Mana Airin?

1340 Words
“Mana Airin?!” Bi Darmin menunduk sambil menautkan ke sepuluh jari tangannya di depan perut. Ia sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi pada majikan laki-lakinya. Ia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Rendi, jika saja tuannya itu tahu kalau istrinya sudah tidak ada di rumah itu lagi. “Bi!” sentak Rendi, yang membuat wanita paruh baya itu tersentak kaget. “Nyo... nyonya tidak ada, Tuan.” Jawab bi Darmi terbata. “Tidak ada bagaimana maksudmu?” “Nyonya pergi dari rumah, Tuan.” “Apa? Nyonya pergi? Tapi kenapa? Kapan?” setengah berteriak, Rendi merasa kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Pertanyaan tentang Airin yang tiba-tiba pergi dari rumah tanpa pamit membuatnya pusing. “Tidak mungkin Airin tiba-tiba pergi dari sini tanpa ijin dari ku!” di dudukkan tubuhnya dengan kasar ke atas sofa. Kedua tangan meremas rambut kepalanya. Ia sedang berpikir dan coba mencerna tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi saat ini. Melihat majikan laki-lakinya kebingungan, Bi Darmi menceritakan tentang kejadian semalam ketika majikan laki-lakinya itu belum pulang. “Semalam saya menemukan Nyonya menangis di ruang kerja Tuan,” ungkap wanita paruh baya itu. “Nyonya menangis?” tanya Rendi heran yang langsung diangguki Bi Darmi. “Sewaktu terjaga saya mendengar suara orang menangis. Ketika saya coba cari tahu, ternyata Nyonya sedang menangis sambil bersimpuh di lantai ruang kerja Tuan. Awalnya saya mengira jika Nyonya merasa kesakitan karena saya lihat tangan kirinya terluka.” Ingatan Rendi langsung tertuju pada kejadian semalam di restoran. ‘Apa mungkin luka Airin begitu parah hingga membuatnya kesakitan dan menangis? Jika tahu seperti itu, mungkin aku tidak akan mengantarkan Nadia karena rengekan Maya!’ sesal Rendi dalam hati. “Apa luka di tangan Nyonya sudah di obati?” tanya Rendi yang kini khawatir dengan keadaan istrinya. “Sudah Tuan, saya juga sudah membalutnya dengan perban.” Rendi merasa sedikit lega mendengar penjelasan Bi Darmi. “Tapi kenapa Airin masih juga memutuskan untuk pergi jika memang lukanya sudah diobati?’ gumamnya dalam hati. “Tapi sepertinya bukan itu yang membuat Nyonya berkeras untuk pergi,” tambah Bi Darmi, membuat Rendi langsung menatap bingung kepadanya. “Apa maksudmu?” Bi Darmi mengambil nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan majikannya. “Tuanlah yang sudah membuat Nyonya pergi!” jawabnya kemudian. “Saya? Bagaimana bisa saya yang membuat Airin pergi? Dia itu sangat mencintaiku, bahkan meski saya membuatnya kesal sekalipun dia tidak akan pernah ingin pergi dariku!” terang Rendi, menegaskan jika istrinya sangat mencintai dirinya. Bi Darmi teringat pesan Airin sebelum wanita itu pergi pagi tadi. “Saya tidak tahu, Tuan. Hanya saja tadi Nyonya titip pesan untuk di sampaikan pada Anda,” jawab Bi Darmi yang mulai jengah melihat sikap Rendi. “Jika Anda harus menandatangani dokumen yang sudah Nyonya tinggalkan di meja kerja Tuan!” Tidak ingin membuang waktu, pria itu segera berdiri dan berjalan cepat menaiki anak tangga menuju ke lantai atas. “Dokumen? Dokumen apa?” bibirnya terus saja mengulang pertanyaan yang sama karena merasa penasaran dengan dokumen yang Bi Darmi maksud. Sedang asisten rumah tangganya itu masih berdiri diam di tempatnya semula. Hanya pandangannya saja mengikuti pergerakan Rendi. Ia tidak ingin ikut campur ke dalam masalah yang bukan urusannya. Bi Darmi hanya menggelengkan kepalanya melihat kebingungan yang Rendi tunjukkan. * * * Rendi membuka kasar pintu ruang kerjanya. Langkahnya cepat ingin segera sampai di meja tempatnya biasa bekerja jika sedang berada di rumah. Dan benar saja, di atas meja persegi itu sudah tergeletak sebuah map biru yang asing baginya. Keningnya berkerut, merasa penasaran bercampur heran dengan apa yang ia temukan. Diambilnya dengan segera kumpulan lembaran kertas itu dan mulai membukanya. Matanya terbelalak ketika ia membaca tulisan yang ada di dalamnya. Dokumen yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya jika Airin satu saat akan bisa memberikan kepada dirinya. “Tidak mungkin! Apa-apaan ini Airin?” teriaknya marah sambil membanting map berisi dokumen perceraian itu ke atas lantai. Membuat semua isi kertasnya berhamburan dan berantakan. Diremas rambutnya yang tidak gatal dengan kasar. Pikiran Rendi mendadak kalut dan bingung dengan situasi yang tengah ia hadapi sekarang. “Apa-apaan ini Airin?” teriaknya berulang kali penuh emosi. “Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir untuk meminta berpisah denganku? Aku sangat tahu jika selama ini kamu sangat mencintaiku!” “Apa hanya gara-gara kejadian semalam membuatmu semarah ini dan memutuskan untuk meninggalkanku? Apa kamu sudah tidak wa ras, Ai?” Suara teriakan Rendi terdengar hingga ke seluruh sudut rumah. Baik Bi Darmi maupun pak Adi tidak ada yang berani mendekat apalagi bertanya pada majikannya yang sedang dalam keadaan marah itu. “Apa yang sedang terjadi di sini?” suara Maya mengagetkan Bi Darmi dan pak Adi yang sedang berdiri di bawah anak tangga. Entah sejak kapan adik perempuan Rendi itu datang, karena tidak ada yang mendengar suara mobilnya datang. Sontak saja kedua asisten rumah tangga Rendi itu menoleh ke belakang. “Suara siapa itu, Bi?” ulang Maya, bertanya lagi pada Bi Darmi. “Suara Tuan, Nona. Sepertinya Tuan sedang marah,” jawab Bi Darmi singkat. Maya menautkan kedua alisnya. “Apa yang membuat Kak Rendi sebegitu marahnya hingga ia berteriak-teriak seperti itu?” gumam Maya heran. Wanita itu berjalan melewati Bi Darmi dan pak Adi begitu saja. Dan mulai menaiki anak tangga satu persatu sambil pandangannya tetap tertuju ke lantai atas. Maya memilih langsung menuju ruangan dimana sumber suara teriakan itu berasal. “Ada apa ini, Kak?” tanya Maya yang merasa heran melihat kertas-kertas berserakan di lantai ruang kerja kakak laki-lakinya. Sedang Rendi yang duduk di kursi kerjanya terlihat kesal dan beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar. Tanpa ijin wanita cantik itu langsung masuk ke dalam ruangan pribadi Rendi. Langkahnya terhenti ketika ia sedikit berjongkok untuk mengambil beberapa lembar kertas yang ada di dekat kakinya. Maya membaca satu persatu kertas yang ia temukan, dan wajahnya terlihat senang karenanya. “Kakak mau bercerai dengan wanita miskin itu?” tanyanya girang. “Jaga bicaramu, Maya!” tegur Rendi dengan kasar. “Lalu ini apa?” tanya Maya lagi sambil mengangkat kertas yang dipegangnya tinggi-tinggi. “Bukan aku, tapi Airin.” Jawab Rendi singkat. “Hah... kakak tidak salah bicara? Sejak kapan wanita miskin itu berani meminta berpisah denganmu? Memang tabungannya sudah cukup, hingga ia memilih untuk menyudahi pernikahan kalian?” canda Maya sambil terkekeh. "Aku juga merasa bingung, tidak cuma kamu. Saat aku pulang tadi, Airin sudah tidak ada di rumah. Pembantu bilang jika ia pergi meninggalkan rumah pagi-pagi sekali.” Rendi menyandarkan punggungnya dengan kasar ke sandaran kursi kerja. “Ini adalah hal paling tidak mungkin yang bisa Airin lakukan, semua orang tahu jika selama ini dia sangat mencintaiku. Bahkan ia rela melakukan apa pun untuk membuatku merasa senang. Jadi sangat aneh kalau sekarang tiba-tiba dia mengirimkan dokumen perceraian kepadaku.” Terang Rendi dengan penuh percaya diri. Semua penjelasan Rendi diangguki Maya. Ia juga merasa semua yang dikatakan oleh kakaknya itu memang benar. Siapa orang yang tidak tahu sebucin apa Airin kepada kakaknya. Bahkan ketika berulang kali Rendi dengan sengaja melakukan sesuatu untuk membuat istrinya itu kesal, Airin tidak pernah menampakkan kemarahannya. Wanita itu tetap saja sabar dan menerima semua perlakuan yang Rendi tujukan untuk dirinya tanpa pernah protes satu kali pun. “Kakak tidak usah kuatir, wanita miskin itu hanya ingin menggertakmu karena kejadian semalam. Mungkin dia merasa cemburu dengan kehadiran kak Nadia.” Maya coba mendinginkan rasa kesal kakaknya. Ia mendudukkan bo kongnya di sofa secara perlahan. Rendi mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan mulai mencari nomor kontak Airin di aplikasi hijau. “Akan aku suruh dia pulang sekarang juga. Setelah itu dia akan tahu apa akibatnya jika berani menggertakku, apalagi sampai meminta untuk bercerai denganku!” gertak Rendi yang terlihat sangat marah. Lalu ia mulai menelepon ponsel Airin, namun setiap kali Rendi mencoba untuk menghubungi nomor istrinya itu maka berulang kali juga mesin operator menjawabnya jika nomor yang ia hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Dan tentu saja hal itu memancing kemarahan Rendi. Dilemparkannya ponsel yang sedang ia pegang hingga menabrak dinding ruangan dengan keras, membuat benda pipih itu hancur berkeping. “Airin... jangan main-main denganku!” teriaknya geram.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD