akan terjadi.
—
Erlangga berjalan cepat menuju kamar pembantu di rumah orang tuanya, tempat Miranti tinggal sementara setelah pernikahan mereka. Hatinya masih penuh amarah dan kebingungan. Ia masih sulit menerima pernikahan ini, meskipun tahu bahwa ini adalah keputusan yang dibuat oleh ibunya, Mama Sonya.
Sesampainya di depan pintu, ia membuka pintu kamar itu dengan kasar, tanpa mengetuk. Pintu terbuka lebar, dan Erlangga terhenti di ambang pintu, terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Di sana, berdiri Miranti, masih basah dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk pendek yang menutupi tubuhnya. Pahanya yang putih dan mulus terlihat jelas, sementara bagian atas handuk itu memperlihatkan sedikit lekuk dadanya. Miranti pun tampak terkejut melihat suaminya tiba-tiba masuk tanpa permisi, tapi ia hanya bisa mematung, tak tahu harus berbuat apa.
Erlangga menelan saliva, merasa pikirannya melayang pada hal-hal yang tidak seharusnya. Namun, ia segera menggeleng, berusaha mengendalikan dirinya. Ia memaksa hatinya untuk fokus pada kemarahan dan kekecewaan yang membara dalam dadanya.
“Kamu,” suara Erlangga terdengar dingin, menusuk dan penuh prasangka. “Satu-satunya alasan kamu menerima pernikahan ini… pasti hanya karena kamu ingin hidup mewah, kan?”
Miranti terdiam, merasa tertuduh dan terluka. Mata Erlangga yang penuh kebencian membuat hatinya teriris. Namun, ia berusaha kuat dan menggeleng pelan, mencoba menahan perasaan sakitnya.
“Bukan itu alasannya, Kak Erlangga,” jawab Miranti dengan suara bergetar namun tegas. “Aku tidak menerima pernikahan ini karena uang atau harta.”
“Lalu kenapa?” Erlangga menyeringai sinis. “Kalau bukan untuk harta, kenapa kamu mau menerima pernikahan yang jelas-jelas terpaksa ini? Kamu pasti ingin hidup nyaman, tak perlu bekerja keras, dan menikmati segala yang keluarga ini punya!”
Miranti menghela napas panjang, mencoba meredakan perasaannya. Ia tahu Erlangga tidak akan percaya, tapi ia merasa harus jujur.
“Alasanku hanya satu, Kak. Tante Sonya, ibumu, yang memintaku untuk menikahimu,” ujar Miranti pelan. “Tante Sonya ingin pernikahan ini untuk memperbaiki nama baik keluarga, setelah semua masalah yang terjadi.”
Erlangga mendengus, mendengar nama ibunya disebut. Ia tahu ibunya melakukan ini untuk menjaga martabat keluarga, tapi ia masih tidak bisa menerima bahwa gadis sederhana seperti Miranti adalah bagian dari solusi yang diinginkan ibunya.
“Nama baik keluarga?” Erlangga mencibir. “Jangan sok mulia. Kamu hanya beralasan. Kamu pasti senang dengan kehidupan mewah ini.”
Miranti terdiam, merasa terluka. Ia tahu apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah pandangan Erlangga terhadap dirinya. Meski ia menerima pernikahan ini tanpa pamrih, ia sekarang merasa terjebak dalam tuduhan yang tidak ia inginkan.
Erlangga menghela napas kasar, matanya menatap Miranti dengan penuh kekecewaan dan kemarahan. “Aku tidak butuh seorang istri yang hanya mencari kenyamanan hidup,” ucapnya tajam, sebelum ia membalikkan badan dan menutup pintu kamar itu dengan keras.
Miranti menghela napas panjang, menatap pintu yang tertutup di depannya. Rasanya hatinya semakin teriris dengan tuduhan yang dilemparkan Erlangga. Ia mencoba menenangkan dirinya, tapi perasaan serba salah terus menggelayuti pikirannya.
---
Hari-hari berikutnya, hubungan mereka semakin dingin. Setiap kali mereka bertemu di rumah, Erlangga hanya melontarkan pandangan dingin atau tatapan sinis. Miranti mencoba melakukan yang terbaik untuk beradaptasi di rumah besar itu, membantu Mbok Sri dan mengurus berbagai kebutuhan rumah tangga agar tidak merasa terlalu canggung, tapi sikap Erlangga yang terus meremehkannya membuatnya merasa terasing di tengah rumah itu.
Suatu malam, saat Miranti sedang membereskan dapur, ia mendengar langkah Erlangga yang mendekat. Ia berusaha bersikap biasa, tapi dalam hatinya ada rasa takut Erlangga akan menyudutkannya lagi dengan tuduhan yang menyakitkan.
“Kamu senang kan, bisa hidup di sini? Bisa makan enak setiap hari, tidak perlu kerja keras seperti dulu?” Erlangga bersuara sinis di belakangnya.
Miranti menunduk, menahan tangis yang hampir pecah. Ia merasa sudah cukup sabar menerima tuduhan Erlangga. Kali ini ia berani mengangkat wajahnya, menatap Erlangga dengan mata berkaca-kaca.
“Kak Erlangga,” ujarnya pelan, berusaha agar suaranya tidak bergetar. “Apa yang harus aku lakukan supaya Kakak berhenti berpikir seperti itu? Aku tidak pernah meminta apa pun dari keluarga ini. Aku hanya menerima permintaan Tante Sonya. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik, bukan untuk diriku, tapi untuk keluarga ini.”
Mendengar jawaban itu, Erlangga terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam tatapan Miranti yang membuatnya merasa sedikit goyah, tapi ia tidak ingin memperlihatkan perasaannya.
“Kalau begitu, buktikan,” tantangnya dingin. “Buktikan bahwa kamu memang tulus menerima pernikahan ini, bukan hanya karena ingin hidup enak.”
Miranti terdiam, merasa tertekan dengan kata-kata Erlangga. Namun, ia menatap suaminya dengan tatapan penuh keyakinan. “Aku akan buktikan, Kak. Aku akan bertahan di sini, meskipun Kakak tidak percaya padaku.”