7. Pangandaran

1552 Words
"Za, kamu kenapa sih, akhir-akhir ini kaya banyak pikiran?" Tanya Mama saat kami selesai makan malam. "Gak apa-apa, Ma. Eza banyak kerjaan, besok kan Eza ke Pangandaran, sosialisasi." Jawab gue. "Boleh ikut gak Bang?" Tanya Saphira. "Terus Mama siapa yang jagain?" "Oh iya hehehehe!" Suasana duka di keluarga gue perlahan-lahan larut, atmosfer sedih juga sedikit-sedikit menguap. Rasa kehilangan tentu masih ada, hanya saja, kami semua mencoba mengikhlaskan kepergian Papa. Mama juga udah gak banyak nangis, meskipun sesekali, gue melihat Mama memeluk foto Papa. "Eza pergi kira-kira 3 hari, Ma." Kata gue. "Iya, hati-hati, baju udah disiapin?" Tanya Mama. "Udah kok, semua udah siap." "4-an sama yang biasa?" Tanya Mama. "5-an, Ma. Ada tambahan satu orang." "Yaudah, jangan kebut-kebut, yang penting sampenya selamat." Ujar Mama. "Iya Ma, Ara juga udah taro matras di mobil Eza, jadi ada yang bisa tidur buat gantian nyetir nanti." "Bagus kalo Ara udah siapin gitu, udah siap buat perjalanan jauh gitu." Komen Mama. "Dia kan biasa mudik ke Jawa Timur Ma kalo lebaran, jadi pasti tau." "Ayo, tidur gih! Fira juga." Titah Mama ke gue dan Saphira yang dari tadi asik sama ponselnya. "Iya Ma, Eza ke kamar yaa? Dek, cuci piring ya?" "Iya, Bang!" Sahut Fira. Gue mengecup puncak kepala Mama sebelum masuk ke kamar gue, lalu kembali membuka jurnal milik Papa yang gue umpetin di sela-sela baju di lemari gue. Yang gue heranin adalah, kok Mama gak pernah nemu ini jurnal? Padahal kan waktu gue ambil, jurnal ini hanya disimpan di laci kabinet milik Papa. Apa selama ini Mama gak pernah bongkar-bongkar barang pribadinya Papa? Karena ya, gue tau laci tersebut ada isi kamera dan perlengkapan Papa bekerja dulu.   Gue menyingkirkan pikiran tersebut, lalu merebahkan diri di kasur. Gue ambil ponsel gue dan mengirim sebuah pesan ke Kakak gue. Ya, sekalipun gak pernah dibales, atau dibalesnya sebulan sekali, gue tetep selalu kabarin Kakak gue, dan malem ini, gue mau kabarin Kakak gue soal Fathia. Me: Kak Qila? Apa kabar? Gak mau ziarah ke Papa? Kak, gue tau rahasia Papa Papa selingkuhin Mama, kan? Pulang dong Kak Gak kuat gue jujur ke Mama Please, pulang Kangen Banget! Sehat selalu, Kak     Pesan terkirim, udah lah, kalo Saqhila tetep gak bales, gue bener-bener bakal susulin dia dan seret dia ke rumah. Sudah terlalu lama dia pergi ninggalin kami semua. Dia kira cukup apa rasa kangen terobati dengan mandang Ulfa yang hanya sedikit mirip dia. Ya, gue tau alasan Qila pergi. Tapi yaa gak selama ini juga. 7 tahun, gila! Gue mengunci layar HP gue, lalu meletakkannya kembali ke meja, menarik selimut, kemudian tidur. ****     Gue dapet giliran nyetir pertama, di samping gue ada Lika, nyanyi-nyanyi sok imut ngikutin irama dari radio. Johan sama Tiara di jok tengah, sementara Andre yang nanti dapet jatah nyetir ke-dua, tidur di belakang. Perjalanan berlangsung ramai, sesekali lelucon terlontar dari Jojo si fakir kasih sayang, yang ditanggepin sama gue, Lika dan Tiara. Gue seneng pagi ini karena Tol Cipali kagak macet, dan seneng juga karena Lika gak singgung-singgung yang dulu-dulu. "Tapi tenang Mas, gue lebih setuju elo jomblo kok, daripada LDR macem yang lagi bobo di belakang." Ujar Johan. "Kenapa emang Jo?" Tanya Lika. "Ya lebih real gitu, kalo LDR-kan, punya pacar, tapi rasanya tuh rasa jomblo, kaga ada yang temenin bobo---" "Otak elo Jo!" Sahut gue. "Bentar eh gue belom beres!" Serunya. "Iya-iya lanjut!" Ujar Tiara. "LDR tuh pacaran sama suara, video call cuma bisa usap-usap layar HP. Noh si Andre pernah cerita, 3 bulan gak ketemu, sekalinya ketemu, cara ciumannya udah beda---" "Abis nyium siapa dia di sana???" Sambar gue. "Nah itu!!! LDR nih, misal si Andre nanya 'sayang kamu lagi apa?' Ceweknya jawab 'lagi tiduran sayang' eh taunya bobonya berdua. Mending gue, mending elo Mas!" "Jadi mending jomblo?" Tanya Lika. "Yapasti!" Jawab gue. "Iya Lik, bebas mau sama siapa juga. Kalo LDR kan cari mangsa itungannya selingkuh. Gue sih mending mutusin cewek secara kejam daripada selingkuh." Ujar Johan. "Tapi kenyataannya elo yang sering diputusin hahaha!" Ledek Tiara. Kami semua tertawa, gue nyetir juga jadi asik, gak ngantuk dan gak berasa capeknya kalo kaya gini.   "Lik tolong bukan botol minum dong, aus." Pinta gue. Lika mengangguk, lalu membukakan botol milik gue dan menyodorkannya kepada gue. "Thanks!" Kata gue lalu menenggak kopi tersebut. Ya, gue bekel kopi biar gak ngantuk. "Eh iya, lo gak mau cerita Mas, elo sama Lika tuh kenapa?" Yeee pertanyaan si Johan menghancurkan mood gue banget. "Gak kenapa-kenapa, ya, Lik?" Ujar gue, berusaha santai. "Ada yang belum kelar sih intinya." Jawab Lika. Yeee dasar, gabisa diajak kerja sama nih cewek. "Kelarin dong beybih, masih nanggung itu gak enak." Sahut Johan membuat kami tertawa. Udah lah suka-suka dia aja. ****       Malam hari, di villa yang kami sewa, kami menyiapkan semua perlengkapan untuk besok pagi sosialisasi. Berkat kerjasama kami berlima, semua sudah selesai. Tiara udah masuk kamar mau tidur, Andre di luar lagi telefoanan sama mutan LDR-nya, Johan? Sama, lagi telefonan juga sama spesies... entah jenis spesies apa yang dia kencani saat ini. Jadi cuma ada gue duaan doang sama Lika di ruang tengah villa ini.        Dan, daritadi kami berdua diem. Dia diem beneran diem, gue diem karena fokus sama HP, nyari Fathia. "Za?" Panggilan itu mengalihkan gue dari HP, memandang Lika yang sekarang duduk menghadap gue sambil tersenyum. "Ya?" Jawabnya. "Maaf," katanya. "Maaf buat?" "Buat gak bisa nemenin kamu waktu Papa kamu gak ada. Aku tahu kamu deket banget sama Papa, kamu sayang banget sama Papa, dan aku tahu kamu pasti sangat kehilangan beliau." Ujarnya. Ya, Lika termasuk salah satu yang gak hadir di upacara pemakaman Papa saat temen-temen kantor datang. Katanya sih dia lagi nemenin Pak Prya ke luar. "Gak apa, gak usah minta maaf." "Akhir-akhir ini, aku perhatiin kamu kaya yang stress, banyak pikiran, kenapa? Ya aku tau kehilangan bikin orang bisa jadi stress, tapi, aku tahu kamu, ada hal lain yang kamu pikirin, bener kan?" Gue hanya tersenyum kali ini. 4 tahun gue pacaran sama dia, kalo dia gak pergi, mungkin statusnya sekarang adalah istri gue. Cuma, permainan hidup selalu memberi kita kejutan di setiap levelnya. Ya, seperti belajar sepeda aja, kadang kita terjatuh lebih cepat dari yang kita duga. Dulu gue gak pernah menyangka kalau Lika ninggalin gue, ngasih semua masalah ke gue tanpa bilang apa-apa. Dan sekarang, anaknya ada di depan muka gue. Kalo dia laki, udah gue hajar kali dari pertama kali dia munculin diri di depan gue. Sayangnya, dia cewek dan sayangnya lagi gue... ah sudah lah, lupain. "Cerita Za? Please... kalo kamu gak bisa nerima aku kaya dulu, seenggaknya terima aku sebagai teman." Pintanya. Gue masih diem, masih gak tau harus apa. Sebenernya, hal yang lebih gue inginkan adalah sebuah penjelasan tentang perginya dia dua tahun lalu, hanya itu. Cuma Lika termasuk katagori cewek yang gak peka.   "Aku baru tau kalo Papaku selingkuh." Kata gue akhirnya. Gue gak punya orang untuk berbagi cerita ini, terlalu pribadi kalau gue ceritain ke Jo, Ara atau Andre. Dan Pak Hakim?? Gue belum lagi mampir ketempatnya sendirian. Setidaknya biarkan gue curhat sama Lika, gak apa kan ya?? "What? Kok?? Tau dari mana kamu?" Tanyanya dengan nada terkejut. Lalu gue jelaskan, soal jurnal, soal perginya Kakak gue dari rumah karena mengetahui hal itu, dan tentu saja gue ceritakan juga soal Fathia dan ibunya, tentang gue yang ingin mencari kebenaran sebelum gue ungkap semuanya ke Mama. Selesai cerita, gue mendadak plong, sedikit lega karena masalah yang menghimpit d**a gue itu keluar sedikit, dan gue punya teman bicara yang sudah mengenal gue. Lika mendekat, ia memeluk gue, hangat dan nyaman, gak berubah meski tahun-tahun sudah berlalu. "Aku bakal bantu kamu cari Fathia, tapi please, bisa kita balikan?" Bisiknya di telinga gue. Gue mendorongnya menjauh. Kenapa cewek harus selabil ini sih?? Tadi dia minta jadi teman, sekarang, saat gue menganggapnya teman, dia minta lebih. "Gak jadi Lik, makasih ya udah dengerin. Aku ke kamar." Kata gue sambil berdiri, meninggalkannya di ruang tengah. ***     Cuaca cerah, karena sosialisasi sudah dilaksanakan sesuai dengan proposal ajuan kami, dan semua berjalan baik, Pak Taryo, selaku ketua RW setempat meminta kepada seorang pemuda desa mengantar kami untuk refreshing ke pantai. Tentu kita semua gak menolak. Coy, gue emang butuh refreshing, apalagi Lika yang sekarang terang-terangan deketin gue bikin gue ngeri sendiri. Iya, gue ngeri diculik ke kamar terus diapa-apain. Kan gue takut... takut ikut goyang maksudnya. Kan kalo gue ngikut goyang artinya gue kalah. Masa harga diri gue bisa dibayar dengan body BMW-nya Lika?? Gak, gue gak mau serendah itu jadi laki! Oke, balik ke liburan dadakan ke pantai, kami dikawal oleh Ijul, pemuda yang ditunjuk Pak Taryo. "Kalo pantai Pangandaran teh enak Aa, Teteh, ningali sunset sareng sunrise bisa dihiji tempat." Jelas Ijul (liat sunset dan sinrise bisa disatu tempat) "Oh kitu? Nya nggeus atuh urang nepi ka sore weh, meh bisa ningali sunset." Sahut Andre. (Oh gitu? Ya udah kita sampe sore aja, biar bisa liat sunset) Ijul mengangguk, lalu kami sampai di Pantai Pangandaran. Serius, cuaca kayanya lagi bersahabat untuk menghilangkan mood gue, langsung sumringah gue liat ombak yang kejar-kejaran ke bibir pantai. Gak sabar gue pengin rasain ombak itu mencium kaki gue. Lagi jalan ke arah saung, tiba-tiba ada yang gandeng tangan gue, gue kaget dan menoleh, ternyata Lika. Serius, ini anak maunya apa sih? Kenapa absurd banget?? "Kalo kamu gak mau kita balik secara baik-baik, aku mau pilih jalur ekstrem." Katanya. Damn!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD