Cathrine berjalan menuju ruangan kepala sekolah dengan membawa map yang cukup tebal di tangannya. Sebenarnya ia akan mengurus surat-surat untuk kepindahannya di New York. Ia mendapat tawaran untuk menjadi model di salah satu brand disana, sekaligus melanjutkan sekolahnya disana. Karena tidak mungkin ia harus bolak-balik Jakarta-New York setiap watu.
Ini adalah keputusan terbesarnya yang akan ia ambil. Tadinya Cathrine akan menolaknya karena ada Andrew disini. Tapi saat ini tidak ada alasan lagi baginya untuk tidak mengambil kesempatan ini. Ia juga berharap dengan kepergiannya, Cathrine bisa melupakan Andrew dan mencari kebahagiaannya sendiri.
Tok tok tok
Cathrine mengetuk pintu ruangan kepala sekolahnya sebelum masuk. Setelah dipersilahkan masuk, ia melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu.
“Selamat siang, Pak.”
“Siang, Cath. Ada apa? Tumben kamu ke ruangan Bapak.” Ucap kepala sekolah Cthrine sambil tersenyum. Kepala sekolah Cathrine memang sangat baik, bahkan pada siswi nakal seperti dirinya. Cathrine juga memang cukup dekat dengannya karena Cathrine adalah salah satu OSIS yang pastinya sering bertemu.
Cathrine menyerahkan berkas-berkas kepindahannya, “Pak, saya mau pindah sekolah.”
Kepala sekolah yang bernama Pak Irsyad terkejut mendengar ucapan Cathrine, “Kenapa pindah? Kok dadakan banget? Kamu ada masalah, Cath?”
Cathrine menggelengkan kepalanya, “Enggak kok, Pak. Saya dapet tawaran jadi brand ambassador salah satu brand make up yang cukup terkenal di New York. Jadi biar gak ribet bolak-balik Jakarta-New York, saya mau pindah kesana aja. Disana juga saya juga udah disiapin tempat buat tinggal sama perusahaannya, mereka juga lagi ngurus yang lainnya juga. Jadi saya tinggal ngurus kepindahan saya aja dari sini.”
Cathrine beralasan jika dirinya hanya beralasan seperti itu, ia tidak mungkin mengatakan alasan kepindahannya hanya untuk melupakan seseorang, bukan? Bisa-bisa Pak Irsyad tidak akan mengizinkannya untuk pindah. Jadi hanya ini satu-satunya yang bisa diucapkan dirinya.
Pak Irsyad menganggukkan kepalanya, “Oalah begitu, sebenernya sayang banget kalo kamu pindah. Kamu salah satu siswi berprestasi sama aktif juga di organisasi. Tapi yam au gimana lagi, itu kan udah keputusan kamu. Dan Bapak juga gak bisa halangin ini kalo buat masa depan dan cita-cita kamu.”
“Iya Pak, terimakasih ya. Kira-kira berkasnya kapan siap ya Pak?”
“Paling lama satu minggu udah siap semua. Pasti kamu mau ngurus kepindahan kamu juga kan? Yaudah mulai besok kamu Bapak liburin ya buat ngurus kepindahan ke luar negrinya. Nanti pihak sekolah bakal hubungin kamu kalo berkas dari sekolah udah selesai.”
“Baik Pak, terimakasih ya udah bombing saya selama saya sekolah disini. Mohon maaf kalo saya suka bandel kalo dibilangin hehe sampai ketemu lagi di lain waktu Pak.” Cathrine mengeluarkan cengiran tiga jarinya lalu dibalas kekehan kecil dari kepala sekolahnya.
“Iya Cath, Bapak doakan semoga karir kamu lancar dan bisa sukses.”
“Sekali lagi terimakasih Pak, saya permisi dulu.”
Cathrine keluar dari ruang kepala sekolah dengan hari lega. Sebentar lagi ia akan meninggalkan sekolah ini, dan ia akan mencoba melupakan segalanya. Terlebih Andrew, ia benar-benar harus bisa melupakan laki-laki itu.
Saat sedang berjalan menuju kelasnya, Cathrine melihat Andrew sedang berjalan di depannya sambil memainkan ponselnya sehingga ia tidak memperhatikan jika Cathrine sedang berada di depannya.
Saat Cathrine tepat berada di sebelah Andrew, ia menggenggam tangan kiri Andrew, sontak saja laki-laki itu berhenti berjalan. Cathrine berdiri tepat di sebelah Andrew dengan pandangan kosong lurus ke depan tanpa menatap Andrew yang ada di sampingnya sedikitpun.
Andrew menatap Cathrine dingin, ia belum ingin bertemu dengan Cathrine. Ia ingin melepaskan tangannya dari Cathrine, tapi wanita di sebelahnya malah menggenggamnya semakin erat. Mau tidak mau Andrew jadi tidak bisa bergerak.
“Mau kamu apa sekarang? Aku masih belom bisa buat ketemu kamu saat ini,” ucap Andrew dingin.
Sakit.
Itulah yang saat ini dirasakan oleh Cathrine. kekasihnya tidak ingin bertemu dengannya. Tapi setiap hari malah dengan senang hati bertemu selingkuhannya. Sungguh indah kisah cintanya saat ini, bukan? Ayolah, jangan anggap tulisan in serius. Kalian semua tau sarkasme, bukan?
Cathrine tersenyum miris, ia terdiam beberapa saat untuk mengumpulkan kekuatannya untuk berbicara dengan Andrew. Padahal saat ini Andrew yang melakukan kesalahan, tapi kenapa malah Cathrine yang harus mengumpulkan keberanian di depan wajah tebal Andrew yang terlihat seperti tidak terjadi apapun? Entahlah, mungkin arena Cathrine benar-benar menyayangi Andrew, sedangkan laki-laki itu sebaliknya.
“Tolong, dengerin aku kali ini aja. Aku janji ini untuk yang terakhir kalinya.”
Deg
Jantung Andrew berdetak lebih kencang mendengar ucapan Cathrine. Andrew bingung dengan ucapan terakhir kali yang dimaksud oleh Cathrine. Ini seperti Cathrine meninggalkannya. Dan mungkin Andrew sepertinya belum siap akan hal itu.
Andrew yang awalnya ingin pergi sontak saja langsung terdiam dan mencoba mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh kekasihnya itu. Sejujurnya Andrew sedikit cemas, tapi ia mencoba untuk bersikap tenang untuk saat ini.
“Bisa kita ngomong di taman aja? Ada yang mau aku omongin serius ke kamu.”
Cathrine melepaskan genggamannya dari Andrew lalu berjalan lebih dulu ke arah taman meninggalkan Andrew yang berdiri mematung melihat kepergian Cathrine. Andrew menatap tangannya yang baru saja digenggam Cathrine dengan perasaan hampa.
Cathrine duduk di kursi taman dan Andrew mengekor duduk di sampingnya. Mereka berdua terdiam cukup lama, tidak ada satupun yang mencoba membuka pembicaraan. Cathrine belum ada niat untuk membuka mulutnya, ia hanya menatap lurus kedepan dengan tatapan dingin.
Andrew menatap Cathrine yang saat ini berambut pendek dengan lekat. Ia jelas tau apa arti jika Cathrine sudah melakukan hal besar seperti ini, berarti Cathrine sudah membuat satu keputusan besar. Jujur Andrew sangat menyukai penampilan rambut pendek Cathrine saat ini. Cathrine jadi terlihat lebih cantik dan fresh.
“Aku minta maaf soal temen-temen kamu yang masuk rumah sakit.” Cathrine akhirnya membuka suaranya. Andrew terdiam dan mendengarkan apa yang akan diucapkan Cathrine.
“Aku udah tau hubungan kamu sama Adele.”