Malam itu, suasana di apartemen Zevan terasa begitu asing dan berbeda dari biasanya. Biasanya tempat ini selalu hening, sejuk, dan berjalan dengan pola yang tetap: bekerja, mandi, lalu tidur. Selesai. Tidak ada hal lain yang mengganggu rutinitasnya. Namun belakangan ini, rasanya kepalanya seolah tidak pernah benar-benar beristirahat sepenuhnya. Laptop di atas meja kerjanya masih terbuka, menumpuk berkas-berkas hasil pertemuan, tiga usulan kerja sama yang belum selesai diperiksa, serta deretan surel dari para investor yang menunggu balasan. Seharusnya ia bisa fokus menyelesaikan semuanya. Seharusnya. Namun nyatanya, pikirannya justru melayang dan tertancap pada satu sosok. Satu orang yang belakangan ini mendadak bersikap dingin dan menjauh. Zevan duduk bersandar malas di sofa ruang kerj

