Elara tidak tidur malam itu. Bukan karena ia tidak bisa, tapi karena ia memilih tidak. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Tidak tidur karena takut berarti tubuh kalah. Tidak tidur karena memilih berarti tubuh sedang bersiap. Ia duduk di lantai ruang tamu dengan punggung bersandar ke dinding, lutut ditekuk, tangan terlipat longgar di atas paha. Napasnya stabil. Detak jantungnya pelan tapi konstan. Setiap inderanya terbuka—mendengar suara paling kecil, mencium perubahan udara, merasakan getaran yang terlalu halus untuk disebut suara. Di kamar belakang, Raka tidur. Elara sudah memeriksanya dua kali. Napasnya teratur. Tidak ada gelisah. Anak itu tidur seperti seseorang yang merasa aman, dan justru itu yang membuat Elara semakin waspada. Rasa aman yang datang terlalu cepat biasanya dib

