Kereta berhenti di stasiun kecil yang tidak dikenal Elara. Ia turun tanpa rencana. Udara lebih bersih. Bangunan lebih rendah. Lebih sedikit orang. Lebih sedikit sinyal. Itu sudah cukup alasan. Ia berjalan keluar stasiun. Melihat papan kecil: Cisarua. Pegunungan. Kabut tipis. Dingin ringan. Ia menyewa kamar di losmen kecil. Pemiliknya perempuan tua dengan suara keras dan tawa jujur. “Elara? Nama bagus. Dari mana?” “Jakarta.” “Pantes kelihatan capek.” Elara tersenyum. Ia tidak menyangkal. Ia tidur lama. Tanpa mimpi. Tanpa suara. Itu jarang. Dan itu damai. Sore harinya ia berjalan menyusuri jalan kecil. Hutan pinus. Kabut turun. Ia duduk di batu besar di pinggir jalan. Dan di situlah ia melihatnya. Seorang anak kecil. Duduk sendirian. Menggambar di tanah dengan

