Meggy POV
8 bulan sudah berlalu, Willy serius menjalani proses pengobatan, tapi dia tak pernah mengabariku, hanya Tante Melly yang terus mengabari mamaku.
Willy semakin membaik, sel kankernya sudah berkurang 90% dan sebentar lagi dia akan sembuh. Syukur pada Tuhan untuk kemajuan kesehatan Willy.
"Bengong lagi deh!" Tegur Olin saat melihatku pagi ini di kelas.
"Aku nggak bengong kok, cuma mikir!" sahutku sewot pada Olin.
"Iya deh cewek cerdas sih ya..??? Jadi mikir terus deh kerjaannya." Ucap Olin datar namun menyindir diriku
"Sudah ah! apaan sih?! pagi-pagi ngajak ribut deh, aku laporin kak Robin lho biar dicium lagi." Sahutku membuat wajah Olin terkejut merona.
"Kamu ini apaan sih?!!" Sahut Olin tersipu malu karena tak menyangka kalau aku sudah mengetahui kisah ciuman mereka di ruang musik.
Kak Robin akhirnya mau bercerita alasan kenapa dia dan Olin seolah saling bermusuhan dan menghindar.
Kelas demi kelas hari ini terus aku jalani seperti hari-hari yang lalu, tapi entahlah hari ini aku benar-benar nggak bisa fokus pada semua pembelajaran hari ini. aku gelisah entah firasat apa, tapi benar-benar membuatku gak tenang.
"Meggy, pulang yuk.." Ajak Olin membuatku kaget, karena ternyata sekarang sudah selesai kelas terakhir. Aku bahkan melewatkan dua kali waktu jeda.
"Yuk! aku capek banget." sahutku lalu segera membereskan buku dan tasku.
"Meg, kamu masih nunggu kak Willy terus ya? Kalo kamu capek ya nggak usah nunggu lagi Meg, lepaskan saja." Ucap Olin menyadarkanku, namun aku menggelengkan kepala.
"Aku nggak capek nungguin kak Willy, cuma nggak tau hari ini aku mendadak gelisah, aku sedari tadi terus merasa nggak tenang Olin. Entah kenapa, seperti akan ada sesuatu yang terjadi." Sahutku dan Olin langsung memelukku mengelus punggungku menenangkan.
"Berdoa Meg, banyak berdoa ya.." ucap Olin lalu melepas pelukan dan tersenyum. Akupun ikut tersenyum lalu kita melangkah keluar kelas.
Terdengar suara ribut yang heboh dan ramai di halaman parkir. Ada seseorang yang sedang dikerubuti oleh banyak orang disini. Ada acara apa ya? Apa ada artis yang diundang ke kampus kami ya???
"Eh ada apa sih? Kok rame banget?" tanya Olin pada seorang mahasiswi yang baru saja melewati kami.
"Ouw, itu Willy yang datang kemari. Dia sudah sehat lho, ajaib ya?!!" Jawab siswi itu lalu berlalu dari kami.
Aku hanya terdiam membeku, tak mengerti. Semua kabar itu seolah halusinasi.
"Willy? Kak Willy maksudnya???" Tanya Olin dan aku hanya diam.
Aku memang tak tahu kapan kak Willy akan kembali ke Indonesia.
"Meg, itu bener kak Willy, Meg! Kak Willy yang kau tunggu berbulan-bulan ini! Dia datang Meg!!!" Seru Olin menunjuk ke suatu arah dengan heboh dan aku menoleh mengikuti arah telunjuk Olin.
Aku semakin membeku saat kulihat sosok kak Willy sedang berjalan mendekat ke arah kami. Tubuhnya kembali berisi dan ideal tegap sempurna sama seperti penampilannya sebelum sakit menyerangnya. Rambutnya juga sudah tumbuh.
Keren. Matanya terus tajam menatapku dan senyumnya mengembang saat semakin mendekat ke arahku.
"AH!!! SAKIT TAU!!!" teriak Olin saat kucubit lengannya.
"Aku nggak mimpi kan Olin? Ini nyata kan? Aku beneran lihat kak Willy kan??? Kamu juga lihat kak Willy nyata kan???" Tanyaku berkali-kali tanpa menoleh ke Olin, hanya terus menatap ke arah kak Willy yang tinggal beberapa langkah lagi sampai dihadapanku.
"Kamu tanya sendiri aja tuh sama orangnya langsung!" Sahut Olin sewot.
"Hai Meg, apa kabar?" Sapa kak Willy berdiri dihadapanku dan tersenyum.
"Hai kak....." Sahutku tapi masih mematung dan tak berhenti menatapnya. Tak percaya sekarang dia nyata dihadapanku.
"WHOEY!!! BENGONG AJA!!!" teriak Olin tepat di telingaku, membuatku kaget dan sakit telinga.
"Apaan sih kamu?! teriak ditelinga, sakit tau!" Ucapku sewot dan menoleh ke Olin sambil memegang telingaku.
"Habisnya kamu gitu sih! malah kaya patung pas ketemu kak Willy. Katanya kamu kangen... pengen peluk lagi... pengen cium-cium lagi.., nih! orangnya sudah di depan mata malah kaya patung, diem aja!" Ucap Olin membuatku merona malu.
Plaak..!
Auchh!!!
Kupukul lengan Olin dan membuatnya berteriak.
"Nggak usah banyak omong deh! Bikin malu aja!" Ucapku tersenyum malu.
"Masih mau berantem sendiri dan nyuekin aku nih???" tegur kak Willy dan membuat aku juga Olin menoleh ke kak Willy dan nyengir bersama.
"Maaf kak.... Habis aku masih nggak percaya kalau kak Willy nyata ada di depanku." Sahutku tersenyum.
"Hmmm... Mungkin kalau kucium, kamu baru percaya ya kalau aku nyata?" Ucap kak Willy menggodaku dan pastinya langsung membuatku merona tersipu.
"Ich...! apaan sih kak??? Ini kan tempat umum!." Sahutku manja.
"Ou..., jadi kalau bukan disini, boleh kucium kupeluk ya? Wah tadinya aku tunggu kamu di luar parkiran aja ya???" Ucap kak Willy masih menggodaku.
"Aish!!! Kalian ini malah kaya gitu di depanku, risih deh lihatnya! jadi kaya nyamuk aja nih aku disini! Aku cabut dulu ya Meg, kak Willy yang anterin Meggy pulang ya." Ucap Olin dan langsung pergi melangkah, sedangkan aku dan kak Willy masih saling menatap dan tersenyum.
"Mau saling menatap terus sampai kapan?" Suara kak Robin mendadak hadir di tengah kami, menyadarkan kami berdua.
"Hai bro.... Akhirnya balik juga ya, kapan sampai di Jakarta?" Sapa kak Robin pada sahabatnya ini sambil menepuk pundak kak Willy.
"Hai bro... Iya nih akhirnya pulang juga. Aku baru aja nyampe, dari bandara aku langsung kemari. Sengaja mau jemput adikmu yang suka bengong ini." Sahut kak Willy membuatku semakin merona.
Kak Robin dan Kak Willy hanya tersenyum bersama menatapku.
"Ya udah kalo gitu aku balik duluan deh, nanti biar aku yang ngomong ke Mom dan Dad, jaga adikku baik-baik ya bro." Ucap kak Robin lalu melangkah pergi, aku hanya melambaikan tanganku pada kak Robin.
"Yuk jalan!" ajak kak Willy dan tak kusangka dia meraih tanganku, kami berjalan ke area parkiran dimana mobilnya terparkir, dengan bergandengan tangan kami sampai ke mobil kak Willy.
"Aku kangen sama kamu Meg." Ucap kak Willy setelah duduk di kursi pengemudi dalam mobil namun tidak langsung menyalakan mesin mobilnya justru menoleh ke arahku.
"Aku juga kangen kak." Sahutku menoleh ke arah kak Willy, dan tanganku di raihnya lagi lalu dikecup dalam dan lama.
Akupun tersenyum, hilang semua gelisah ku yang tadi, kini berganti rasa bahagia dengan perlakuan lembut kak Willy.
Langsung menjemputku saat baru tiba dari Tiongkok, mengatakan rindu padaku, mengecup mesra tanganku. Seolah kami benar-benar pasangan yang sedang menjalin hubungan, padahal kenyataannya kak Willy belum pernah memintaku jadi pacarnya, bahkan kak Willy juga belum pernah menyatakan perasaan cintanya padaku.
Tuk. Tuk. Tuk.
Kaca pintu mobil diketuk oleh seseorang, membuat kami terkejut dan aku lebih terkejut lagi saat melihat bahwa kak Rose yang mengetuk kaca pintu di sisi kak Willy.
************
Mau apa si Rose ini????