Pagi itu dimulai lebih awal dari biasanya. Jam di dinding masih menunjukkan pukul setengah tujuh, dan langit Jakarta pun belum sepenuhnya cerah, namun Zevan sudah berada di ruang olahraga pribadi dalam gedung apartemennya. Ruangan itu cukup luas. Dinding-dinding kaca yang besar memanjang menghadap ke arah pemandangan kota yang masih berpadu dengan kabut pagi. Sebuah mesin lari berada di sudut ruangan, sepasang beban besi tersusun rapi di raknya, dan alunan musik yang lembut terdengar mengalun pelan dari pengeras suara di sudut ruangan. Butiran keringat mulai menuruni pelipisnya, membasahi kaos hitam yang ia kenakan hingga terlihat sedikit lembap. Tangan-tangan kekar itu baru saja menyelesaikan satu rangkaian latihan beban terakhirnya. “Sepuluh…” ia menghitung dalam hati sembari menarik

