Vinny diam mematung mendengar jawaban Ronald. Angin bersiut- siut menampar- nampar wajah dan rambutnya di halaman kampus. “A –adik lo?” “Yap! Gue pernah bilang ‘kan, kalo gue dua bersaudara?” “Gue inget. Tapi lo nggak pernah bilang kalau adik lo itu cewek.” “Ah, iya. Itu gue lupa bilang.” Dengan seringai nakal, Ronald mendorong bahu Vinny dengan bahunya, “Gue tahu sekarang. Dari tadi lo sewot sama gue, karena lo cemburu ya, sama Angel?” “Gue nggak cemburu!” teriak Vinny. “Gue nggak suka aja lo deket sama banyak cewek !” “Berarti lo maunya gue deket sama satu cewek aja, ya? Elo gitu, maksudnya?” Vinny membelalak, sebab sudah kehabisan kata- kata untuk berargumen. “Bukan! Gue nggak suka kalo lo deket sama banyak cewek, lo bakal nyakitin mereka doang kayak dulu! Lagian amit- amit gue d

