“Kenapa yang ulang tahun malah cemberut saja dari tadi?”
Arisha menghampiri sang adik ipar yang tengah menikmati sepotong kue ulang tahun. Setelah memotong kue dan mendapatkan ucapan selamat dari semua orang, Zaina justru menepi. Dia menggembungkan pipi saat menyadari jika Arisha memandanginya sejak tadi. Di depan kakak iparnya, dia tidak perlu berpura-pura.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, potongan pertama kue selalu Zaina berikan pada Barra. Jujur saja, dia ingin mengubah kebiasaan itu agar tidak ada lagi harapan dao hati. Kemudian, dia mulai khawatir jika Barra menyadari keanehannya dan mulai bertanya-tanya mengenai ini itu.
Dari pada diinterogasi dengan berbagai pertanyaan, Zaina lebih memilih menjalankan kebiasaan. Toh, hanya sepotong kue. Memang apa yang akan berubah jika dia memberikannya pada orang lain? Dia juga tetap nelangsa karena mimpi yang hancur sebelum perjuangan dimulai.
“Kenapa nyiapin hiasan kayak gini?”
Mata Zaina mengedarkan pandangan ke seluruh tempat. Semua sudut ruangan didominasi dengan warna biru putih. Keduanya warna kesukaan gadis itu. Di setiap meja ada dua tangkai mawar putih. Dia tidak mengerti apa maksud penempatan kedua bunga di vas. Menurut Kamila, Barra yang mengatur segalanya.
Bahkan ada balon berbagai warna dan bentuk. Bukankah ini seperti suasana ulang tahun anak-anak. Belum lagi dengan foto besar Zaina dengan gaun mengembang saat menghadiri acara perayaan perpisahan sekolah menengah atas. Saat itu, temanya memang princess. Jadi, dia memakai gaun yang sedikit berlebihan.
Untuk apa Barra memilih foto yang itu? Padahal banyak yang lebih bagus. Apa dia sengaja ingin mengatakan kalau Zaina memang masih kekanakan meski sudah berusia dua puluh tahun. Selama acara berlangsung, dia bahkan mengumbar senyum pada semua orang. Seolah dia yang sedang merayakan hari bahagia.
Apa Barra tidak melihat bagaimana wajah Zaina sepanjang acara? Zaina terus memperhatikan Barra yang tersenyum dan tertawa tanpa beban. Sementara gadis itu hanyut dalam kekhawatiran karena memikirkan perpisahan mereka yang sudah di depan mata. Sepertinya dia memang sangat menyedihkan.
“Semua ini ide Barra, lho. Kenapa? Kamu enggak suka? Barra bilang kamu yang menginginkan pesta seperti ini.”
“Seharusnya aku tahu. Kak Barra memang paling pintar buat aku sebal.” Arisha tertawa mendengar ada nada protes dalam kalimat Zaina.
“Dia sudah mau pergi. Kamu masih saja ingin berdebat.”
“Bukannya aku yang mau debat, Kak. Kak Barra yang suka cari gara-gara.”
“Apa dia enggak ngasih kado bagus buat kamu? Makanya kamu kesal.”
“Dia memang enggak berperasaan. Harusnya dia bisa milih kado yang lebih bagus.”
“Memangnya apa kado yang dia kasih?”
“Itu ....”
Zaina menghela napas. Tidak mungkin dia mengatakan pada Arisha kalau kado itu masih tersimpan rapi di laci. Dia yang tidak mau memberanikan diri membukanya. Jadi, dia menganggap kalau Barra tidak memberikan hadiah yang menyenangkan. Dia tidak berbohong. Hadiah dari Barra memang membuatnya gelisah.
Tampilan luar yang berupa sebuah kotak kecil membuat Zaina berpikir keras. Apa kira-kira yang Barra siapkan untuk dirinya. Ini adalah kado terkecil yang Barra berikan. Maksudnya secara bentuk. Entah jika mengenai isi. Dia tidak bisa menebak jalan pikiran penjaganya itu.
“Dia belum kasih hadiah buat kamu?” bisik Arisha. Dia mendekat pada Zaina.
“Sudah, tapi belum aku buka.”
“Kenapa belum dibuka?” Arisha melirik Barra yang asyik mengobrol dengan Khafi dan Hilya. “Tapi bukannya kado kami masih belum kamu buka semua?”
“Dia sudah ngasih duluan. Tapi, aku enggak berani buka.”
“Buka saja. Dari pada penasaran. Iya, kan?”
Memang benar apa yang Arisha katakan, tetapi Zaina belum siap untuk membukanya. Sampai saat meninggalkan kamar untuk merayakan ulang tahunnya, dia masih berperang dengan hati. Pada akhirnya, dia belum juga memiliki keberanian tersebut. Jadi, dia menunggu waktu yang tepat.
Suasana ulang tahun Zaina yang hanya dihadiri keluarga sudah mulai sepi. Kamila sudah diantar pulang oleh Dzaky beberapa saat lalu. Sementara yang lainnya masih mengobrolkan entah apa. Zaina ini sekali pergi dan bermanja-manja dengan kasur empuk tercintanya. Namun, urung karena merasa akan bosan.
Untung saja ada Arisha yang sedikit pengertian dan menemani Zaina membunuh rasa jenuh. Sejujurnya, dia masih belum rela meninggalkan Barra. Dia terus memperbaiki pria itu diam-diam setiap kali ada kesempatan. Sayang, Barra bahkan tidak mengajaknya mengobrol sampai saat ini.
Seolah sengaja membuat Zaina kesal, Barra tidak mengucapkan selamat. Tidak juga ketika menerima potongan kue pertama darinya. Kalau tahu akan begini, lebih baik dia tidak memberikan kue itu pada Barra. Dengan begitu, dia tidak mungkin menyesali perbuatannya yang seolah tidak dihargai.
“Lihatlah. Dia bahkan enggak peduli lagi sama aku.”
“Kenapa ngomong gitu? Di antara semua orang, dia yang paling memperhatikan kamu. Kamu tahu sekali. Iya, kan?”
Kedua bahu Zaina terangkat. “Dulu, aku memang sangat yakin. Sekarang kayaknya enggak lagi. Dia juga punya kehidupan sendiri. Mana bisa dia jaga aku selamanya.”
“Apa kalian bertengkar?” tanya Arisha. Zaina tersenyum, lalu menggeleng. “Lalu, kenapa Kakak ngerasa kalau ada yang enggak beres sama kalian?”
“Kami cuma ... berdebat sedikit,” ujar Zaina sambil menyengir.
“Kayaknya enggak gitu. Pasti ada yang terjadi sampai kalian perang dingin begini.”
Zaina memandang ragu pada Arisha. Dia tidak mungkin menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dan Barra. Apa yang akan Arisha pikirkan nanti? Meski tidak memojokkan, sang kakak ipar pasti akan memberikan nasihat panjang lebar. Dia belum berminat untuk menerima petuah sebanyak itu.
Pandangan Zaina kembali mengarah pada Barra. Dia celingukan saat tidak menemukan sosok pria itu. Hanya tinggal Hilya dan Khafi yang mengobrol di sofa. Ke mana Barra pergi? Apa dia pulang? Malam memang sudah cukup larut. Sudah hampir tengah malam, tetapi belum ada yang meninggalkan ruangan.
“Sedang mencariku?” Zaina nyaris berteriak saat Barra berbisik di sampingnya. Dia mendelik pada pria yang kini tertawa itu.
“Mau buat orang jantungan, ya?” tanya Zaina sebal. Barra duduk di sampingnya.
Tunggu dulu! Di mana Arisha? Zaina mencari-cari sosok sang kakak ipar yang tadi mengobrol dengannya. Wanita itu sudah bersama Khafi dan Hilya. Zaina mengerjap. Apa tadi dia melamum? Kenapa dia sampai tidak sadar kalau Arisha pergi? Pikiran benar-benar sedang kacau.
Setelah menghela napas, Zaina mengalihkan perhatian pada pria yang sudah membuatnya menjadi seperti sekarang. Dia meneliti penampilan Barra malam ini. Pria itu mengenakan kemeja pendek putih dengan perpaduan biru di bagian saku dan di ujung lengan. Cocok sekali dengan wajah tampannya.
Baju Zaina juga memiliki warna yang sama. Dia memilih memakai midi dress putih dengan ikat pinggang kain berwarna biru. Dengan penampilan seperti itu, dia dan Barra seakan sangat serasi. Harusnya dia tidak mengikuti saran Kamila yang tentu saja sudah direncanakan oleh seseorang. Entah siapa.
“Kamu saja yang melamun sampai tidak sadar kalau sudah ditinggal sama Arisha,” kata Barra sambil menunjuk Arisha dengan dagu.
“Aku lagi ngobrol sama Kak Arisha, kenapa Kakak malah ganggu kami?”
“Kamu terus melirikku, jadi aku berbaik hati datang ke sini dengan suka rela. Sekarang, kamu malah menyalahkan aku?”
“Palingan kamu hanya sedang curhat. Hayo, kamu bercerita soal aku, ya?” gurau Barra. Namun, membuat Zaina ketat ketir.
Mata Zaina melirik ke kanan kiri untuk memastikan keadaan. Tidak mungkin Barra menempatkan penjaga di sekitarnya, bukan? Lalu, bagaimana bisa dia mengetahui kalau Zaina sedang membicarakannya. Terkadang, gadis itu sedikit takut karena Barra tahu segala hal yang ada di kepala.
Seperti apa yang tengah sekarang. Zaina curiga kalau Barra memang mempunyai bakat untuk membaca hati atau pikiran orang lain, terutama dirinya. Dia menatap Barra dengan mata bulatnya sambil bertanya-tanya. Benarkah Barra memiliki hal seperti itu? Dia jadi penasaran.
“Sepertinya tebakanku benar.” Barra tersenyum lebar. Zaina memutar bola mata.
“Percaya diri banget. Kenapa Kakak ke sini? Bukannya lagi ngobrol sama nenek dan Kak Khafi?” Zaina berhenti sebentar. “Mau gangguin aku lagi?”
“Pikiranmu jelek sekali. Aku sudah berusaha tampil keren malam ini. Kenapa kamu tidak mengomentari kemejaku saja? Bagaimana? Kita terlihat seperti pasangan, kan?”
“Kakak sengaja memakai kemeja itu karena ucapan Kamila?” tebak Zaina.
“Lebih tepatnya, aku yang memberikan saran pada Kamila mengenai pakaian kamu malam ini. Aku memang ahli dalam fashion. Kamu terlihat sangat cantik dengan dress itu.” Barra menggerak-gerakkan tangan di depan tubuh Zaina.
“Kalau tahu bakal kembaran sama Kakak, aku enggak bakal pakai baju ini.”
“Kenapa? Bukannya kamu yang selalu menyukai baju seperti ini?”
Tidak ada bantahan yang mengalir dari mulut Zaina. Perkataan Barra seratus persen sangat akurat. Sejak dulu, gadis itu selalu menyesuaikan dengan Barra. Awalnya dia hanya ingin tampil kompak dengan sang pria. Lalu, lama-lama dia suka membeli baju yang senada dengan Barra. Jika tidak, dia akan memberikan hadiah baju yang sama dengan warna yang dibelinya.
Setelah menyadari hal itu, sekarang Zaina terlihat konyol. Mungkin Barra sedang menganggap dirinya kekanakan. Apa lagi dia jelas-jelas melakukan itu untuk mencocokkan penampilan mereka. Padahal mereka hanya kakak beradik dalam pandangan semua orang.
Helaan napas lolos dari mulut Zaina. Ternyata dia bisa sekonyol itu. Barra terkikik pelan melihat tingkahnya yang tampak lucu. Ditertawakan oleh Barra membuatnya melemparkan tatapan peringatan. Ini hari bahagia, bisa-bisanya Barra merusak pemandangan dengan tawa menyebalkan.
“Kakak yang milih baju ini, kan?”
“Tentu saja. Aku juga yang membelikan semua baju yang dibawa Kamila.”
Tidak heran. Mana mungkin Hilya membelikan baju-baju seperti itu. Barralah yang suka memberikan pakaian yang memperlihatkan sisi kewanitaan Zaina. Dia sudah bisa menebak hal ini saat Kamila datang dengan berkantung-kantung tas belanjaan bermerek. Tidak ada yang akan melakukannya selain Barra.
“Sudah aku duga. Kenapa beli baju sebanyak itu. Kakak mau ganti semua isi lemariku, ya? Sudah bosan lihat aku pakai baju itu-itu saja?”
“Sebenarnya bukan itu alasan utama aku membeli semua baju.”
“Oh, ya? Jadi, apa alasan Kakak? Mau pamer kekayaan?” Barra tergelak.
“Untuk apa pamer? Kamu juga sudah tahu kalau aku kaya. Iya, kan?” Barra memainkan sebelah mata. Zaina mendengkus.
“Jadi, Kakak mau aku ngucapin terima kasih?” sindir Zaina. “Makasih, Kak Barra yang baik hati dan tidak sombong. Sering-sering, ya, kasih hadiah ke aku.” Dia berpura-pura tersenyum, padahal sedang dongkol.
“Jangan pasang ekspresi seperti itu.”
“Kenapa? Ini wajahku. Terserah aku mau berekspresi seperti apa.”
“Aku tahu.” Wajah Barra berubah serius. “Kalau kamu memasang wajah begitu, aku mungkin akan melakukan sesuatu yang akan kamu selalu.”
Hanya dengan kalimat dari Barra itu, Zaina langsung terdiam. Tubuhnya kaku. Dia bisa merasakan jantungnya yang mulai berulah di dalam sana. Demi keselamatan hati, dia berdeham dan mencoba mengembalikan keadaan seperti semula. Dia tidak boleh terbujuk dalam godaan ini.
Akan tetapi, saat Barra mulai mendekatkan diri, Zaina kembali tergoda. Dia menatap mata Barra yang tidak berkedip. Mereka sudah sangat dekat. Gadis itu menahan napas begitu Barra menggenggam tangannya. Dari jarak yang begitu dekat, dia bisa mencium aroma parfum Barra.
“Kalian sedang apa?” Suara itu menghancurkan imajinasi Zaina mengenai Barra. Dia mengembuskan napas panjang sambil berdeham. Entah karena alasan apa dia merasa sangat kecewa.