Saat ini, pria itu sendiri menunggui anaknya di lorong yang sama, duduk di bangku yang sama, menghadap tembok putih yang sama. Juga dengan harapan yang sama. Vinny sudah selesai dioperasi, dan pemuda yang sejak tadi pagi telah mendampinginya sudah kembali pulang. Ia telah begitu rapuh –menunjukkan seluruh kekurangannya di depan bocah yang berpuluh tahun lebih muda darinya –namun anehnya hati pria itu terasa lega. Papa Vinny duduk di situ, sendiri dalam pandangan yang kosong. Sayup bunyi langkah di bagian lain rumah sakit tak membangunkannya dari lamun panjang . Bahkan ketika ada bunyi langkah cepat mendekati lorong tempat ia berada, Papa Vinny hanya bergeming. Dalam kekosongan yang nanar, ia tiba- tiba merasakan dorongan yang kuat. Bukan, bukan dorongan tangan itu yang kuat, namun memang

