Mata mata

2166 Words

Sore , hujan rintik-rintik turun membasahi Jakarta. Di sebuah kafe nyaman di kawasan Senopati, Citra memilih duduk sendirian, tempat yang sama dengan yang sering ia kunjungi belakangan ini. Ada satu nama yang entah mengapa terus berputar tanpa henti di pikirannya akhir-akhir ini: Zevi. Citra memutar-mutar gelas latte di tangannya, menatap kosong ke arah jendela yang berkabut terkena uap air hujan. Hatinya masih terasa perih. Ditolak oleh Zevan itu satu hal yang menyakitkan, tapi mengetahui bahwa penolakan itu terjadi karena sudah ada orang lain di hati laki-laki itu? Itu jauh lebih menyebalkan dan menyakitkan. Apalagi... Citra tahu betul siapa Zevan. Laki-laki itu bukan tipe yang mudah membuka hati atau membiarkan orang lain masuk ke dalam dunianya. Dulu saja, butuh waktu lama bagi Zev

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD