Rabu pagi pukul setengah tujuh, Ronald sudah bergegas ke kampusnya. Ia menaiki gedung utama dan berbelok ke arah lorong lain menuju ruang sidang Manajemen. Baik Akuntansi, Manajemen ataupun EP memiliki ruang sidang masing- masing, dan ketiganya berada di bangunan yang sama namun beda lorong. Dari kejauhan, si Keriting bisa melihat salah satu pintu ruangan yang terbuka. Ia segera berlari- lari, dan benarlah, itu memang ruang sidang Manajemen. Di dalam, tepatnya di meja paling depan, sesosok gadis pucat sudah stand-by di depan laptopnya, sementara pantulan proyektor yang sudah dinyalakan nampak berkedip- kedip di layar putih di belakang si gadis. Gadis pucat itu menoleh karena mendengar langkah kaki Ronald saat berlari tadi. Ia pun tampak menghela napas lega. “Makasih banget udah dateng,”

