Menjauh??

1108 Words
Musim apa yang mendatangkan cinta? Pernahkah kamu bertanya, mengapa orang bisa merasakan jatuh cinta? Dan saat ditanya kenapa engkau jatuh cinta? Orang itu tak bisa menjawabnya. Hanya tergugu. Kelu. Seakan baru belajar bicara. Yang keluar hanya kata, "Aku juga gak tau." Orang-orang berkata jangan pernah menasehati dua hal di dunia ini. Kalau kamu tak ingin capek hati. Satu, orang orang patah hati dan kedua orang yang jatuh cinta. Hahaha. Entahlah, kenapa hal itu jadi semacam nasihat turun temurun. Sedangkan... barangkali aku juga merasakannya. Bedanya aku sendiri bingung. Apakah aku pantas merasakan sakit hati untuk orang-orang yang harusnya kucintai? Sebuah musim tak pernah menunggu kotanya siap sedia. Kota itu sendirilah yang harus selalu siap sedia. Apapun musimnya yang menyapa. Hari itu, sebuah musim semi. Dimana bunga-bunga mekar indah. Pun harum mewangi, dari berbagai bunga yang kutahu ataupun belum kuketahui. Langkahku pelan. Mataku melihat sekitar pohon-pohon lebat. Rerumputan liar, yang entah bagaimana seperti pagar hutan. Tumbuh begitu lebatnya. Jalanan desa adalah pemandangan favoritku. Hari ini jadwal observasiku. Sebut saja begitu. Aku memutuskan untuk mencari loker. Dan kemarin, aku mendapatkannya. Sebuah loker di PT di Bekasi. Kenapa harus aku? Apa wajahku terlihat menyatu dengan alam? Atau... memang aku terlihat pemberani? Berbagai tanya sempat menyergapku. Setelah mengurusi perijinan, aku berangkat pagi itu. Ditemani seorang yang pengalaman mengurusi perijinan. Sempat aku bertanya-tanya padanya tentang proses pembuatan surat-surat yang kubutuhkan. Namun, jawabannya cukup mengejutkan. "Jaman sekarang susah kalau gak pake calo, Mas. Memang begitu sistemnya. Seakan dipersulit. Jadi mau gak mau ya pake calo." Tapi, Genta fokuskan lebih pada apa yang dlihatnya. Sebab prinsipnya tetap dipegangnya. "Ragukan apapun yang kamu dengar dulu, Genta!" Dengan tak sepenuhnya memercayai apa yang didengar, itu akan lebih membuka peluang untuk membaca. Membaca berbagai kemungkinan. Fakta-fakta mengerikan, bahkan yang memang berkebalikan dari awalnya. Itu sangat mungkin terjadi. Pun, kalaupun nanti hasilnya sama dengan apa yang didengar dari awal, itu tak akan salah. Justru makin menguatkan kebenaran itu sendiri. Orang yang menemaninya adalah Pak Kardi. Ia adalah warga sekitar tak jauh dari rumahnya. Cukup terkenal di desanya. Entah atas nama apa, ia memilih jadi calo. Meski terdengar salah, tapi aku coba tetap mendengarkan berbagai sisi lainnya. "Pak, sudah berapa lama Pak Kardi jadi calo gini?" "Sudah hampir tujuh tahun, Mas." Ia menjawab dengan suara beratnya. Tapi tetap terdengar begitu sopan dan lembut. "Wah... sudah lama juga, ya. Kalau boleh tahu, kenapa Bapak mau? Maksudnya, Bapak kan pasti bertani seperti warga lainnya. Kenapa mau serabutan jadi calo gini?" "Kalau ingat itu, pasti tiap orang punya kesibukannya masing-masing, Mas. Benar, mayoritas memang berkebun. Petani. Tapi saya juga perlu tambahan," jawab Pak Kardi ramah. "Maksud Bapak?" Genta pura-pura tak tahu. "Iya. Bertani saja tak cukup. Apalagi kalau lagi kena hama. Gagal panen. Deuh, bukannya untung malah buntung. Hitung-hitung skalian bantu orang lain. Kayak Mas-mas ini kan pasti perlu cepet kan bikin surat-surat gini? "Hehe iya sih, Pak." "Makanya, calo-calo itu tetap bisa makan." Genta hanya tersenyum mendengarkannya. Kalau urusan idealis dan realita dibenturkan—kadang-kadang, memang cukup diam. Kita tak bisa mudah menjudge mereka tak berguna. Hanya mengotori administrasi. Tapi nyatanya, persoalan membuat surat-surat kepentingan seperti ini memang cukup rumit. *** Setelah diputuskan, Genta makin mantap. Bagaimanapun, ia tak mungkin membiarkan Ibu dan adiknya hanya menahan diri. Menahan dari jeratan ekonomi yang pas-pasan. Bapak yang sudah meninggal dunia. Secara alami, tanggung jawab itu beralih ke pundaknya. Seorang Genta. Sebelum lulus SMA nanti, aku harus mempersiapkannya. Ya, aku harus merantau! "Pria yang baik tak boleh menangis. Cukup menitikkan air mata." Tegarnya. "Kalau menuruti keinginan, aku ingin sekali lanjut kuliah, Bu. Tapi...," ucapku sendiri. "Ah, sudahlah. Seperti nasib yang dipilih Pak Kardi, barangkali memang kehidupan begitu. Memilih pasrah atau menyerah. Tak peduli suka atau tidak." Sesampainya di rumah, Ibu sudah menantinya. Duduk di teras, seakan begitu merindukan anaknya. "Darimana, Genta?" tanyanya lembut. "Ada keperluan, Bu. Tadi habis muter-muter sama Pak Kardi." "Ouh yasudah... pasti capek 'kan? Ibu buatin minum dulu, ya." Ia segera beranjak dari tempat duduknya. "Gausah, Bu. Genta bisa ambil sendiri." "Ndakpapa." Namun, Ibunya tetap berkeras hati membuatkan minum. "Eh, Kakak habis darimana aja? Sukma cariin ko gak ada? Huh!" keluh Sukma yang muncul tiba-tiba dari balik pintu. "Eh, kamu, Dek. Dari luar tadi. Kenapa? Hum? PRnya susah? Uang jajannya kurang?" "Enggak tau. Tapi kurang bangeeet. Eh." "Ssssttt, nanti Ibu denger." Sukma segera duduk mendekatinya. "Kak, Sukma boleh jujur 'kan? Kata Kakak kalau ada masalah apapun mesti cerita." "Iya. Emang harus cerita. Emang kenapa, Dek?" "Jadi... bukannya uang jajan yang kurang. Tapi sebenernya Adek belum beli buku LKS dan buku paket lainnya. Sama SPP juga belum dibayar." "Adek udah coba nyicil harian kalau LKS. Tapi masih belum cukup. Gimana ya, Kak? Adek gaenak bilang sama Ibu...," tutur Sukma. "Ssttt, udah Adek tenang, ya. Kakak ada uang. Nanti bisa pake uang Kakak dulu. Jadi, tetep semangat belajarnya 'kan? Gak ngeluh lagi karena ditagih hutang?" "Beneran, Kak?" "Emang mau diboongin?" "Ih seriusss." "Iya. Kakak juga serius. Udah, buruan masuk. Nanti Ibu lihat lho." "Siap, Kak! Makasih Kakak keliatan keren, deh!" Wajahnya yang kelu, berubah jadi ceria. "Bisa aja ngrayunya. Udah, sana!" "Iya, iya. Adek masuk. Jangan lupa, ya. Adek tunggu lho." Iapun segera terburu masuk ke rumah. "Eh, eh ada apa nih? Apa yang ditungguin?" Ibunya berpapasan dengan Sukma di pintu—hampir saja menabraknya. "Eh, Ibu. Enggak papa, Bu. Sukma cuma kangen berantem sama Kakak. Makanya Adek tunggu berantem lagi. Hehe." "Eh, apaan Kakak Adek gak boleh berantem." "Becanda, Bu. Biasa. Urusan Kakak Adek. Sukma masuk dulu ya, Bu." "Eh, anak-anak. Ada-ada saja." "Biarin, Bu. Lagi seneng dia." "Emang ada apa si? Tadi cerita apa emang? Dapat duit dari sekolahnya? Menang lomba? Atau apa?" "Haha enggak ko, Bu. Gak penting." "Masa gak penting sampai segitunya." "Beneran, Ibuku sayang. Genta mau minum kopinya dulu, ya." "Hmmm, ada-ada saja. Bikin Ibu bingung." "Hehe... Ibu sehat 'kan?" "Tumben nanya begitu. Kayak orang jauh aja kamu, Nak. Kan sudah lihat Ibu sehat." "Ya gapapa 'kan? Biarpun lihat Ibu tiap hari, tapi Genta juga harus pastiin. Ratu di rumah selalu sehat dan bahagia." "Bu... sebenernya memang aku ingin pergi jauh. Tapi aku masih belum yakin. Apakah Ibu akan setuju? Tapi lebih dari itu, apa ada pilihan lain melihat kondisi begini, kalau bukan dengan merantau?" Batinnya ingin menangis. Tapi tertahan. Senyum Ibu sore itu, terasa sakit dan menguatkan. "Apakah cintaku ke mereka akan tetap sama, meski nanti jauh?" Genta meragu. Ragu dan yakin dengan keputusannya. "Bu, sebentar lagi kan Genta lulus sekolah. Ibu pengin apa dari Genta?" tanya Genta ke Ibunya. "Ibu gak pengin apa-apa, Genta. Cukup kamu temenin Ibu dan adikmu di sini. Bersama-sama di sini. Kumpul bareng di desamu ini. Kamu bisa nerusin bertani." Genta jadi semakin ragu akan keputusannya. Apakah ia akan tetap membulatkan tekad untuk merantau?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD