Cacha turun dari taksi di depan jalan kecil. Di sana terdapat deretan-deratan ruko dan tempat hiburan. Bimo mengajaknya bertemu di tempat mereka biasa nongkrong. Sebuah kafe berdesain cozy. Mereka betah disana untuk sekedar ngopi dan bertukar pikiran dan cerita.
{Bim, gue udah di sini. Lu masih dimana?]
Cacha mengirimkan pesan chat pada Bimo. Sambil menunggu kedatangan Bimo, Cacha sudah memesan es kopi lemon kesukaannya. Dia memilih tempat duduk di outdoor. Dia kemudian mengecek ponselnya. Dia lupa, kalau dia belum keluar grup obrolan dengan teman-teman kantor.
[Keren sih si Cacha. Dia panutan gue!] sebuah obrolan dengan ratusan notifikasi.
Cacha pun menyempatkan membaca semua obrolan itu sebelum dia keluar dari grup obrolan.
[Panutan apa woyy! Dia sekarang pengangguran]
Sebuah emoticon menangis terpampang. Suasana hati Cacha berubah mellow.
[Dia kan Cuma mengerjakan jobnya sebagai penyiar berita. Kenapa dia harus dapat preasure kayak gitu]
[Lagian Arya Liupani kan banyak koneksinya. Koneksinya pun kuat-kuat. Pekerja macam kita ini bukan tandingannya]
[Betewe, apa Cacha masih punya kesempatan kerja di TV lain. Secara koneksi Pak Arya kuat. Jaringannya juga luas. Aku khawatir Cacha malah bakal susah diterima di TV lain]
“Thanks bro! Lu udah lengkapi kekhawatiran gue!” ringis Cacha membaca obrolan mereka.
[Semoga Cacha diberikan ketabahan dan kekuatan. Gue yakin dia bisa hadapi badai ini]
Tanpa mengucapkan ucapan perpisahan. Cacha akhirnya memutuskan untuk segera keluar grup chat dan menghapus semua chatnya.
Pesanan es kopinya datang. Cacha segera menyeruputnya. Dia berharap semua kekhawatirannya itu segera hilang. Meskipun saat ini dia belum punya rencana ke depan. Dia harus bertemu dengan Bimo dan meminta sarannya. Siapa tahu dia punya jalan keluar. Saat ini yang penting dia segera mendapatkan pekerjaan baru. Tabungannya mungkin masih cukup dua atau tiga bulan ke depan. Sebelum tabungan dia habis, dia harus segera memiliki pekerjaan baru.
Sambil mengaduk-ngaduk es kopinya, beragam pikiran dan rencana mulai bermunculan di benaknya. Ada beberapa stasiun TV yang akan menjadi incarannya. Mona TV, Hope News, dan Brave TV. Semoga saja dia bisa mendapatkan pekerjaan di sana. Pengalaman dan jam kerjanya tentu saja akan menjadi salah satu poin plus.
Tiba-tiba ada sebuah suara yang begitu keras datang. Cacha sampai kaget ketika ada seorang pria duduk di depannya dengan wajah yang begitu tegang. Beberapa saat lamanya, Cacha terkejut melihat kedatangan pria itu.
Pria itu terlihat panik sambil melihat kiri kanan situasi di sekitar mereka. Cacha bersiap untuk menegur pria tidak sopan itu. Sudah mengagetkan dan dia hanya duduk di depannya tanpa mengatakan sesuatu. Raut wajahnya tampak mencurigakan.
“Permisi Pak! Kenapa Anda duduk di sini. Saya sedang menunggu teman saya datang!”
Mendengar pertanyaan dari Cacha, wajah pria itu langsung menatapnya. Sepertinya dia baru sadar kalau dia sudah mengagetkannya karena sudah duduk di sana.
“Biarkan saya di sini lima menit dulu!”
“Hah! Ada apa?” tanya Cacha semakin heran. Gerak-gerik pria itu semakin mencurigakan. Dia tampak gelisah dan terus menerus berusaha menutupi wajahnya dengan topi bisbolnya.
Jiwa penasaran Cacha kumat, dia pun segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan tak lama kemudian, terdengar ada suara keributan dari arah depan. Beberapa orang perpakaian preman terlihat merangsek maju. Sepersekian detik Cacha langsung bisa menyimpulkan kalau pria yang di depannya itu sedang dikejar-kejar preman itu.
Pria itu kemudian memegang kedua tangan Cacha dan menunjukkan wajahnya pada Cacha. Pria itu tersenyum dengan deretan gigi yang putih berkilauan. Sesaat Cacha terpaku dengan pesona senyuman dan ketampanan pria itu. Tapi alangkah terkejutnya ketika Cacha menyadari siapa yang berada di depannya itu.
Belum sempat Cacha bereaksi atas apa yang baru saja ia sadari. Pria itu tiba-tiba memberi kode dengan kedipan matanya.
“Pak Zayyan Dewanta!” lirih Cacha mengenali sosok pria muda berkharismatik itu.
Zayyan Dewanta, putra dari mantan menteri Withan Dewanta. Kenapa pria itu bisa berakhir di depannya dan tengah dikejar-kejar para preman. Jiwa jurnalisnya merasa terpanggil. Mungkinkah ada sesuatu yang sedang menimpa Zayyan dengan serius.
“Terimakasih Sayang!” Suara Zayyan memekik riang.
Tiba-tiba saja Zayyan memeluk Cacha. Tentu saja Cacha kaget setengah mati. Kenapa pula dia dipeluk segala. Apakah dia sedang berpura-pura agar bisa terhindar dari kejaran para preman itu. Cacha bimbang, apakah dia harus diam saja dipeluk atau dia harus menghindar dan mengatakan pada Zayyan kalau dia tidak terima diperlakukan seperti ini. Ini sama saja bentuk pelecehan pada wanita.
“Aku akan berikan kamu imbalan berapapun. Asal kamu mau diajak kerja sama. Please hanya tiga menit saja! Aku sedang dalam masalah besar!” bisik Zayyan di telinga Cacha.
Mungkin bagi orang yang menyaksikan, Zayyan sedang mengucapkan kata-kata romantis untuk Zayyan.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” batin Cacha bergemuruh karena dia tiba-tiba harus terlibat dengan situasi seperti ini. Cacha mencoba mengingat-ingat rekam jejak Zayyan dari pantauan jurnalistiknya. Setahunya, Zayyan adalah anak Pak Withan. Pak Withan sendiri adalah mantan menteri yang sangat bersahaja. Tidak ada rekam jejak yang buruk dari Pak Withan. Namanya bersih dari lingkaran korupsi. Dia juga terkenal dengan sifat dermawannya. Pak Withan dulunya seorang pengusaha tekstil dan sukses. Sepak terjangnya di bidang politik terbilang bersih. Bahkan harta kekayaannya pun itu dari hasil perusahaan keluarganya. Pak Withan juga memiliki sebuah stasiun TV swasta elit. Brave TV.
“Beraktinglah seolah-olah kita pasangan kekasih! Nanti aku akan kasih imbalan yang layak untukmu!”bisik Zayyan sekali lagi.
“Baiklah Sayang! Wah aku senang sekali!” balas Cacha dengan nada bicara kaku dan tidak natural. Dia menepuk-nepuk punggung Zayyan. Aktingnya benar-benar buruk. Cacha benar-benar tidak bisa berakting dengan baik.
“Cacha!”
Cacha kaget dan segera melepaskan pelukannya. Kejadian yang tidak terduga lagi. Bimo datang dan menyaksikan Cacha dan Zayyan sedang berpelukan.
“Bim, lu dah datang!”
Bimo terlihat kaget melihat Zayyan yang belum menjauhkan tangannya dari pundak Cacha. Zayyan kemudian melihat para preman itu sudah menjauh menyisir tempat lain.
“Aku pergi!” Zayyan kemudian bersiap untuk meninggalkan tempat. Tentu saja Cacha segera menghentikannya dengan menahan tangannya.
“Tunggu dulu! Aku pikir kamu gak bakalan lupa dengan imbalannya?” tanya Cacha menagih janji.
Zayyan kemudian mengeluarkan isi dompetnya. Dia mengeluarkan lima lembar uang pecahan serratus ribu dan memberikannya pada Cacha.
“Apa ini? Kenapa imbalannya hanya segini?” tanya Cacha protes. Sebenarnya bukan uang yang ia butuhkan. Dia hanya ingin Zayyan memberinya kesempatan untuk melamar pekerjaan di stasiun TV miliknya dan memilihnya menjadi penyiar berita di sana.
“Saya rasa itu cukup pantas. Lagipula hanya 3 menit saja!” jawab Zayyan dengan tatapan dingin.
“Apa?” Cacha tampak tidak terima karena Zayyan merendahkan martabatnya.
“Lagipula, saya tidak membuang waktumu kan?” kernyit Zayyan arogan. Dia terlihat terganggu dengan sorot mata Cacha yang terlihat mulai tersulut emosi.
“Gue gak butuh duit lu! Gue pikir karena lu anak Pak Withan, gue kira lu bakal sopan dan respect sama orang. Ternyata gue salah!”Cacha mulai blingsatan marah sambil melempar uangnya.
Zayyan hanya mencibir sinis. Dia tidak peduli seberapa marahnya Cacha. Dia kemudian buru-buru pergi dari tempat itu tanpa mengambil uang yang dilempar Cacha.
Cacha misuh-misuh karena dia ditinggalkan begitu saja. Pupus sudah harapannya ingin melamar pekerjaan di Brave TV.
“Cha, ada apa sih? Kenapa kamu bisa berurusan dengan dia?” tanya Bimo heran melihat Cacha yang terlihat kesal.
“Songong tuh orang. Tahu gitu, gue gak bakalan nolongin dia. Biar tahu rasa dia ditangkap preman-preman itu!” sungut Cacha.
“Memangnya apa yang terjadi? Memangnya lu nolongin dia apa?” tanya Bimo kemudian duduk di depan Cacha. Dia siap mendengarkan cerita Cacha.
Kemudian Cacha menceritakan awal kejadiannya pada Bimo. Selesai bercerita, Bimo tertawa sampai terpingkal-pingkal.
“Kok lu ngetawain gue sih Bim. Lu ga prihatin apa sama gue?” sewot Cacha.
“Lagian lu, bantuin orang kagak ikhlas banget. Ya udah lah terima aja. Lumayan tuh lima ratus ribu. Itu gede lho. Cuma tiga menit dan kagak usah cape-cape buang tenaga!” goda Bimo.
“Rese lu, lu kira gue cabe-cabean!” Cacha mencebikkan bibirnya. Hari ini memang hari apesnya mungkin.