Kebohongan Menyakitkan

1507 Words
"Ngomong apa sih kamu, Lastri? Jangan ngelantur kayak gini! Jangan mikir yang aneh-aneh!" pinta Buk Ratih dengan suara yang sedikit tinggi dan terbilang cukup tegas. "Aku ndak boleh biarin Lastri sampai tahu yang sebenarnya! Dia enggak boleh tahu!" ucap Buk Ratih di dalam hatinya, yang begitu menyayangi Lastri dan tak ingin Lastri mengetahui yang sebenarnya terjadi, karena tentu saja itu akan menyebabkan Lastri sakit hati. "Iyoo, Buk, maafin Lastri! Tapi kenapa ibuk jadi marah begini padahal biasanya ibuk selalu mendukung Lastri? Kok sekarang malah marah sama Lastri?" Buk Ratih biasanya selalu mengiyakan dan mendukung apapun yang dipikirkan oleh Lastri, terutama tentang keyakinan Lastri jika Arya sudah pulang, karena bukan satu dua kali Lastri memiliki keyakinan Arya telah kembali seperti ini, tetapi sudah puluhan kali. Akan tetapi, kali ini keyakinan Lastri akan kembalinya Arya benar-benar tinggi dan itu sebenarnya adalah sebuah kenyataan. "Ndak begitu! Bukan maksud Ibu marah sama kamu! Ibu cuma enggak mau hal yang sudah-sudah terjadi! Kamu ingat kan sama yang pernah kamu lakukan? Kamu sampai masak makanan kesukaan Arya secara berlebihan! Tapi ujung-ujungnya apa? Arya enggak pulang! Makanannya harus dibuang! Itu mubazir! Ibu ndak mau kamu kayak gitu lagi!" Bagaimanapun, Buk Ratih sangatlah mencintai Lastri. Dia tak ingin Lastri sakit lebih jauh lagi; lagipula, ibu mana yang mau anaknya sakit hati? Tentu semua ibu menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan ingin anaknya bahagia. "Ibu sudah berpikir dan merasa sebaiknya kamu berhenti melakukan hal-hal seperti itu! Ibu rasa kamu sebaiknya berhenti berharap Arya akan kembali!" pinta Buk Ratih dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Loh, apa toh, Buk? Kok, Ibuk ngomong kayak gitu? Maksudnya ibu gimana sih? Aku disuruh ninggalin Mas Arya? Aku enggak boleh mengharapkan kepulangan Mas Arya?" Seketika, Lastri merasa sakit hati dengan ucapan ibunya dan merasa cukup kesal disertai perasaan sedikit kecewa. Buk Ratih hanya bisa terdiam saat ini; dia bingung harus ngomong bagaimana dengan Lastri. "Aku ndak mau, lah, Buk! Aku udah janji sama Mas Arya akan menunggu dia kembali ke desa! Aku janji akan menikah dengan Mas Arya!" Tegas Lastri. "Tapi Arya tidak pernah kembali, Lastri! Kamu sudah menunggu dia selama lima tahun, tetapi dia tak kunjung datang ke desa ini! Sampai kapan kamu mau menunggu dia? Sekarang kamu juga sudah 24 tahun, sebentar lagi kamu berusia 25 tahun. Sudah waktunya kamu untuk menikah dan berumah tangga! Kamu harus melanjutkan kehidupanmu walau tanpa Arya! Sampai kapan kamu akan menunggu Arya yang tak jelas kabarnya?" Buk Ratih berusaha menasihati Lastri untuk tidak menunggu Arya lagi karena memang tidak mungkin bagi Lastri untuk menikah dengan Arya yang sekarang sudah memiliki perempuan lain. "Kenapa, Ibu, jadi begini? Biasanya Ibu selalu mendukung apapun yang aku inginkan! Kenapa sekarang Ibu tidak mendukung aku lagi?" tanya Lastri yang merasa heran dengan sikap ibunya, dan di satu sisi, dia juga kecewa dengan perubahan yang terjadi. "Maksud ibu itu baik, Lastri! Ibu tak ingin kamu menunggu dia lebih lama lagi! Ibu tak mau kamu menunggu dia yang tak kunjung memberikan kabar! Kita enggak tahu keberadaan dia di mana! Semuanya enggak jelas! Ibu takut kamu jadi perawan tua! Ibu enggak mau itu terjadi! Ibu ya maunya kamu punya keluarga untuk kebaikan kamu juga ke depannya, Lastri!" Buk Ratih benar-benar serius dan benar-benar memperdulikan Lastri karena dia tahu Arya tidak akan menikahi Lastri, dan tentu saja Buk Ratih menginginkan anaknya memiliki sebuah keluarga yang bahagia. "Sudah cukup, Ibu! Aku akan tetap menunggu Mas Arya kembali, apa pun yang terjadi! Aku yakin dia pasti kembali! Maaf kalau kali ini aku enggak bisa menuruti permintaan Ibu! Maaf kalau aku harus melawan! Aku permisi!" ucap Lastri dengan tegas, yang kemudian pergi meninggalkan ibunya dan masuk ke dalam kamarnya. "Dia memang sudah kembali, Lastri! Arya memang sudah kembali! Tapi dia juga sudah punya istri! Dia sudah menikah dengan perempuan lain di kota!" ucap Buk Ratih di dalam hatinya yang merasa cukup sakit hati dengan apa yang terjadi saat ini, dengan mata yang berlinang. "Ibu benar-benar takut kalau kamu sampai tahu hal ini! Ibu tahu betul bagaimana usaha kamu selama ini dan betapa dalam kamu mencintai Arya! Kamu selalu menunggu Arya dan senantiasa berdoa supaya Arya sukses dan segera pulang ke desa, bahkan kamu dengan rela dan ikhlas merawat Bude Murni yang sakit dengan penuh kasih sayang!" pikir Buk Ratih yang tanpa sadar meneteskan air mata untuk Lastri. Lagipula, ibu mana yang tak sakit hati jika anak perempuannya mengalami hal serupa seperti Lastri. "Tapi apa yang harus kamu terima? Lelaki yang kamu cintai sudah menikah dengan wanita lain di kota! Dia lebih memilih menikah dengan perempuan lain di kota, sementara kamu masih tetap teguh menunggu dia, yang jelas-jelas tidak peduli dengan kamu! Dia sama sekali tidak ingat kamu, Lastri! Ibu tidak mau kamu sampai sakit hati! Ibu tidak mau kamu sedih! Ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa! Karena itulah ibu tidak mau kalau kamu ketemu dia dan tahu dia sudah punya istri!" Ibu mana yang tidak ingin melihat anak perempuan sakit hatinya? Seorang ibu hanya menginginkan kebahagiaan bagi anaknya, termasuk Buk Ratih yang tidak ingin Lastri sakit hati, apalagi bersedih. "Maafkan ibu ya, Lastri! Maafkan ibu karena harus berbohong kepada kamu! Maafkan ibu karena tidak memberitahukan kamu yang sebenarnya! Kamu tidak boleh tahu yang sebenarnya!" Buk Ratih tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan karena itu adalah kebohongan yang tak seharusnya dilakukan, tapi apalah daya, dia terpaksa melakukan semua ini agar anaknya tidak sakit hati. Buk Ratih mungkin bisa menyembunyikan kebenaran dari Lastri saat ini, tapi bangkai yang sudah ditutup dengan rapat juga pasti akan tercium baunya, dan Lastri juga pasti akan mengetahui kebenaran walaupun sudah disembunyikan sedemikian rupa oleh Buk Ratih. Sementara itu, Lastri di kamarnya juga bersedih atas ucapan ibunya. Dia merasa sedih karena orang yang selama ini mendukungnya dan orang yang selama ini dia percayai, yaitu ibunya, tak lagi melakukan hal seperti dulu. Ibunya berubah, tak seperti dulu lagi. "Kenapa ibuk sekarang berubah? Kenapa ibuk tidak seperti dulu lagi? Kenapa semua ini terjadi? Padahal selama ini ibuk selalu mendukungku! Ibu adalah satu-satunya orang yang aku percayai!" pikir Lastri yang tanpa sadar air matanya jatuh menetes. "Aku yakin kok, aku yakin sekali kalau Mas Arya pasti akan menepati janjinya kepadaku! Mas Arya pasti akan kembali ke desa ini dan dia pasti akan menikahi aku dan menjadikan aku istrinya!" Seraya bersedih, Lastri tersenyum mengingat kenangan manis dan janji yang pernah dia buat bersama Arya. Keesokan paginya, tampak warung Buk Ratih yang ramai seperti biasanya melayani para pembeli nasi uduknya. Sebagai anak yang baik dan berbakti, Lastri juga ikut membantu ibunya berdagang nasi uduk. "Lastri, kamu tolong ambilkan ibuk sambal yang di dalam rumah ya! Soalnya sambal di sini sudah hampir habis!" pinta Buk Ratih kepada putrinya yang sedang kewalahan melayani pembeli. "Baik, Buk!" Lastri lalu masuk ke dalam rumahnya. Buk Lastri lantas melanjutkan pekerjaannya untuk melayani para pembeli yang ingin membeli nasi uduknya. "Ini, Buk, nasi uduknya 2 bungkus!" kata pembeli itu dengan sangat sopan dan ramah. "Oh, iya, Buk, ini uangnya! Terima kasih!" jawab pembeli itu dengan ramah. "Ibu mau berapa bungkus?" tanya Buk Ratih kepada pembeli selanjutnya. "3 bungkus saja, Buk. Yang satunya jangan dikasih sambal!" pinta pembeli. "Baik, Buk! Tunggu sebentar ya!" ucap Buk Ratih yang langsung membungkuk untuk menyiapkan pesanan ibu tersebut. "Buk Ratih, tahu tidak, orang kota yang datang ke desa kita itu ternyata Arya, tapi dia pulang bersama seorang wanita! Saya jadi kasihan sama Lastri! Kasihan kalau dia tahu semua ini! Apa, Buk, enggak mau menemui Arya?" tanya pembeli itu, yang juga adalah penduduk asli di desa yang cukup mengenal keluarga Buk Ratih. Mendengar hal tersebut, seketika membuat Buk Ratih terdiam. Dia langsung berhenti dari apa yang sedang dia kerjakan. "Buk Minah! Saya mohon, Ibuk jangan ngomong apa-apa dulu ya ke Lastri, terutama hal yang berkaitan dengan Arya! Biarkan saja dulu semuanya!" pinta Buk Ratih kepada wanita itu. "Iyoo, Buk! Saya janji tidak akan bicara apa-apa tentang Arya ke Lastri. Saya toh kasihan sama Lastri, dia benar-benar perempuan yang baik, tapi si Arya malah memilih perempuan lain di kota! Padahal Lastri sudah baik banget mau merawat Bude Murni!" ucap Buk Minah yang juga merasa kesal atas apa yang dilakukan oleh Arya terhadap Lastri. "Iyoo, mau gimana lagi? Saya juga maunya Arya nikah sama Lastri! Tapi nasib berkata lain! Saya takut anak saya sedih, apalagi selama ini dia selalu menunggu Arya untuk kembali!" Buk Ratih benar-benar sangat sakit hati dengan keadaan yang terjadi saat ini. "Ibuk yang sabar ya! Saya yakin Lastri pasti akan dapat laki-laki yang jauh lebih baik daripada Arya. Lastri itu gadis yang manis; dia juga sangat rajin dan penurut. Dia pasti akan mendapatkan orang yang jauh lebih baik lagi dari sebelumnya!" Buk Mina berusaha menyemangati Buk Ratih. Saras, yang sedang berjalan-jalan pagi dengan menggunakan pakaian yang memperlihatkan dia sedang hamil, tak sengaja melihat warung nasi uduk Buk Ratih yang cukup ramai pembeli. "Wah, ada warung nasi uduk di sana! Sudah lama juga enggak makan nasi uduk, apalagi nasi uduk yang dijual di desa!" Saras merasa cukup senang karena dia menemukan warung nasi uduk saat sedang berjalan-jalan pagi. "Aku ke sana deh! Mau beli nasi uduk!" Saras lalu berjalan mendekat ke arah warung nasi uduk Buk Ratih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD