Arkana tidak tidur malam itu.
Ia duduk sendirian di ruang kontrol ECHO, dikelilingi layar dan data yang sudah ia hafal di luar kepala. Grafik aktivitas saraf Elara bergerak di monitor tengah, membentuk pola yang semakin tidak stabil.
Gelombangnya tidak lagi mengikuti siklus trauma biasa.
Ia mulai membentuk struktur.
Itu yang menakutkan.
Mekanisme bertahan hidup Elara bukan lagi sekadar reaksi. Ia berevolusi.
Dan Arkana menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa dingin:
Ia tidak lagi berhadapan dengan pasien.
Ia berhadapan dengan sistem.
Sistem yang ia bantu bangun.
Dan kini ia tidak sepenuhnya memahaminya.
Ia memutar ulang rekaman lama.
Elara, lima tahun lalu, duduk di kursi yang sama.
Menangis.
Matanya merah.
Suaranya pecah.
“Aku tidak bisa hidup dengan ini.”
Arkana versi lama memegang tangannya.
“Kita bisa memperbaikinya.”
“Tidak. Kamu hanya bisa menyembunyikannya.”
“Kalau itu menyelamatkanmu—”
“Apa yang kamu selamatkan? Aku… atau versi aku yang kamu mau?”
Arkana menutup video itu.
Ia tidak ingin melihat kelanjutannya.
Ia sudah tahu.
Ia memilih.
Dan sekarang, pilihannya datang menagih.
Pagi itu, Arkana datang ke kamar Elara lebih awal dari biasanya.
Ia tidak mengetuk.
Ia masuk.
Elara sudah bangun.
Ia duduk di ranjang, memandang ke jendela.
“Kamu tahu itu melanggar etika,” kata Elara tanpa menoleh.
Arkana menutup pintu.
Ia menarik kursi.
Duduk.
“Kita harus bicara.”
“Kita selalu bicara. Kamu hanya jarang mendengar.”
Arkana menarik napas.
“Aku akan memindahkanmu ke fasilitas lain.”
Elara menoleh.
Matanya tenang.
“Tahanan yang lebih bagus?”
“Tempat yang lebih aman.”
“Aman untuk siapa?”
“Kamu.”
Elara tertawa pelan.
“Lucu. Kamu selalu mengatakan itu saat kamu takut.”
Arkana menegang.
“Aku tidak akan membiarkan kamu melukai orang lain.”
“Aku tidak melukai mereka. Aku membuka luka mereka.”
“Itu bukan hakmu.”
Elara berdiri.
Mendekat.
Jarak mereka sangat dekat.
“Dan menghapus hidupku itu hakmu?”
Arkana membeku.
Ia ingin menyentuh Elara.
Ingin menenangkannya.
Ingin memeluknya.
Namun ia juga ingin menguncinya.
Dan itu membuatnya takut pada dirinya sendiri.
“Aku akan memberimu pilihan,” katanya.
“Kamu bisa bekerja sama… atau aku akan membuatmu tidak bisa melawan.”
Itu bukan lagi permintaan.
Itu ultimatum.
Elara menatapnya lama.
“Kamu baru saja menjadi musuhku.”
Arkana memejamkan mata.
“Aku lebih suka jadi musuhmu daripada jadi orang yang membiarkanmu hancur.”
Elara tersenyum kecil.
“Kamu sudah membiarkanku hancur. Kamu hanya tidak mau melihatnya.”
Ia berbalik.
Berjalan ke jendela.
“Lakukan saja apa yang mau kamu lakukan.”
Arkana bangkit.
“Mulai hari ini, kamu tidak boleh keluar dari lantai ini tanpa pengawalan.”
Elara mengangguk.
“Jadi sangkarmu dimulai.”
Arkana berhenti di pintu.
“Elara… aku melakukan ini karena aku mencintaimu.”
Elara tidak menoleh.
“Itulah yang paling menakutkan.”
Pintu menutup.
Kunci terdengar.
Dan Elara menyadari:
Cinta bisa menjadi bentuk kurungan yang paling efektif.
Dan sekarang… ia berada di dalamnya.
Sangkar selalu terlihat paling tidak berbahaya dari dalam.
Dinding putih.
Lampu lembut.
Tidak ada jeruji.
Tidak ada rantai.
Hanya aturan.
Dan aturan lebih mudah diterima oleh pikiran manusia daripada paksaan.
Elara duduk di kursinya, memandangi kamera kecil di sudut ruangan.
Ia tahu persis sudut mana yang tidak tertangkap.
Arkana pernah menunjukkannya… tanpa sadar.
Ia menutup mata.
Menarik napas.
Membiarkan pikirannya melambat.
Bukan untuk menenangkan diri.
Tapi untuk membuka ruang.
Sekarang kamu belajar, bisik suara itu.
“Aku belajar karena aku harus,” jawab Elara pelan.
Tidak. Kamu belajar karena kamu mau.
Elara tidak menyangkal.
Ia mulai menyadari bahwa kontrol bukan tentang kekuatan.
Kontrol tentang prediksi.
Tentang memahami bagaimana seseorang berpikir… sebelum mereka tahu apa yang akan mereka lakukan.
Dan Arkana terlalu bisa diprediksi.
Ia takut kehilangan Elara.
Dan orang yang takut kehilangan akan selalu bisa dimanipulasi.
Ketukan di pintu.
“Masuk,” kata Elara.
Arkana masuk membawa tablet.
“Aku akan menaikkan level pembatasan kognitifmu.”
Elara mengangguk.
“Baik.”
Arkana ragu.
“Kamu tidak akan melawan?”
Elara menatapnya.
“Aku lelah melawan orang yang aku cintai.”
Itu tepat.
Arkana melembut.
Ia selalu melembut saat itu.
Ia duduk.
Mulai mengatur sistem.
Dan tidak melihat tangan Elara bergerak.
Satu sentuhan kecil pada kabel data di sisi meja.
Sebuah loop.
Sebuah keterlambatan 0,7 detik.
Tidak cukup besar untuk terdeteksi.
Cukup untuk menciptakan celah.
“Sudah,” kata Arkana.
“Bagaimana rasanya?”
Elara memejamkan mata.
Berpura-pura berkonsentrasi.
“Seperti kabut tipis.”
Arkana tersenyum lega.
“Itu bagus.”
Tidak.
Itu berbahaya.
Karena kabut tidak menghapus.
Ia menyembunyikan.
Dan apa pun yang disembunyikan akan tumbuh.
Malam itu, Elara bermimpi.
Atau lebih tepatnya…
Ia berjalan.
Ia berjalan di lorong-lorong yang tidak ada di fasilitas itu.
Lorong-lorong pikirannya sendiri.
Ia melihat pintu-pintu.
Kenangan.
Ketakutan.
Rasa bersalah.
Dan di ujung lorong… satu pintu yang tidak pernah ia buka.
Ia menyentuh gagangnya.
Rasa sakit menyengat.
Namun ia memutar.
Dan masuk.
Di dalamnya…
Arkana.
Bukan Arkana yang ia kenal.
Arkana dengan mata gelap.
Arkana yang memegang kendali penuh.
Arkana yang tersenyum saat Elara menangis.
Ia terbangun dengan jantung berdebar.
Itu bukan mimpi.
Itu peringatan.
Pagi itu, seorang perawat baru datang.
Namanya Rani.
Wajah lembut.
Mata penuh empati.
“Kalau butuh apa pun, bilang saya ya,” katanya hangat.
Elara tersenyum.
Rani ingin membantu.
Orang yang ingin membantu selalu bisa digunakan.
“Bisakah kamu duduk sebentar?” tanya Elara.
“Tentu.”
“Aku kesepian.”
Itu bukan bohong.
Tapi itu bukan seluruh kebenaran.
Dan Rani tidak melihat bedanya.
Rani datang setiap pagi sekarang.
Dengan senyum yang sedikit terlalu hangat untuk tempat seperti ini.
Dengan suara yang selalu lebih lembut daripada yang seharusnya.
Dengan empati yang tulus.
Dan empati adalah mata uang paling berharga di dunia Elara.
Ia tidak memaksa Rani.
Tidak mengancam.
Tidak memerintah.
Ia hanya membuka sedikit celah dalam dirinya… dan membiarkan Rani masuk.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Rani suatu pagi sambil merapikan nampan sarapan.
Elara menatap jendela.
“Karena aku terlalu jujur tentang apa yang aku rasakan.”
Rani berhenti.
“Perasaan seperti apa?”
“Bahwa banyak orang hidup dalam kebohongan yang menyakitkan mereka.”
Rani mengerutkan dahi.
“Itu bukan kejahatan.”
“Di sini dianggap berbahaya.”
Rani terdiam.
Ia ingin membantah.
Namun ada sesuatu dalam suara Elara yang membuatnya ragu pada sistem… bukan pada Elara.
Itu penting.
Benih keraguan harus ditanam ke arah yang tepat.
“Apa kamu percaya aku berbahaya?” tanya Elara lembut.
Rani menelan ludah.
“Tidak…”
Elara tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Itu saja.
Satu kalimat.
Namun Rani membawanya sepanjang hari.
Malam itu, Rani membuka log sistem.
Bukan karena diminta.
Tapi karena ingin memastikan.
Dan menemukan bahwa akses Elara memang dibatasi lebih dari pasien lain.
Itu tidak adil.
Itu berlebihan.
Dan ketidakadilan adalah bahan bakar terbaik untuk simpati.
Keesokan harinya, Elara terlihat lebih lemah.
Lebih diam.
Lebih rapuh.
Ia tidak berakting.
Ia hanya memilih bagian dirinya yang paling menyakitkan… dan menunjukkannya.
“Aku bermimpi tentang dunia luar,” katanya pelan.
“Seperti apa?”
“Bising. Berantakan. Tapi nyata.”
Rani tersenyum sedih.
“Kamu merindukannya.”
Elara mengangguk.
“Aku rindu menjadi orang biasa.”
Rani menelan ludah.
“Kalau kamu hanya berjalan sebentar di taman… itu tidak berbahaya.”
Itu bukan izin.
Tapi itu langkah.
Elara tidak mendorong lebih jauh.
Ia tahu kapan harus berhenti.
Tiga hari kemudian, Rani datang dengan kartu akses.
Hanya sebentar.
Hanya ke taman dalam.
Tanpa kamera.
Tanpa log.
“Jangan lama-lama,” bisik Rani.
Elara memegang kartu itu.
Tangan Rani gemetar.
Elara menutup tangannya di atas tangan Rani.
“Terima kasih.”
Dan Rani merasa seperti pahlawan.
Itu kesalahan pertamanya.
Taman itu kecil.
Namun udara luar terasa seperti kebebasan.
Elara berdiri di bawah pohon.
Menutup mata.
Menghirup dunia.
Dan untuk pertama kalinya… suara itu terdiam.
Ia sendiri.
Dan itu membuatnya merasa lebih berkuasa daripada sebelumnya.
Namun kekuasaan tidak pernah datang sendirian.
Selalu ada harga.
Dan harga itu akan ditagih.