Devan juga Kinan sedang menunggu bus datang. Jarak rumah Kinan memang jauh dan hanya bisa menggunakan transfortasi seperti bus umum. Kinan terus memperhatikan Devan yang hanya bersikap acuh. Dari dulu sikapnya memang sudah begitu, hangat pun jika bersama dengan wanita yang ia cintai, dan itu Raya. Tapi itu dulu, tidak sekarang. Sekarang bahkan Devan berubah drastis. Tidak ada kehangatan pada dirinya. Dia seakan dingin seperti dunia es. "Apa kamu yakin mau mengantarku? Lalu, pulang nanti kamu naik apa? Bus hanya lewat sampai jam 6 sore, dan kayaknya bus kali ini adalah yang terakhir," ujar Kinan. "Aku yakin, soal pulang nanti, kamu tidak usah cemas. Aku bisa menggunakan apa saja di sana. Bahkan nebeng pun tidak jadi masalah," jawabnya acuh. Devan memasukkan kedua tangannya ke dalam s

