Rahasia Perempuan

1036 Words
Pria itu masih tertegun. Ia seperti seorang manusia dengan setengah kesadaran. Matanya menunduk seakan mencari kesalahan. Bukan hanya mencari, tapi mengutuk dirinya. Wajahnya kian menyedihkan, saat menatap hujan. Menatap hujan membuatnya teringat gadis ajaib penyuka hujan dan malam itu. Ya, tak lain adalah kekasihnya. Naya. Kekasih? Agaknya malam itu adalah jembatan pemutus kasih. Sebuah keraguan kembali dirasakan Genta. Ia merasa minder. Seorang anak petani biasa. Pria realistis, begitu banyak orang menyebutnya. Genta setelah malam itu mengantarkan pulang Naya, ia makin merasa minder. Tanpa sepengetahuan Naya, Ibunya memanggil Genta. "Kamu menyukai anakku, Naya?" tanya Kinanthi. "Iya, Bu." "Lebih baik kamu jauhi dia!" "Kenapa, Bu?" "Kamu tak pantas bersama anak saya!" *** Genta pulang dengan wajah penuh kesedihan. Ia tak bisa mengungkapkan apa yang dirasanya. Lalu, iapun memilih menuliskan sedikit yang dirasanya di buku hariannnya. Genta masih memegang kertas itu. Sebuah kertas ucapan ulang tahun dari kekasihnya. Seorang gadis yang selain pencinta hujan dan malam. Iapun penggila buku. Barangkali, lewat itu mereka bertemu. Dipandanginya kertas ucapan itu. Wajahnya kian menyedihkan. Ditenggelamkan dirinya sendiri. Layu. Dan semakin layu. "Naya, maafkan aku. Kamu hanya tak tau. Ini bukan kemauanku." Gumamnya. "Kumohon, semoga kau mengerti." Malam masih menitikkan bulir bening dan heningnya. Genta melirik jam tangan di tangan kirinya. Pukul sepuluh lebih empat puluh delapan menit. "Aku harus segera menyiapkan makanan malam. Bagaimanapun, Ibu pasti segera pulang ke rumah." Ibunya Genta adalah seorang janda sederhana. Laras, namanya. Sehari-hari ia bekerja sebagai petani. Itupun bukan sawah miliknya. Bahkan, terkadang sampai larut seperti malam ini. Genta menaruh kertas ucapan ulang tahun kekasihnya di atas buku harian yang tak jadi ditulisnya. Ia segera ke dapur menyiapkan makan malam untuk ibunya. Namun, prinsip yang dipegangnya, sangat mengagumkan. Perempuan dengan keyakinan dan nilai-nilai luhur di wajahnya. *** "Darimana saja kamu, Nak?" sapa Ibunya setelah terlihat capek dari luar. "Tadi kehujanan, Bu." "Sama Naya? Habis jemput dia?" "Ehm, Iya, Bu." "Syukurlah. Semoga baik-baik saja Naya. Kapan-kapan ajak dia kesini, ya?" Genta tertunduk. Wajahnya kembali meraba sedih. Namun, diangkatnya kembali wajah itu. "Sudah tak bisa, Bu. Naya sepertinya gak bisa main ke sini nemenin Ibu." "Kenapa sayang? Kalian berantem?" "Entahlah... Genta capek, Bu. Mau ke kamar dulu ganti baju." "Genta sudah masakin buat kamu." "Kamu kenapa, Nak?" *** "Genta!! Besok ke sekolah lebih cepet, ya! Besok ada rapat penting!!" "Alerta!! Alerta!! Besok lo mesti ke sekolah, Bro! Temen-temen nungguin lo!" Berbagai pesan mendarat di ponsel Genta. Namun, ia seperti belum selera membalasnya. Ia buka kembali kertas ucapan dari Naya. Selamat ulang tahun, Genta. Semoga kau tetap merawat satu bunga di halaman matamu. Ia baca dua kalimat itu. Ia terus membacanya. Mungkin, rasanya seperti berbagai benda tajam menusuknya berkali-kali. Ia telah melukai gadis berhati bening itu. Gadis yang tak pantas dilukai sedikitpun. Namun, seakan percuma. Naya dikenalnya sebagai orang yang sabar. Baik hati. Penuh kepedulian. Namun, saat marah... jangan ditanya. Marahnya orang yang sabar, sungguh menakutkan. Itulah mungkin alasan Genta begitu membaca ulang ucapan dari Naya. Apa yang akan dikatakannya kalau dia benar-benar menghilang dari kehidupan Naya? "Kenapa juga aku harus bertemu dengan Ibunya malam itu? Hah?" Genta kesal dengan dirinya sendiri. Terus memaki. Saat kembali memegang kepalanya sendiri. Merenung di meja kamarnya. Sebuah telepon berdering. Tak lain adalah temannya yang tadi mengiriminya pesan. "Hallo, Bro. Lo dimana? Gawat, besok mesti ke sekolah! Temen-temen butuh lo!" "Ada apa?" "Pokoknya lo mesti ke sekolah. Besok jam tujuh pagi. Jangan telat!" Klik. Telepon dimatikannya. "Ish... bikin tambah pusing aja." Gerutunya. Genta kembali menatap kertas ucapan itu. "Maafkan aku sayang." Gumamnya. *** "Naak... makan dulu. Kamu juga belum makan, 'kan?" Suara Ibunya terdengar dari kamar Genta. Tak mau membuatnya kawatir, Genta pun keluar. "Naah, sini makan dulu." "Iya, Bu." "Kamu beneran gapapa, Nak? Wajahmu terlihat lesu. Masih kepikiran Naya?" "Ndak papa, Bu. Genta baik-baik aja." "Naya itu perempuan baik. Hatinya lembut. Sabar. Perempuan sepertinya jangan pernah disia-siakan. Jangan pernah sedikitpun kamu menyakitinya." Genta mendengarkan tutur Ibunya seksama. "Memang, dia sabar, baik, peduli sama orang lain. Namun, saat di hatinya sudah kecewa, perlu ekstra perjuangan mendapatkan hatinya kembali. Itupun kalau masih bisa." "Kamu ingat dulu bagaimana mendapatkan hatinya Naya, 'kan?" "Perempuan sepertinya tak mudah membuka hati untuk orang lain 'kan?" Ibunya bertanya, tapi seakan tak perlu jawaban anaknya. Diamnya Genta sudah jadi jawaban bagi Ibunya. Genta terdiam. Wajahnya masih penuh kekhawatiran. "Sudah... kamu tenang saja. Ibu punya rahasia untukmu." "Rahasia?" "Ya. Rahasia perempuan." "Maksud Ibu?" "Perempuan seperti Naya bukan perempuan sembarangan. Yang bisa luluh hatinya, hanya dengan bunga, puisi, apalagi gombalan tak berisi. Benar 'kan?" Genta memandang Ibunya. Seolah menebak-nebak apa maksud dari yang akan dijelaskan Ibunya. "Perempuan sepertinya itu istimewa. Kamu harus mengerti bagaimana merawat hatinya. Bukan hanya mendapatkannya." "Maksud Ibu? Genta gak paham." "Kamu... sudah besar tapi gak paham tentang cinta. Gimana mau jadi anak yang bener-bener keren?" "Ibu... jangan menyindir. Langsung saja kasih Genta nasehat yang Genta mudah mengerti." "Begini. Kamu harus belajar sabar. Menjaga hati perempuan lebih perlu perjuangan daripada hanya sekedar mendapatkannya. Seperti saat sekarang, kamu ini, Nak." "Kamu ingat dulu bagaimana mendapatkannya? Meraih hatinya yang sulit membuka hati untuk pria manapun?" "Tapi kamu berhasil mengetuk hatinya. Itu artinya, Naya melihat keindahan berbeda dari dirimu, Nak. Kamu ingat-ingat lagi apa itu." "Itu semacam rahasia perempuan. Dalam memandang pria. Tapi, kali ini entah apa masalah yang kamu lakukan ke Naya, kamu harus lebih sabar." "Sudah. Makan dulu yah?" "Oh ya, Bu. Besok aku mau berangkat cepet ke sekolah." "Ada apa? Ada masalah lagi?" "Kata temen sih gitu. Gawat katanya. Ibu tau sendiri temen-temen suka nungguin petuah ku," ucap Genta sedikit melegakan perasaan sedihnya. "Itulah anak Ibu." Dalam benak Genta, berbagai tanya seperti masih menggantung. "Bagaimana mengurai rahasia perempuan itu? Aku sungguh tak mengerti maksud Ibu." Namun, apa yang didengarkannya malam itu semacam resep. Bagaimana nanti ia bicara tentang hubungannya pada Naya. Meski Genta masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Bagaimana cara yang terbaik membicarakan ini padamu, Naya?" Memahami perempuan memang perlu sebuah seni tersendiri. Dan itu, menjadi tantangan tersendiri bagi Genta. Di sisi lainnya, dia masih ingin berjuang bagaimana terus memahami Naya. Namun, sisi lainnya banyak rintangan yang kembali membuatnya bertanya. Termasuk perihal Ibunya. Sebenarnya, ada satu rahasia yang Genta sembunyikan dari Naya. Suatu rahasia yang juga demi kebaikan hubungan mereka ke depannya. Apakah Genta akan mengatakannya pada Naya suatu saat tentang kesalahpahaman nya itu? Dan apa hubungannya dengan Ibunya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD