Chapter 15

1135 Words
Di hari berikutnya Keana masih merasa kesepian karena tidak ada siapa pun yang bisa diajak berbicara dan menemaninya. Fatimah selalu sibuk membereskan semua tempat di paviliun besar ini, memasak dan melayaninya sesekali. Meski dirinya tinggal di tempat besar dan megah ini, tapi semua ini bagai penjara baginya. Hanya dikelilingi oleh benteng tinggi tanpa bisa keluar. Sambil menggerutu Keana berjalan menyusuri halaman belakang paviliun sampai ia menemukan sebuah menara dengan kubah berwarna hijau di atasnya. Dengan senang ia berlari menghampirinya, yang membuat kerudungnya berkibar. “Apa bisa naik? Aku ingin melihat dari atas sana,” gumamnya. Seorang pria menghampiri Keana dan membungkuk dengan sebelah tangan di d**a untuk menghormati. “Halo! Kau pasti Akhsan ya?” balas Keana dengan senyum ceria. Mata biru safirnya berpendar cerah, seakan menemukan kembali hal-hal menyenangkan yang telah hilang. Tanpa berani mendongak, Akhsan hanya mengangguk. “Nah! Akhsan, Zayed bilang kau dan Fatimah bisa membantuku selama dia pergi. Jadi, boleh aku naik ke menara itu?” tanyanya sambil menunjuk menara itu. Akhsan menegakkan tubuhnya dan menatap Keana dengan terkejut. Pria itu menggeleng pada Keana dengan tatapan sedikit takut. Akhsan juga mengatakan sesuatu dalam bahasa Arab yang tidak Keana pahami. “Kau bilang apa? Aku boleh naik kan? Boleh ya? Aku sangat bosan, dan hanya ingin melihatnya saja!” Pekik Keana dengan kesal. Dengan wajah merengut Keana berjalan meninggalkan Akhsan dan mendekati menaranya, ia menengadah dengan tatapan takjub. Menara itu seperti memiliki lima lantai, dan Keana harus naik untuk melihat apa pun yang bisa ia lihat dari sana. Ada pintu dari kayu di bagian bawah menara, dan ketika Keana hendak membukanya Akhsan mendekat sambil berbicara dalam bahasa Arab. “Akhsan, kita tidak bisa komunikasi, oke. Biarkan aku masuk.” Keana menarik pintunya, tapi Akhsan menekannya agar pintu tidak terbuka. Sambil berbicara pria itu menggeleng dengan tatapan memohon. Keana yang melihatnya pun merasa ada yang Akhsan sembunyikan darinya. Ia harus menurut dan berbalik. Memutuskan untuk berbalik, Keana pun melangkah dan meninggalkan pintu diikuti oleh Akhsan di belakangnya. Ia melirik pria itu dengan senyum jahil penuh kemenangan. Sambil menghitung dalam hati Keana berbalik kembali dan berlari dengan cepat hingga ia bisa memegang gagang pintu dan menariknya hingga terbuka lalu masuk sambil tertawa senang, bisa mengelabui Akhsan. “Aku ini pandai mengelabui Robin, jadi aku juga bisa membuatmu lengah, Akhsan!” katanya sambil tertawa di dalam menara. Akhsan pun muncul di belakangnya sambil menghela napas dan mengikuti Keana dalam diam. “Ada tangga, aku naik ya.” Keana menaiki tangga dari besi diikuti oleh Akhsan di belakangnya. Mereka terus naik melewati lantai kedua, terus naik sampai di lantai terakhir––lantai lima. Kini mereka berada di puncak menara dengan atap melengkung ke atas membentuk kubah. Ketika membuka pintunya, sapuan angin segera menerpa wajah Keana dan menerbangkan rambut pirangnya yang tergerai dan hanya dijepit oleh jepit rambut milik Zayed yang selalu ia pakai. Membawa langkahnya ke luar dan berpegangan pada pembatas besi, Keana memandang dengan wajah luar biasa takjub yang tak pernah ia tunjukan. Rasa takjub itu bahkan mengalahkan rasa takjubnya pada pernikahan super mewah dan megah yang ia atur untuk orang lain bagai pernikahan di negeri dongeng. Rasa takjub ini sangat berbeda, datang dari hatinya yang menghangat dan getaran aneh di dadanya. Sambil mencengkeram pembatas besi, Keana tersenyum amat cerah seakan mengalahkan sinar mentari. “Akhsan, ini indah sekali,” gumamnya sambil menahan teriakan. Di hadapannya kini adalah pemandangan terindah yang pernah ia temukan. Paviliun yang ada di tengah bukit ini dilingkupi dengan tembok tinggi dan besar, tapi dari atas menara Keana bisa melihat melebihi tingginya benteng. Nan jauh di hadapannya membentang lautan yang luas dengan kapal-kapal layar yang berhenti dan juga berangkat di sebuah pelabuhan. Kapal-kapal yang sangat besar dengan bendera yang berbeda-beda. Semua itu kapal perdagangan antar Kerajaan yang terjalin kerjasama dengan Ghaliah. Lautan bersinar seakan menghipnotisnya. Di sebelah kanannya, terbentang gurun pasir yang cukup luas dengan berbukit-bukit, berwarna kuning dan seakan pasirnya berkerlip-kerlip terkena cahaya matahari. Keana menggigit bibirnya dengan senyum senang bisa melihat pemandangan yang tak akan pernah disaksikan oleh orang-orang di zaman modern. Bangunan-bangunan berlantai dengan atap-atap membentuk kubah pun terlihat. “Heh, kau tidak mengatakan dari sini ada pemandangan menajubkan,” kata Keana seraya menoleh pada Akhsan yang ikut memandang. Akhsan menoleh dan tersenyum dengan pipi bersemu merah. Dilihat dari penampilannya yang biasa dan sederhana, hanya mengenakan dishdasha biru kusam juga turban putih, Akhsan terlihat seperti pria dari keluarga tidak berada. Wajahnya pun hanya terlihat sedikit lebih muda dari Zayed. Tidak ada yang spesial, biasa saja. Tidak semua pria gurun gagah dan tampan, gumam Keana dalam hati yang masih sempatnya memikirkan hal itu. Pengecualian Zayed dan Rasyad, mereka bagai dua malaikat di bumi, tambahnya. “Akhsan, berapa umurmu?” tanya Keana lagi, menikmati terpaan angin sejuk di wajahnya. Akhsan menoleh dan mengerutkan dahi tak mengerti. “Ah, lupakan. Kau tak mengerti bahasaku ya. Fatimah bisa bahasa Inggris meski kacau, tapi setidaknya dia bisa. Kau harus belajar bahasa asing, karena aku tahu Ghaliah ini banyak didatangi para pedagang dari bangsa lain. Kau paham kan?” Akhsan masih tidak menjawab kemudian memalingkan wajahnya agar tidak menatap wajah cantik dan bersinar itu. “Ya ampun, aku tinggal di negeri ini seperti orang gila yang berbicara sendiri. Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Nanti aku minta Zayed jadi translator-ku saja.” Keana menoleh kembali ke depan sambil merentangkan kedua tangannya. “Akhsan, aku mau teriak ya. Tutup telingamu,” katanya lagi. Keana berdeham dan memejamkan mata menikmati kembali angin yang berembus menerpa wajah dan tubuhnya. Dengan rambut pirang dan kerudung di bahu yang berkibar, bibir mungil dan merah yang merekahkan senyuman, Keana terlihat sangat indah membuat Akhsan yang melihatnya buru-buru memejamkan mata. “Aaaakkhh!!” Keana berteriak dengan nyaring dan sekuat tenaga, seakan udara di paru-parunya ia habiskan untuk mendorong teriakannya. Suara teriakannya yang nyaring dan keras terbawa oleh angin yang terus berembus, seakan berdengung sesaat kemudian mengabur. Keberadaan mereka yang di tengah bukit pun membuat suara Keana terdengar sangat lantang. Akhsan yang berada di sampingnya sampai menutup telinga dengan kuat karena kerasnya suara teriakan Keana. “Uhuk! Uhuk! Aku merasa lebih baik,” gumam Keana sambil batuk-batuk. Ia memandang kembali pada pemandangan pelabuhan jauh di sana. “Aku ingin pulang! Aku ingin pulang! Aku rindu London, aku rindu Daddy dan Mommy, aku rindu Robin! Aku rindu pekerjaanku, ponselku, dan akun Instagramku!” Keana terus berteriak sambil tertawa. “Eh, tidak jadi akun istagramnya. Follower-ku kan sedikit, yang komentar juga hanya Robin saja sambil mem-bully-ku.” Keana berbalik dan menatap Akhsan yang terlihat akan pingsan di sampingnya, sambil berjongkok dan menutupi kedua telinganya dengan tangan. Ia tertawa keras melihat pria itu mengorek telinganya. Tawanya berderai dengan merdu dan begitu lepas, membuat Akhsan berhenti mengorek telinganya. “Ayo, Akhsan! Kita turun saja, suaraku sudah serak sepertinya,” kata Keana lagi seraya berbalik dan memasuki kembali menara untuk turun. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD