Episode 4

1137 Words
Ryan pov *) Aku benar-benar ga tau kesalahan apa yang ku perbuat dulu sampai Tuhan menghukum ku dengan menikahi wanita yang selama ini tak ingin ku lihat wajahnya, tak ingin ku dengar berita apapun tentang dirinya. Tepatnya karena aku sangat membencinya. Dia .... Seorang Pembunuh !!! Dia penyebab adikku meninggal Aku sangat membencinya. Bagaimana mungkin mama dan papa seyakin itu pada dia. Arggg !! Menyebalkan! Dan tadi,ya Tuhan! Apa yang ku lakukan Aku menciumnya. Benar-benar menjijikkan Jika saja tidak dalam keadaan profesional di depan tamu-tamu itu sudah ku usir fotografer yang meminta ku untuk melakukan adegan itu. Sialan !!! Aku menatapnya yang masih sibuk dengan ponselnya setelah beberapa saat lalu berdering. Ya aku berada dalam kamar yang sama dengan nya,dalam kamar yang harusnya ku tempati dengan istri pilihan ku. Bukan dia gadis pembunuh ini. "Lo tidur sofa gue mau istirahat di sini." Kulihat dia membulatkan matanya menatap ku tak percaya tapi tetap menerima selimut yang ku lempar. Tanpa menjawab ku dia mengambil bantal dan pergi, bagus lah aku tak buang-buang waktu untuk mendengar suara nya. Huhhh !!! Rasanya badanku memang merindukan perebahan. Aku penat sekali! Aku capek jadi pusat perhatian banyak orang hari ini Jika punya pilihan lain, aku akan menyewa kamar lain di hotel ini, sayangnya aku tak bisa karena masih banyak penghuni lain di sini, apa kata mereka jika ada yang melihat itu! Seorang Adrian Wijaya kabur dari kamar pengantinnya ???? Apa? Nggak! Bisa-bisa reputasi ku bakal hancur dan itu karena dia !!!! Dia! Kulihat dia dengan santainya tidur meringkuk di sofa Ku yakin besok pagi badannya pasti pegel-pegel . Sukurin! Apa peduli ku !!. Setiap ngeliat dia rasanya luka yang selama ini coba ku obati kembali menganga aku benci keadaan ini.    Oh van ... maafin kakak karena harus menikahi wanita yang mungkin kamu juga sangat membencinya. Flashback !!!!!    "Ca kita main bolanya di belakang yok." "Ayo..." 2 bocah kecil itu berlari kecil menuju halaman belakang rumah keluarga Wijaya. "Jangan deket-deket kolam ya!" triak Adrian melihat kepegian mereka. Dan hanya di balas lambaian keduanya. Ifan sesekali melempar bolanya pada Anisa yang menangkapnya antusias. "Ca tangkep ca ..." Teriaknya Hufff !!! "Yah..bolanya masuk kolam" lirihnya. "Gimana dong Fan,kita ga bisa main lagi dong ..." "Bisa kok kita bisa ambil pake kayu itu" ia menunjuk sebuah kayu panjang didekat tembok.   "Kata ka Ryan jangan deket-deket ke kolam nanti kita jatuh." "Argh ga akan kok lagi pula aku kan cowok,aku bisa renang loh." Irfan mengambil kayu dibantu Anisa dan dia meraih bola nya dengan kayu itu bukanya semakin ke pingiir, tapi malah semakin ke tengah. "Yah ... gimana dong ca?" "Kita minta tolong ka Ryan yok." "Eh jangan nanti dia marahin kita, mending kamu panggil mang Kosim aja lewat sini." "Oke !!" Gadis kecil itu berlari mencari satpam sementara Ifan terus mencoba mendorong bola ke pinggir. "Arrggg" teriaknya namun tak ada yang mendengar Kakinya terpeleset. "Mana non bolanya" "Itu mang dikolam" "Baik non tunggu ya" Mang Kosim langsung berjalan ke kolam renang. "Mang, Ifan kemana ya" "Wah kan tadi sama non" "Iya tadi disini mang" "Mungkin ke depan" "Fan ... Ifann..Ifannn ini mang Kosim mau ambilin bolanya kamu dimana?" Teriaknya pelan. "Astagfirullahall'azim ...." Mang Kosim berteriak histeris dan langsung loncat ke kolam. Ica yang menyaksikan menjadi kaget Bagaimana tidak ternyata tengah sana sahabatnya tengah tenggelam . "Ifann ......" teriak nya . Ryan dan baim yang sedang belajar di ruang tamu yang dapat mendengar teriakkan Anisa Dan .... bagai disambar petir Tubuh nya lemas, pucat, kala matanya melihat siapa yang ada dalam gendongan mang kosim. "Den ... Bagun den ..." Mang Kosim meletakkannya di pinggir kolam Adrian langsung berlari. “Fan… fan bangun fan…” Isaknya panik Mang kosim mencoba menekan d**a Ifan agak keras agar air keluar Sekali-duakali-tiga kali. Bahkan di kasi nafas buatan tapi tak ada hasil nya. "Bawa kerumah sakit sekarang" perintah Baim dan tanpa ba-bi-bu tubuh kecil Ifan langsung dibopong ala bridal oleh ardrian yang saat itu sudah masuk SMP.   Wajah panik terlihat jelas disana Kedua orang tua Adrian sudah di hubungi dan langsung menuju rumah sakit. Adrian jangan di tanya lagi pucatnya apalagi setelah dokter dari tadi belum keluar juga. "Sebenarnya apa yang terjadi ca ..." Tanya Baim menenangakan Anisa dalam dekapan nya. "Ica dan hiks..Ifan..main lempar bola, hiks..bolanya malah masuk kolam , hiks ... Ifan dan Ica coba ngambil tapi ga bisa makanya cari mang Kosim hiks ... dan pas balik Ifan udah ga ada disana , ... Ica ga tau Ifan jatuh"suaranya tersedat tangisnya. "Kakak udah bilang jangan main deket kolam kenapa kalian ga dengerin" bentak Adrian marah. "Maaf..maafin Ica kak hiks .." "Kalau sampai terjadi apapun pada Ifan kakak ga mau maafin kamu !!!" "Yan udah dong,Yan..kasian Ica dia juga takut" Baim coba menengahi. Dan beberapa saat akhirnya pintu terbuka. "Dok bagaimana keadaan anak saya dok, apa dia baik-baik aja" Bu Risma memberondong dengan pertanyaan. “Dok,adik saya ga papa kan” Adrian antusias. Tapi raut wajah Dokter tidak bisa disembunyikannya. "Dok,katakan apapun yang kami siapkan mendengarnya" ujar pak Wijaya tenang padahal sebenarnya dia panik. "Ma..maafkan kami pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolong putra bapak, tapi Allah berkehendak lain padanya." Deg !!!!! "Nggak !! nggak mungkin, dokter pasti salah adik saya masih hidup kan,Dok." "Ifan ...." teriak bu Risma berlari menuju ranjang putranya yang tertutupi selimut di ikuti semuanya. "Fan bangun Fan, jangan tinggalkan kakak." isaknya Ryan . Anisa sudah lemas dan hanya dibantu berdiri oleh baim. "Ifan .." isaknya parau Kilatan merah terlihat jelas di manik mata adrian dengan kasar ia mendorong tubuh Anisa. "Ini semua gara-gara kamu .... kamu bunuh adik aku ..." Teriak nya histeris. "Yan,sabar,Yan." lagi-lagi Baim menengahi. "Ica bukan pembunuh hiks ...." "Pergi kamu dari sini. Aku ga mau liat muka kamu lagi." Adrian mendorong tubuh kecil Anisa hingga kepalanya terbentur ke meja "Yann ... hentikan nak .." pak Wijaya menahan putranya. "Ica ... !!" Teriak Baim panik melihat darah segar mengalir di kening gadis itu dan gelap .. Ica merasa benar-benar gelap. "Ica dimana ..." "Ca ... kamu udah bangun sayang." "Ifan! Ica mau liat Ifan om." "Tenang sayang..Ifan sedang di urus jenazah nya, kamu diam aja disini." Tangisnya kembali pemanasan mengingat apa yang terjadi pada sahabat nya. "Ica bukan pembunuh om ... hiks." "Iya nak, om tau Ica anak baik, kak Ryan cuma emosi ,, sekarang Ica istirahat ya om mau urus jenazah ifan dulu." dibelainya rambut panjang Anisa lembut seperti anaknya sendiri. "Ica ikut om ... Ica mau lihat! " "Ca ... jangan sekarang ya, Ica kan tadi liat gimana marahnya kak Ryan jadi Ica istirahat aja dulu sini" pintanya. "Om ga marah sama Ica kan .." "Enggak nak ....Im,tolong temani Anisa dulu ya." "Iya om." Ica baru menyadari ada Baim disana "Ica sama kakak aja dulu ya, nanti kita ke sana bareng." Ica mengangguk mengiyakan sementara pak Wijaya sudah ngacir pergi pergi ke jenazah Ifan Putra bungsu nya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD