Selamat membaca
"Lihat cahaya itu Bram!"
Pekik Abelia kegirangan. Abraham mengikuti arah telunjuk Abelia dan benar saja, cahaya di bawah kaki bukit yang sedang mereka turuni terlihat tak hanya ada di satu titik.
Cahaya yang Abraham yakini berasal dari Kilauan senter yang menyorot ke berbagai penjuru hutan.
Abraham tersenyum lebar. Ada kelegaan di kedua sorot mata nya yang sempat meredup putus asa. Mereka kelaparan, kehausan di sertai rasa lelah yang mengoyak seluruh jiwa raga. Lebih dari dua hari kedua nya tak menyentuh makanan sama sekali. Sedangkan Abelia hanya memiliki sedikit stok air yang ia sisakan khusus untuk Abraham.
Dan kini stok air itu sudah habis beberapa jam yang lalu. Abraham dehidrasi parah. Rasa lapar membuat nya tak lagi mampu untuk melangkah. Beruntung Abelia masih memiliki sisa tenaga untuk menuntun tubuh lemah Abraham, agar tetap berjalan menuruni gunung menuju Pos jaga polisi hutan di awal mereka masuk. Berharap di sana mereka bisa menemukan seseorang untuk mendapatkan pertolongan.
"Ayo samperin, mereka pasti tim penyelamat yang di kirim oleh ibumu." Kata Abel tersenyum senang. Abraham mengangguk sependapat. Lima hari yang lalu mereka masih sempat menggunakan ponsel Abraham sebelum kehilangan daya.
Kini Abraham yakin, sang ibu telah berusaha keras mencari titik menghilang nya ia serta keempat sahabat nya juga sang kekasih.
"Kamu aja Bel, aku gak sanggup kayak nya. Kaki aku udah mati rasa!" Pinta Abraham memelas lelah.
Namun Abelia lagi dan lagi hanya bergeming. Gadis itu menyentuh kedua kaki Abraham lalu berkata bahwa kedua kaki sahabat nya itu baik baik saja. Abraham hanya sedang lelah, dan mulai putus asa sehingga merasa tak memiliki kekuatan untuk berjalan.
"Kamu bisa Bram, aku tak pernah meragukan kemampuanmu dalam hal apapun. Datanglah sebelum mereka memilih rute pendakian di jalur yang salah. Atau kamu tak akan pernah di temukan." Kata Abelia menyemangati.
Abraham mengernyit heran.
"Kita Bel," tegas Abraham menggenggam erat kedua tangan sang sahabat nya yang sedingin bongkahan es. Tangan mungil yang selama tiga hari ini selalu menjadi penopang untuk nya.
Abelia hanya mengangguk pelan tanpa menanggapi nya.
"Kalau begitu lekaslah turun ke bawah sana dan serukan namamu agar tim penyelamat dapat mendengar nya." Perintah Abelia lagi. Abraham mengangguk dan seketika mendapatkan kekuatan nya kembali. Meski sempat heran kedua kaki nya tiba tiba memiliki kekuatan untuk berdiri tegak, Abraham tak memiliki waktu untuk memikirkan nya saat ini. Keselamatan mereka lebih penting dari rasa aneh nya.
"Kamu susul aku pelan pelan saja, jalan nya berlumut. Atau tunggu saja di sini, aku akan kembali untuk menjemputmu." Kata Abraham yang tampak begitu bersemangat saat ini.
"Ya..." Jawab Abelia dengan suara pelan.
"Bram.."
"Ya?" Abraham menghentikan langkah nya lalu memutar tubuh nya dengan cepat. Entah mengapa ia merasakan kesedihan seperti hendak kehilangan seseorang. Padahal jelas kini mereka sudah mendapatkan pertolongan di bawah sana.
"Terimakasih sudah bertahan sampai sejauh ini," ucap Abelia mengulas senyum tipis. "Kamu hebat." lanjut Abelia tersenyum bangga.
Abraham berbalik lalu merengkuh tubuh Abelia hingga amblas di da*da bidang nya.
Air mata nya mengalir tanpa ia sadari. Abraham tak mengerti akan perasaan yang ia rasakan saat ini. Momen tersebut seharus nya mereka rayakan dengan senyum bahagia. Tetapi rasa hampa menyeruak menembus sanubari nya, membuat Abraham enggan meninggalkan Abelia seorang diri menunggu nya.
"Terimakasih juga sudah menjadi penyemangat bagiku. Menemukan jalur kembali ke arah yang benar dan sabar menghadapi sikapku yang terkadang menyebalkan. Aku berhutang segala nya padamu, Abelia Naraya, sahabat terbaikku." Bisik Abraham serak. Kata kata yang begitu tulus dapat Abelia rasakan hingga menyentuh dasar hati nya yang kini hanya menyisakan ruang hampa.
"Pergilah, jangan biarkan perjuanganku sia sia." Ucap Abelia sambil menyelipkan sesuatu ke dalam saku jaket milik Abraham tanpa pria itu sadari. Abraham memakai dua jaket karena cuaca yang terlalu ekstrim. Sedangkan Abelia hanya menggunakan baju kaos juga syal rajut berwarna merah maroon, hadiah ulang tahun nya pemberian Abraham sebulan yang lalu.
Abraham mengurai pelukan nya, lalu merapikan anak rambut Abelia yang menjuntai di balik topi rajut nya.
"Topinya udah kekecilan Bel, nanti aku beli lagi yang baru ya?" Abelia meraba kepala nya dan dapat ia rasakan ketat nya topi rajut tersebut menjerat kepala nya. Itupun juga hadiah pemberian Abraham sebagai oleh oleh kepulangan nya berlibur bersama Alesha.
Abel tak menanggapi namun gadis itu dengan cepat mengangguk. Tangan nya mendorong tubuh Abraham pelan menjauhi nya.
"Cepat turun sana, mereka seperti nya sudah bersiap melanjutkan pencarian." Abraham mengangguk namun sebelum pergi dengan cepat pria itu memberikan kecupan sayang di kening Abelia. Hal yang sering ia lakukan dari mereka masih kanak kanak. Sebagai anak tunggal, Abraham selalu memimpikan seorang adik perempuan. Kehadiran Abelia dan keluarga nya di lingkungan perumahan keluarga Abraham, membuat impian sederhana itu terkabulkan.
Abelia baginya sudah seperti seorang adik perempuan yang sangat ia sayangi.
"Aku turun ya, tunggu aku kembali menjemputmu." Ucap Abraham lembut lalu pamit. Abraham bergegas menuruni jalan yang berbatu juga licin oleh tebal nya lumut yang menempel.
Di bawah bukit terdengar suara suara yang meneriakkan nama mereka satu persatu. Namun nama Abraham lah yang paling gencar di kumandangkan. Sebegitu penting nya pria itu untuk di temukan, sampai sampai mengerahkan ratusan tim penyelamat.
Tak berselang satu menit, terdengar suara seruan Abraham di bawah kaki bukit. Abelia menarik senyum tipis di kedua sudut bibirnya, sehingga menciptakan lengkungan telaga kecil yang selalu membuat siapa saja terpesona.
"Hei! Kami di sebelah sini!" Begitulah suara teriakan Abraham yang masih terdengar jelas oleh Abelia.
"Kamu sudah menemukan jalan pulang Bram, aku senang bisa menuntunmu kembali dengan selamat." Gumam Abelia berbisik pelan. Suara hembusan angin seolah meminta nya segera pergi dari sana. Abelia meraba pipi nya yang basah. Air mata perpisahan memang tak pernah sanggup untuk di tahan, dan seringkali menyisakan perasaan hampa yang luar biasa. Mengalir tanpa di minta dan enggan mengering meski berkali kali ia seka.
Rasa enggan untuk pergi mengusik keteguhan hati nya. Abelia masih berharap semua ini hanyalah mimpi belaka. Tetapi Abelia tak bisa menolak fakta. Siapa diri nya sehingga mampu mengelak dari kuasa takdir.
"Di sebelah sana! Di sana sumber suara nya!" Seruan sahut menyahut di bawah pun kian ramai menuju ke arah Abraham berada. Abelia samar mendengar suara tawa bahagia Abraham yang terdengar garau oleh tangis kelegaan.
"Di sini pak! Kita nemuin satu orang!" Seru seorang pria entah siapa. Yang jelas dia pasti salah satu dari regu penyelamat.
Betapa lega nya pria itu, karena sebentar lagi fajar akan menyapa di balik bukit.
"Saya tidak sendiri pak, ada satu lagi teman saya di atas sana lagi nunggu di jemput. Sebentar saya jemput, jalan nya licin jadi saya suruh menunggu. Di atas pencahayaan nya gak nembus, tolong pinjam senter pak." kata Abraham tanpa jeda.
Abraham khawatir meninggalkan Abelia terlalu lama seorang diri. Wanita itu meski terlihat lebih kuat dari nya, tetap saja Abraham mencemaskan nya.
Saat Abraham kembali naik, ia melihat Abelia berdiri di tempat di mana ia meninggalkan wanita itu. Ada semacam cahaya aneh di belakang tubuh sahabat nya itu. Namun Abraham berpikir mungkin ada regu penyelamat lain, yang memutar jalur hingga muncul di belakang jalan yang baru saja mereka lewati.
Abraham senang ia tak harus naik ke atas untuk menjemput Abelia, karena kedua kaki nya tiba tiba merasakan nyeri yang amat sangat.
"Kita di selamatkan Bel! Kita bakal pulang!" Seru Abraham sambil tertawa bahagia. Kedua tangan nya di angkat melambai saking senang nya. Abel mengangguk dengan senyum manis di bibir nya yang semakin pucat.
"Bukan kita, Bram...."
Jangan lupa masukkan ke daftar pustaka kalian ya guys.
Semoga terhibur
To be continued