Batas Rindu

525 Words
(POV Naya) Naya tulis surat itu di hari paling sejuk. Meski pagi menyingsing, tapi anginnya kian tak bergeming. Ia tak kan menulis itu untuk siapapun. Untuk dibuat dengan penuh merah merona, berbunga, dan dikirim secepatnya? Tidak. Ini tak sepenuhnya untuk seseorang di sana. Bisa saja untuk dirinya sendiri. Lima belas hari menjelang ulang tahun Genta. Apa kau mengingatnya? Langit tak membisikkan kabar satupun tentangmu. Pun aku yang masih tak jujur dengan diri sendiri. Meninggikan gengsi, untuk sekedar menyapa "Kamu, apa kabar?" Bila hatimu di sana rindu, jangan tanya hatiku. Bila kau di sana lelah menabung rindu, pun jangan tanya aku. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. Begitu kata salah seorang penyair favoritmu. Angin pagi kembali membelai baju navynya. Seakan mengajak lembut untuk duduk pada sebuah taman paling teduh. Tentu di sana tidak ada Genta. Karena kamu sudah ada kemanapun aku pergi. Aku menemukanmu. Dalam wujud lain yang tak seorangpun tahu. Naya pejamkan matanya menikmati kembali semilir angin. Di tangan kanannya ada sebuah pena. Dan tangan kirinya, buku catatan bergambar mega dengan senyum merona. Ia bersiap diri menuliskannya tentang seseorang nun jauh di sana. Tentang sebuah surat yang tak 'kan pernah ia kirim. Tentang sebuah aku yang aku. Tentang sebuah kamu yang kamu. Tentang kita? Naya seperti memilih tak tahu. Untukmu di manapun kamu "Kamu, apa kabar?” Setelah berbagai gejolak diri, akhirnya aku berani menuliskan tiga kata ini. Tiga kata yang terlihat mudah tapi susah. Susah tapi mudah. "Kamu, apa kabar?" Aku tak yakin kamu mengingatnya. Ya, lima belas hari menjelang ulang tahunmu. Ulang tahun yang hakikatnya hilang tahun. Tahun untukmu kian menghilang. Entah, bagaimana kamu akan menerima kehilangan tahunmu. Dengan sepotong kue coklat? Dengan es krim coklat di tepian jalan denganku? Atau dengan bersuka ria menulis puisi dan membacanya untuk anak-anak panti? "Kamu, apa kabar?" Aku mendoakanmu dalam wujud lain. Sebuah surat yang tak 'kan pernah kukirim. Tapi, bukankah saat sebuah tintanya kugoreskan, baru saja kukirim? Malaikat di kanan kiriku, tentu sudah membacanya, 'kan? Tapi jika aku boleh meminta. "Jangan dulu kabarkan padanya aku menulis surat untukmu hari ini, ya Malaikat." Pun sebuah pesan yang sama untuk pohon-pohon di sekitar tempatku duduk. Rerumputan, bunga-bunga, dan semilir angin di sana. "Biarkan berlalu apa adanya." Sore mulai menjatuhkan gelapnya. Sebuah tanda Naya harus bergegas diri. Pulang untuk membuat ingatan lain dalam rumah ingatannya sendiri. "Aku akan mendo'akanmu selalu dalam kebaikan. Meski tahunmu kian menghilang. Do'aku tak terbatas waktu." "Kamu, apa kabar?" Kalimat itu luruh bersama daun hijau yang ditakdirkan-Nya jatuh dari pohonnya. Membiarkan diri ikhlas dibawa angin. Dininabobokannya bersama gerimis. Sesekali diterjang hujan. Dijemur mentari, dan melayukan diri. Ia tetap ikhlas berada di tanah yang bukan pohonnya sendiri. Membiarkan busuk diterpa bakteri. Menjadi penyubur tanah, disalurkan akar untuk makanan daun baru yang tumbuh berseri. "Naya...." suara berat khas itu memanggilnya. Tak lain adalah suaminya kini. Bergegas Naya menutup buku catatannya. Memasang ekspresi seolah baik-baik saja. "Kamu lagi ngapain sendirian di taman?" lanjutnya bertanya. "Ouh, ndakpapa, Mas. Disini enak. Sejuk. Bukankah begitu?" Secepat kilat, Naya berusaha mengalihkan perhatian Nata, laki-laki pengusaha sukses ternama itu. Akankah Naya baik-baik saja di sana? Bagaimana dia mampu membawa rindu dan mimpinya melanjutkan pendidikan itu? Apakah Nata benar-benar laki-laki yang baik untuknya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD