Elara tidak langsung menyerang. Itu kesalahan yang sering dilakukan orang-orang yang baru menemukan keberanian: mereka ingin hasil cepat, dentuman besar, bukti nyata. Arkana sudah berkali-kali menghadapi tipe seperti itu—aktivis, jurnalis, bahkan mantan sekutunya sendiri. Semuanya runtuh karena satu hal: mereka ingin dilihat. Elara tidak. Ia memilih untuk menyentuh kepercayaan, bukan reputasi. Pagi itu, ia duduk di sebuah ruang kerja bersama—co-working space kecil di Jakarta Selatan, tempat orang-orang muda dengan ide besar dan kecemasan tersembunyi berkumpul. Tidak ada yang mengenalnya di sini. Ia bukan Dr. Elara yang kontroversial. Ia hanya seorang perempuan dengan laptop tua dan tatapan tenang. Di sekelilingnya, suara keyboard berdetak seperti hujan ringan. Kopi diseduh. Tawa kecil

