Pagi ini aku bangun seperti biasa dan selalu dengan cara yang sama. Suara melengking lengkap dengan ocehan dan omelan yang selalu kudengar setiap pagi serta suara ketukan panjang di pintu kamar sudah menjadi bagian dari hidupku.
Rasanya, pagi hari akan terasa asing jika Mami mulai berhenti untuk bersuara. Dan kalau pun itu terjadi maka bisa ku pastikan jika Mami dalam keadaan yang kurang baik alias sakit,sehingga membuatnya sulit untuk bangkit dati ranjang.
Dan disaat seperti itulah kami harus belajar untuk mandiri dan lebih dewasa dan berpikir dan bertindak.
"Good morning, Mam." Aku keluar dari kamarku dengan wajah setengah layu.
"Good morning, Dear. Are you sick?" Mami langsung mengulurkan tangannya hendak merabai keningku untuk memeriksa keadaanku.
Tak lama kemudian, keningnya berkerut saat menatap wajahku. "Kamu gak kenapa-napa dan suhu tubuhmu juga normal. Tapi kenapa wajahmu seperti itu?" cecar Mami padaku.
"Aku lagi sedih," kataku akhirnya sambil menggandeng lengan ibuku saat kami turun bersama ke lantai bawah.
"Sedih? Kenapa?" cecar Mami. "Jangan bilang kalau kamu lagi putus cinta karena pacarmu itu selingkuh. Ayo, bilang sama Mami!"
"Ck, bukan loh, Mam. Lagian sejak kapan Abang pacaran gak ngomong sama Mami? Bukan seperti itu masalahnya," sahutku cepat sebelum Mami mulai menanyakan hal aneh lainnya padaku.
"Lalu apa masalahnya? Jangan bilang kalau Abang sedang mencari-cari alasan supaya gak pergi ke rumah sakit pagi ini. Apa itu benar?" Kedua mata Mami langsung melotot tajam padaku.
Aku langsung menyilangkan kedua tanganku membentuk huruf X dan berkata, "Itu salah, Mami. Bukan tentang itu, tapi tentang rencana liburan yang gak bisa Abang ikuti itu. Apa tidak bisa menunggu hingga masa pelatihan lapangan kami di rumah sakit berakhir?"
Kening Mami langsung berkerut saat mendengarnya. Akan tetapi, tidak menyurutkan langkahnya menuju halaman samping untuk senam pagi seperti biasa.
"Kenapa Abang ngomong seperti itu? Apa Abang juga ingin ikut liburan bersama kami?"
Kepalaku langsung bergerak naik turun. "Iya, Mi. Siapa sih yang gak mau ikut liburan gratis ke Paris?"
Kedua sudut bibir Mami seketika tertarik ke atas lalu mulai berkata, "Bukannya Abang bilang gak mau ikut?"
"Iya, tapi 'kan ada alasannya." Aku bahkan rela berdebat asalkan bisa pergi dengan mereka. "Please, Mami... tolong bujuk Tante Merry supaya liburannya diundur aja. Gimana kalau kita pergi saat liburan akhir tahun? Yah... menundanya beberapa bulan 'kan gak jadi masalah."
Aku memainkan alisku naik turun sambil memasang wajah memohon dengan mata berbinar penuh harap.
"Ish... kamu ini, seperti anak kecil aja." Mami memukul lenganku agar aku berhenti melakukan hal itu padanya.
"Iya, iya. Nanti Mami coba bilang pada Tante Merry. Semoga saja putrinya setuju dengan usul Mami. Kan kamu tau kalau Dara itu sudah berulang kali batal liburan ke luar negeri karena alasan sekolah, jadi Dara mungkin bakalan kecewa banget, Bang."
Aku menghela napasku pelan. "Ya, sudah. Kalau begitu Abang pergi sendirian aja, deh. Pakai jasa tour guide atau beli paket liburan keliling dunia selama beberapa hari, kayaknya bagus juga," kataku akhirnya setelah bicara panjang lebar tapi tidak ada hasilnya.
Suara helaan napas Mami terdengar lemah ketika ia membalik tubuhnya dan pergi meninggalkanku. Mami langsung masuk ke dalam barisan untuk memulai gerakan senam pagi kami.
***
"Bang, pagi ini aku berangkat sama Abang, ya."
Kalimat itu meluncur pelan dari mulut Kinara ketika ritual sarapan pagi baru saja dimulai. Ku lirik Mami yang hanya diam tanpa berkomentar pedas seperti biasanya.
"Kenapa? Bukannya kamu biasa sama Dara?" tanyaku sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutku.
"Hari ini kami ada ujian di jam pertama saat pelajaran dimulai."
"Loh, bukannya kamu dan Dara itu satu kelas? Kenapa gak pergi bareng aja, sih? Abang juga lagi buru-buru, gak mau terlambat lagi kayak kemarin."
Kinara langsung menekuk wajahnya cemberut. Gadis itu seperti ingin menangis karena penolakan ku tadi.
"Bang... please, dong. Lagian mobil itu juga buat dipakai sama-sama, iya kan, Mi? Kenapa jadi dikuasa sendirian? Kalau bukan karena ujian, aku juga gak bakalan minta tolong diantar sama Abang," gerutu Kinara dengan nada tinggi.
"Iya, iya. Tapi kamu harus cepat karena Abang juga gak mau kalau sampai terlambat." Buru-buru aku menyahut sebelum Mami marah karena ulah adikku itu.
Sudah cukup aku saja yang membuat Mami uring-uringan pagi ini karena permintaanku tadi. Mami bisa saja meledak marah gara-gara ucapan Kinara yang kasar saat duduk di meja makan.
Dengan semangat disertai senyuman yang menggantung di bibirnya, Kinara menganggukkan kepalanya. Gadis itu langsung melahap makanan di piringnya dengan rakus seperti takut direbut oleh orang lain.
Tidak sampai sepuluh menit, piring keramik di depannya sudah kosong melompong. Semua makanan itu habis ludes masuk ke dalam perutnya yang kecil. Sementara aku baru menghabiskan setengahnya saja.
Kinara langsung meneguk susunya hingga kandas, disusul suara sendawa yang cukup keras lolos dari mulutnya hingga membuat Mami seketika melotot ke arahnya.
"Kinara, kamu ini kok jorok banget, sih? Anak gadis itu gak boleh sendawa keras-keras kayak gitu, kamu ini malu-maluin aja."
Akhirnya, Mami membuka mulutnya juga. Mungkin karena sudah tidak tahan dengan tingkah anak gadisnya yang jauh dari kata feminin. Meskipun begitu, Mami bersyukur karena Kinara itu cantik walau tanpa polesan meski tingkahnya sedikit absurd untuk ukuran seorang gadis.
"Ih, Mami, sendawa itu bagus buat kesehatan. Emangnya Mami mau kalau suaranya keluar dari bawah? Enggak, kan?" dalih Kinara kemudian lari meninggalkan meja makan sambil terkekeh ketika melihat tinju Mami melayang di udara untuk menggertaknya.
"Dasar anak nakal," teriak Mami.
Suara tawa Kinara masih terdengar meski samar saat gadis itu berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Sepuluh menit kemudian Kinara kembali turun sambil menggendong tas sekolahnya.
"Bang, cepatan! Tadi katanya mau buru-buru karena takut telat," teriak Kinara dari ruang tamu.
"Iya, sebentar," sahutku.
Aku langsung berdiri, mengitari meja lalu menurunkan wajahku untuk mencium kedua pipi Mami saat berpamitan dengannya. Setelah itu barulah aku menyambar kunci mobil dari dalam laci dan pergi ke garasi mobil.
Ku lihat Kinara sudah tidak sabar menungguku di sana. Berkali-kali gadis itu berdecak kesal saat mobil yang ku kemudikan tak juga menyala meski aku sudah berusaha untuk menstarternya berulang kali.
"Bang, buruan! Nanti kita telat, loh..." omel Kinara kesal. Kakinya dihentakkan ke lantai seperti anak kecil yang sedang kesal saat ingin dibelikan mainan.
Memangnya siapa yang ingin terlambat? Aku juga gak berharap mobilku bakalan mogok disaat mendesak seperti ini. Aku harus segera ke rumah sakit dan Kinara juga harus pergi ke sekolahnya.
"Ya, Tuhan... please, tolong aku hari ini. Masa sih aku harus terlambat lagi?" ucapku sambil berdoa, berharap akan terjadi keajaiban pagi ini.
"Bang Kaito..." cicit Kinara lagi. Wajahnya ditekuk karena kesal.
"Iya, sebentar. Mobilnya masih belum nyala," kataku serba salah.
"Buruan, dong. Pesan taksi atau ojek online aja deh, aku bisa telat nih."
"Sabar, dong. Pesan ojek juga gak bisa secepat itu kali, Dek. Mesti nunggu 10 menit juga," sahutku dari dalam mobil.
"Ya udah, gak apa-apa. Daripada nungguin mobil Abang yang gak jelas kayak gitu. Makanya kalau punya mobil itu ya dipelihara yang bagus, dong. Coba cek, bensinnya kali yang habis, Bang."
Aargh... aku kesal banget. Kenapa sih mobilnya harus mengulah disaat seperti ini?
Aku akhirnya menyerah dan memilih untuk langsung memesan dua unit ojek online buatku dan Kinara. Sepuluh menit kemudian, ojek yang kamu tunggu akhirnya muncul saat aku dan Kinara menunggu di depan gerbang.
Ku biarkan Kinara untuk berangkat duluan saat ojek pertama tiba lebih dulu. Hanya berselang lima menit setelahnya, ojek yang kedua pun tiba. Aku langsung naik dan ojek pun langsung meluncur menuju rumah sakit ibu dan anak di kotaku.
"Dokter Kirana, i am coming."