Kinanthi terdiam. Ia duduk di depan meja makan. Melamun. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin, kecemasan akan suaminya. Ya, Alan sudah tidak pulang ke rumah selama sepekan ini. Keheranan, sekaligus cemas menimpa suasana hati Kinanthi.
Tiba-tiba, Alan pulang.
"Habis darimana saja kamu?" tanya Kinanthi pada Alan yang seketika datang di malam itu.
"Habis ada pekerjaan proyek luar kota. Bosen kerja jadi petani. Capek! Kenapa emang?" jawabnya marah.
"Kenapa tak bilang? Sudah lupa punya anak dan istri?"
"Kamu yah! Suami datang, bukannya ditawari makan, malah dimarahin. Dasar, istri tak berguna!" Alan menampar pipi Kinanthi.
Kecemasan Kinanthi berubah jadi kesedihan yang panjang. Sejak malam itu, Alan kembali tak pulang.
Puncak dari cemasnya adalah ketika malam minggu itu menjadi saksi. Kinanthi sudah mencurigai sejak dini hari. Ada hal berbeda pada suaminya. Ia pun bergegas mengikuti langkah Alan. Ia mengendap-ngendap pelan. Mengikuti jejak langkah suaminya.
Satu hingga berpuluh pekan lamanya, mata Kinanthi memerah. Matanya perlahan menitikkan air mata. Melihat kesedihan yang ada di hadapannya. Terlihat perempuan lain sedang memeluk suaminya penuh mesra. Kinanthi ingin tak percaya, tapi begitulah adanya. Kinanthi mencoba tak langsung marah. Iapun kembali pulang.
Hal itu kembali terulang. Alan datang dan pergi tiba-tiba. Kinanthi mulai kembali curiga.
Melihat Naya sudah tertidur, Kinanthi pun beranjak mengikuti suaminya. Melangkah pelan-pelan, untuk membuktikan.
Meyakinkan diri apakah dia akan menemui perempuan itu kembali? Kemana arah laki-laki berkemeja dan sepatu hitam itu mengayunkan langkahnya? Kenapa begitu rapi?
Dengan terang, di mata Kinanthi menyaksikan. Suaminya kembali b******u mesra di depan rumah wanita lain. Hati kecilnya seakan makin merintih, melihat suaminya kini telah jadi benalu baginya. Bahkan lebih berbahaya dari sekedar itu. Namun, Kinanthi hanya menahan sedihnya. Ia kembali pulang dengan kesedihannya.
***
"Sudah pulang, sayang?" seorang perempuan bermata bulat itu mendekati Alan. Penuh manja.
"Iya, sayang. Kamu sudah nunggu ya?" jawab Alan.
"Iya, gimana? Kamu sudah bawa perhiasan yang aku pengin?" pinta perempuan bernama Lisa itu.
"Sabar ya sayangku, saya akan berusaha sekuat mungkin biar dapat perhiasan terbagus untukmu," Alan menenangkan perempuan itu, sambil mengusap pelan rambutnya.
"Sayang ...,"
"Ya, sayang?"
"Gimana dengan kabar istrimu itu? Apa dia tak marah kamu di sini bersamaku?"
"Tidak, sayang. Aku sudah bosan sama dia. Lebih baik sama kamu yang lebih cantik dan penyayang. Bosan kalau di rumah. Penginnya manja sama kamu aja," jawab Alan sambil bermanja dengan Lisa.
"Bagaimana kalau istrimu nanti tahu, sayang?"
"Ya sudah, tak masalah. Bukannya lebih bagus?"
"Apa?"
"Iya, jadi aku bisa bebas sama kamu, sayangku Lisa." Alan mencium kening Lisa. Penuh mesra.
***
Mata Kinanthi refleks menangis di kamarnya. Meskipun ia sudah berusaha mungkin tak menangis. Meski ia tak tahu, bagaimana caranya bersabar menghadapi semuanya.
Bagaimana ia akan menghadapi semuanya? Apa yang akan dia lakukan kalau memutuskan berpisah dengan Alan? Bagaimana nasib Naya, putrinya? Semua itu membuat Kinanthi stres.
***
"Bu, Bapak kemana? Kenapa gak pulang?" tanya Naya.
"Sudah, tak usah tanya bapakmu lagi! Mending kamu belajar saja, sana!" Bentak Ibu.
Sejak hari itu, Naya tak pernah melihat sedikitpun kelembutan Ibu. Ia justru terlihat semakin pemarah dan emosional.
***
Sakit hati Kinanthi kian bertumbuh. Ia melangkah pelan mendekati perempuan yang tiba-tiba datang ke rumahnya.
"Kamu Lisa, 'kan? Kenapa sendirian begini?"
"Kinanthi ... maafkan aku," dijatuhkannya segera tubuh Lisa memeluk lutut Kinanthi. Memohon maaf.
Kinanthi mengajaknya berdiri kembali. Dengan senyuman penuh, ia berusaha menahan amarahnya.
"Masuklah dulu," Kinanthi mempersilahkannya.
Lisa menggeleng.
"Kenapa? Karena tak sebagus rumahmu? Karena tak semegah rumah yang diberikan Alan padamu?"
"Tidak, Kinanthi. Aku malu. Aku tlah begitu jahat merebut kebahagiaanmu. Aku malu. Aku minta maaf, Kinanthi," tersedu ia mengatakannnya. Air mata tak bisa ditahannya
"Kamu malu? Kenapa tidak dari dulu? Kenapa baru sekarang kamu menyadarinya, Lisa?" bentak Kinanthi.
"Maafkan aku, Kinanthi. Aku hanya mau minta maaf padamu. Alan sudah meninggalkanku, Kinanthi."
"Dia membiarkanku sendirian dengan beban yang sulit. Mungkin ini pembalasan yang tepat dari Tuhan atas kesalahanku. Aku telah tega merenggut kebahagiaanmu. Sekali lagi, maafkan aku, Kinanthi," tangis Lisa.
"Maaf mungkin mudah. Tapi apa bisa mengembalikannya seperti semula? Tidak, bukan? Aku muak melihat mukamu, Lisa! Pergi dari sini! Pergi!! Aku tak peduli dengan semuanya!"
"Kinanthi, dengarkan aku dulu Kinanthi." Lisa memohon.
"Apa yang kau perlukan lagi di sini, Lisa? Kau bisa cari laki-laki lain yang lebih keren daripada Alan!"
"Kinanthi, aku cuma ingin minta maaf."
"Sudahlah. Aku tak ingin membahasnya lagi. Aku mohon, kamu pergi dari sini!" Kinanthi kembali marah.
Naya yang baru pulang dari sekolah melihatnya. Kaget.
"Ada apa, Bu? Siapa perempuan ini? Kenapa dia menangis?"
"Sudah. Kamu anak kecil! Masuk sana!"
"Tapi, Bu."
"Sudah. Ibu bilang masuk!!"
Karena takut, Naya langsung masuk ke dalam rumah. Namun, ia masih penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan Ibu dan perempuan itu. Kenapa ia begitu memohon pada Ibu? Dan kenapa Ibu terlihat sangat membencinya?
***
Matahari mulai jatuh, tapi tak pernah membuat semangat Naya menurun. Sejak beberapa hari yang lalu—sejak ia tak melihat ayahnya--tapi hilang entah dimana, ia mulai melihat lebih pada Ibunya.
Meski pemarah, Naya melihat ada ketulusan dalam tiap tatapannya. Meskipun, ia harus menjalani hari-hari yang menakutkan sejak kejadian itu. Naya selali dimarahi Ibunya. Seolah menjadi pelampiasan atas segala kekesalannya. Ingin sekali Naya bertanya kembali pada Ibunya. "Sebenernya, Ayah kemana, Bu?" Namun, ia takut bertanya kembali tentang Ayah.
"Habis dari mana saja kamu, Naya?" bentak Kinanthi.
"Habis belajar kelompok sama Genta, Bu."
"Ngapain masih temenan sama anak gajelas itu?"
"Bu, Genta itu sahabatku yang baik. Dia yang paling mengertiku."
"Baik? Dimana-mana laki-laki sama saja. Hobi membuat perempuan jatuh cinta pada awalnya. Lalu, dalam sekejap menghancurkannya. Apalagi laki-laki miskin seperti Genta. Apa yang bisa kamu andalkan, Naya?" bentak Ibunya.
"Naya senang bersama Genta, Bu. Dia baik."
"Dia baik, karena kamu belum melihat sifat aslinya saja. Nanti kalau dia menyakitimu, Ibu tak peduli!"
"Bu..."
"Ibu larang kamu bergaul dengannya!!"
"Tapi, Bu."
"Kamu pilih menaati Ibu atau pergi bersama Genta?"
"Bukan seperti itu, Bu."
"Naya sayang Ibu."
"Yasudah, kalau seperti itu. Awas kalau masih Ibu lihat kamu bersama Genta! Pilih laki-laki yang berkelas! Bukan laki-laki miskin sepertinya!"
Naya tak mampu lagi berkata. Ia pun pergi meninggalkan Ibunya. Sampai di kamarnya, Naya menangis. Ia selalu bertanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa Ibu selalu memarahiku?"
"Apa karena perempuan itu datang kesini saat itu?"
"Atau ini semua ada hubungannya dengan ayah?"
"Atau, memang Ibu tak sayang padaku?"