Jangan Berpikiran Negatif

934 Words
Selena terdiam, duduk di ruang keluarga seorang diri dan menatap lurus ke depan, memperhatikan layar televisi yang sedang menayangkan sebuah film. Sesekali ia menyesap kopi agar membuatnya tetap terjaga. "Lho, kamu belum tidur?" Ia menoleh dan melihat ibu mertuanya yang berjalan dari arah dapur sambil membawa segelas minuman. "Belum, Bu" jawab Selena menggelengkan kepala. "Kenapa? Masih nungguin Radit?" Wulan bertanya, mengangkat satu alis dan berjalan menghampiri Selena. Selena hanya mengangguk, meraih secangkir kopi dan menyesapnya perlahan. "Udh enggak usah ditungguin nanti juga dia bakal pulang. Kan kamu tahu kalau suami kamu sedang ada kerjaan lain, jadi maklum aja kalau sampai jam segini dia belum pulang juga" Wulan menambahkan, berhenti dan berdiri di dekat sofa. "Iya, Bu. Aku paham kok" Selena mengangguk dan menundukkan kepala. "Aku cuma khawatir aja soalnya hpnya mas Radit enggak aktif" katanya menggenggam secangkir kopi yang masih tersisa. Wulan menghela nafas dan mengalihkan pandangan begitu Selena mengatakan itu. "Paling juga baterainya habis makanya enggak aktif" jawabnya dengan acuh sambil meneguk segelas air yang sedari tadi ia pegang. Lalu ia menoleh dan menatap menantunya yang duduk di sofa. "Udah kamu tidur aja enggak usah dipikirin" Karena tidak ingin berdebat Selena pun mengangguk. "Iya, Bu, setelah ini aku bakal tidur" katanya dengan kepala yang tertunduk. Wulan hanya mengangguk dan menatap Selena sekali lagi sebelum berbalik dan beranjak pergi. Selena pun menghela nafas, mengangkat kepala dan meraih remote. Ia mematikan televisi dan bangkit dari sofa namun tiba-tiba ia tidak sengaja mendengar suara mesin mobil yang dimatikan. Sebuah senyuman terukir di wajahnya saat mendengar suara itu karena ia yakin itu adalah suaminya. Segera ia meletakkan remote di atas meja dan berjalan menuju pintu. Setelah tiba di dekat pintu, ia membukanya dan melihat Radit yang berjalan menghampirinya. "Ternyata kamu udah pulang" Selena berkata menatap suaminya sambil tersenyum. "Kamu belum tidur?" Radit bertanya, mengangkat satu alis dan berdiri di depan istrinya. "Belum, aku sengaja nungguin kamu pulang" jawab Selena menggelengkan kepala. Radit tersenyum dan meletakkan tangannya di bahu Selena. "Seharusnya kamu tidur aja enggak usah nungguin aku. Lagipula, ini kan udah pulang" katanya tanpa melepaskan pandangannya dari Selena. "Iya, aku tahu" Selena mengangguk. "Tapi aku tetap mau nungguin kamu" ia bersikeras. Radit menghela nafas dan menganggukkan kepala. "Ya udah, kalau begitu ayo kita masuk agar kita bisa beristirahat" ajaknya dan Selena mengangguk. Ia pun merangkul bahu wanita itu dan berjalan di sebelahnya. "Kamu udah makan?" Selena bertanya menoleh ke arah pria yang ia cinta. "Udah, tadi aku makan di restoran sama teman aku sekalian ngobrolin usaha itu" Radit mengangguk dan menundukkan kepala. Selena hanya mengangguk dan beralih menatap ke depan sambil terus berjalan di sebelah Radit, tangannya melingkar di pinggang pria itu. "Ngomong-ngomong, aku boleh minta tolong enggak?" Radit bertanya, mengangkat satu alis dan menoleh ke arah Selena. "Boleh" Selena mengangguk. "Kamu mau minta tolong apa?" tanyanya dengan penasaran. "Tolong buatkan coklat panas, ya. Biar badan aku terasa segar lagi" jawab Radit sambil menatap Selena dari samping. "Oke, aku akan buatkan coklat panas untuk kamu" Selena tersenyum dan menoleh ke arah suaminya. Sebuah senyuman terukir di wajah Radit begitu mendengar yang Selena katakan. "Terima kasih ya, sayang" katanya mengecup puncak kepala wanita itu. "Kalau begitu aku ingin mandi dulu" "Sama-sama, Mas. Nanti coklat panasnya aku bawain ke atas" jawab Selena sambil mengukirkan senyuman. Radit hanya tersenyum, menatap Selena sekali lagi dan berjalan menuju tangga. Ia menaikinya namun tiba-tiba ia berhenti. "Oh, iya, aku hampir lupa" ia berkata menoleh ke arah istrinya. "Tolong ambilkan hp aku dong di dashboard mobil tadi aku taruh di sana" "Oke, aku bakal mengambilkannya" jawab Selena menganggukkan kepala. Ia pun berbalik dan berjalan menuju pintu. Ia membukanya dan melangkah keluar menuju mobil Radit yang diparkir di halaman depan. Ia membuka pintu mobil itu dan mengambil ponsel suaminya yang berada di atas dashboard namun dahinya mengerut saat melihat sebuah lipstik yang juga berada di atas sana. Ia mengambil benda itu dan memperhatikannya. "Ini lipstik siapa?" ia bertanya pada dirinya sambil terus memperhatikan benda itu, jantungnya berdebar dengan kencang membayangkan segala kemungkinan yang terjadi. Ia pun kembali menutup pintu mobil, melangkah masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu di belakangnya. Dengan langkah yang cepat ia berjalan ke arah tangga dan menaikinya untuk menuju lantai dua. Setelah tiba di lantai dua ia berjalan menuju kamarnya dan melangkah masuk, melihat Radit yang sedang membuka kemejanya. "Mas, ini lipstik siapa?" Selena bertanya, berusaha untuk tetap tenang meskipun jantungnya terus berdebar dengan kencang. Radit berbalik namun matanya melebar saat melihat sebuah lipstik yang dipegang oleh istrinya. Tatapannya terlihat horor saat melihat benda itu seakan sedang melihat hantu. "Mas, ini lipstik siapa?" Selena mengulangi pertanyaannya dan Radit menoleh ke arahnya. "Oh, itu lipstik teman aku" jawab Radit dengan santai, ia tidak terlihat gugup atau tegang sama sekali. "Tadi aku enggak sengaja ketemu sama dia di restoran dan pas dia mau pulang taksi online yang dia pesan malah enggak datang-datang. Karena kasihan akhirnya aku mengantarnya pulang, kebetulan searah sama rumah kita. Dan pas dijalan dia sempat mengeluarkan barang-barang di dalam tasnya karena dia mencari ponselnya tapi rupanya dia lupa memasukkan lipstiknya lagi" jelasnya kembali membuka kancing kemejanya. Selena terdiam sejenak dan mencoba untuk mencerna yang dijelaskan oleh Radit. "Jadi begitu ceritanya" katanya menganggukkan kepala dan berusaha untuk mendapat kendali dirinya lagi, karena hampir saja amarahnya meledak saat melihat lipstik itu yang berada di mobil suaminya. "Ya udah, aku mandi dulu" Radit berkata dan Selena menoleh ke arahnya. Selena hanya mengangguk dan menatap Radit yang berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar itu. Ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan sedikit kasar. Lalu ia berbalik, melangkah keluar kamar dan berjalan menuruni tangga untuk menuju ke dapur dan membuatkan coklat panas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD