Tepat pukul setengah tujuh, Serena sudah ada di rumah Aruna, tentu untuk meminta izin pada orang tua Aruna. Aruna ini adalah anak yang susah untuk di ajak keluar, karena restu dari orang tua.
Orang tua dan seorang kakak wanita yang protektif, juga kembaran yang selalu menjaga Aruna, walau sekarang sedang di luar negeri karena pendidikan.
“Bentar doang kok Bun, boleh ya,” pinta Serena merengek pada Alisa, ibunda Aruna.
Serena memang sudah dekat dengan keluarga Aruna. Tidak hanya Serena, tapi Regina dan Isyana pun sudah di anggap keluarga oleh orang tua Aruna.
“Ya udah, jangan kemalaman ya, nanti Ayah Aruna nyariin, mumpung dia lagi keluar sekarang,” ujar Alisa.
Setelah mendapatkan izin, antusias sudah Serena, karena bisa keluar dengan Aruna. Serena langsung menghormat pada Alisa, di kekehi oleh ibu anak tiga itu.
“RUNA BURUAN! MAK LO UDAH NGIZININ!” teriak Serena seperti di hutan.
Untung saja di rumah hanya ada Alisa dan Janeta. Jika ada Arjuna, kembaran Aruna, Serena akan habis di maki-maki karena berisik.
Dengan izin dari Alisa, mereka berdua langsung pergi ke kafe tujuan mereka. Di sana sudah ada Isyana dan Regina yang nyatanya sudah menunggu lama.
Tak hanya ada Isyana dan Regina, di sana juga ada Angga dan beberapa teman Angga, termasuk Tama.
Serena memberhentikan langkahnya begitu melihat Tama yang tengah mengobrol dengan beberapa orang. Karena Serena berhenti mendadak, Aruna pun ikut berhenti, ia menatap sahabatnya bingung.
“Lu ngapa, babi!” protes Aruna.
Yang di tanya, malah membereskan rambut, membawa kaca dari tas kecilnya, lalu mengoleskan sedikit liptin pada bibirnya.
“Gue udah cantik, ‘kan?” tanya Serena dengan senyum merekah.
Hanya helaan nafas yang di berikan oleh sahabatnya itu. “Udah, Lo udah... Kaya Emak-Emak,” celetuk Aruna yang langsung lari.
Serena mendecih kesal karena jawaban dari sahabatnya itu. Tak lama, ia menyusul Aruna dan duduk di tempat yang satu-satunya kosong, dan itu tepat di samping Tama.
Membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bibirnya seolah kelu tak bisa berkata, otaknya mendadak beku. Ia hanya seperti orang bodoh yang bisa melirik kanan-kiri memperhatikan orang mengobrol.
“Hai, gue Tama.” Perkenalan pertama mereka.
Serena menelan ludahnya susah. “Ha...Hai, gue Serena,” jawab Serena.
“Jangan gugup, santai aja, gue gak bakal gigit kok.” Tapi, Tama berbicara seperti itu dengan senyum yang sangat manis.
Serena menggerutu dalam hati. “Iya emang lu gak bakal gigit. Tapi, senyum Lo bikin gue serangan jantung, TAMA!”
Sementara Isyana, Regina dan Aruna malah tersenyum dan bisik-bisik, melihat tingkah Serena yang seperti orang bego.
Sedetik kemudian, ada seorang pria yang baru saja datang, dengan suara bariton.
“Sorry, gue telat.” Yang membuat mata Aruna langsung tertuju pada pria itu. “Eh lu yang tadi, ya?” tanya Putu begitu melihat Aruna.
Aruna tersenyum dan mengangguk sebagai jawabannya.
The still siap-siap untuk manggung. Tentu saja Regina sangat heboh memberi semangat pada Angga, juga Angga yang membucin terlebih dahulu sebelum naik panggung.
Tapi, Angga terlihat celingukan mencari seseorang. “Sayang, kamu nyari siapa?” tanya Regina.
“Aku lagi nunggu seseorang. Bang Haikal gak bisa ikut manggung, jadi aku nunggu pengganti,” jawab Angga.
“Mau di ganti sama siapa? Emang ada yang bisa gantiin Bang Haris?”
“Noh dia orang nya!” tunjuk Angga begitu seorang pria masuk dengan tengil.
Mulut pria itu tidak berhenti mengunyah permen karet, matanya yang genit, tak lupa mengedip jika bertemu gadis cantik.
Regina menghela nafas melihat kelakuan pria itu. Semua orang sudah mengenal dia, pria dengan segudang wanita, alias playboy. Tidak cukup dengan satu wanita, dan selalu berganti pacar.
“Hallo everybody! Nando ganteng sudah sampai dengan selamat,” celetuknya begitu berhadapan dengan Regina dan Angga.
Angga langsung menempeleng belakang kepala Nando. Regina menatap Nando dengan tatapan remeh. “Sayang, kamu yakin? Dia yang jadi gantinya Bang Haris? Bang Haris pemain drum loh, buaya darat kek gini emang bisa? Bisanya kan, mainin cewek,” tutur Regina.
Nando menghela nafas lalu mendekatkan tubuhnya pada Regina. “Gak boleh ngomong gitu dong, sayang!”
“Mau mati muda Lo? Ayo buruan kita ke belakang, bentar lagi tampil!” Dengan cepat Angga menarik tangan Nando sebelum macam-macam pada kekasihnya.
Sementara di kursi penonton, Serena sudah mulai berbincang dengan Tama, tanpa gugup. Saat ini Serena dan Tama sedang membicarakan tentang club’ motor yang Tama ikuti.
“Lo suka banget ya, sama motor?” tanya Tama.
Ya, selain berpenampilan seperti pria, Serena memiliki hobi bermotor seperti kebanyakan laki-laki. Hanya saja, Serena hanya bisa memiliki motor gede saja, tanpa ikut balap-balapan seperti yang lain, alasannya karena sang ayah tidak mengijinkan.
“Suka, tapi Cuma bisa koleksi aja, maunya sih, gue ikut kaya geng motor, terus balap-balapan kaya film yang gue tonton pasti seru!” seru Serena.
“Mau gabung geng motor gue? Ada ceweknya kok. Tapi, kota gak kaya geng motor yang lain yang sering balapan liar, kita cuma balapan di tempat yang emang sering di gunain buat turnamen atau lomba gitu,” jelas Tama.
Ini sebuah kesempatan emas untuk mendekatkan diri dengan Tama. Dengan cara masuk geng motor, ia bisa lebih mengenal Tama.
“Serius boleh ikut? Tapi, gue belum jago sih,” ujar Serena.
“Gak papa, kita gak butuh orang yang handal, lagian kita cuma buat seneng-seneng aja, kok,” jelas Tama.
Akhirnya dengan pikiran bulat, Serena setuju masuk ke geng motor Tama, dan rencananya, mereka besok akan bertemu.
Di sisi lain, Isyana malah sibuk dengan dunia fansgirl nya, dan menghiraukan Aruna yang sudah mulai bosan. Aruna tidak membawa buka bacaan apa pun, sehingga ia tidak tahu harus melakukan apa.
Tapi, begitu the still naik ke panggung dan mulai memainkan lagu, mata Aruna langsung menatap pria yang memegang gitar bass.
Pria yang sudah menolongnya tadi. Tapi, ia malah terganggu dengan pria yang bermain drum, pria itu terus menebar senyum, dan mengedipkan mata ke arahnya.
Buru-buru saja Aruna mengalihkan pandangan menuju Putu lagi. Entah kenapa, daya tarik Putu sangat besar bagi Aruna.
“Run, Lo naksir Putu?” tanya Isyana tiba-tiba.
Aruna tersenyum. “AKHIRNYA... SAHABAT GUE NAKSIR SESEORANG!” teriak Isyana, tapi suara terendam oleh suara musik yang begitu keras.
“Sialan memang!” cibir Aruna.
“Run, tapi lu sama Putu cocok, sama-sama pendiam dan dingin gitu,” celetuk Regina.
“Tapi, biasanya yang pendiam yang dingin tuh, pasti sama yang pecicilan dan sama yang gak bisa diem,” kata Serena yang sudah ada bersama sahabatnya.
“Ah iya, jangan jauh-jauh, ni temen kita aja dia orangnya pecicilan, malu-maluin, dapet cowok yang dingin, cuek dan pemalu,” kata Aruna menyindir Regina.
Sementara yang di sindir, hanya fokus pada Angga yang tengah bernyanyi dengan suara merdu.
Selesai semuanya, mereka ingin pulang dan sudah keluar. Tapi, tiba-tiba Tama mengajak Serena untuk pulang bareng.
“Rena, lu bawa motor?” tanya Tama.
“Enggak, kenapa emang?” tanya balik Serena.
“Gue anterin, ya!” ajak Tama.
Serena mengulum senyum, dengan mata yang sedikit membulat terkejut. Kemudian, ia menatap Aruna yang tengah tertawa dengan Isyana.
“Bentar ya, aku bilang mereka dulu,” pamit Serena.
Akhirnya mereka sepakat kalau Serena bisa pergi dengan Tama. Sekalian pdkt kan, walau dengan ke tidak ikhlaskan dari Aruna yang harus pulang sendiri membawa mobil Serena.
Serena sudah pergi dengan Tama menggunakan motor. Wajah Serena begitu berseri, karena akhirnya ia dekat dengan pria yang selalu ia perhatikan dari jauh.
“Tega kalian, masa gue pulang nyetir sendiri sih, lu tahu kan, gue baru belajar nyetir, gimana kalau tabrakan?” takut Aruna.
“Bego, ya jangan ngomong gitu! Gue mau di jemput Adik soalnya, gak bisa bareng Lo,” kata Isyana.
Otak pintar Regina langsung mendapatkan solusi. Ia langsung berlari ke dalam dan mencari keberadaan anggota the still.
“Ada yang mau nganterin Aruna, gak?” tanya Regina begitu the still sampai di luar.
Mata Aruna langsung melotot tajam yang di tunjukkan pada Regina. Merasa tak terima dengan ide sahabatnya.
“Gue!” ujar Nando.
“Gak, gak usah. Gue pulang sendiri,” tukas Aruna menolak ajuan dari Nando.
“Runa jangan keras kepala! Lo baru belajar nyetir!” teriak Isyana panik, karena Aruna sudah masuk ke dalam mobil.
“Kenapa dah sama dia, masa nolak ajakan cowok ganteng,” keluh Nando.
“Gak, Lo bau buaya!”
Di dalam mobil, Aruna menghela nafas panjang, berdoa meminta keselamatan pada Tuhan.
Saat ia ingin menyalakan mesin, tiba-tiba kaca mobil di ketuk, membuat Aruna terkejut. Aruna membuka kaca, dan melihat Putu yang sudah ada di depannya.
“Turun, biar gue yang Anter Lo,” tutur Putu yang langsung membuka pintu dan mempersilahkan Aruna pindah.
Tak jauh dari sana, Isyana dan Regina senang, akhirnya Putu mau mengantar Aruna walau dengan paksaan.
Tapi di sisi lain, ada Nando yang merasa tertantang karena Aruna sudah berani menolak ajakannya.