Gita Dulu, Mami Kemudian

1807 Words
"Tasnya bagus. Apa itu untukku?" Pertanyaan itu kembali terlontar keluar, meluncur mulus dari mulut gadis di sebelahku hingga membuatku tersadar bahwa sejak tadi dia memperhatikanku. "Oh, ini... iya, tadi aku berniat memberikannya untukmu, tapi harganya mahal tidak sebanding dengan uang jajanku." Aku menggaruk kepala sambil tertunduk malu. Melihat ekspresiku, Gita lantas tertawa pelan. Aku tahu ini sangat memalukan, karena itu aku hanya bisa menyembunyikan wajahku dan melangkah pergi menjauhi rak dan kembali duduk di sofa. Gita mengikutiku duduk di sofa sambil memeluk sebuah paper bag berukuran besar. Tak lama kemudian, Mami ikut duduk di antara kami dengan raut wajah senang. Aku sangat yakin bila mereka baru saja bertransaksi dalam jumlah banyak. Mami terlihat senang karena mendapatkan pelanggan baru yang cukup royal. Dan Gita tampak bahagia karena berhasil mendapatkan potongan harga untuk setiap barang yang dibelinya. Setidaknya lebih menguntungkan daripada harus membayar penuh. "Gimana belanjanya? Udah selesai, kan?" Gita langsung mengangguk pelan sambil tersenyum cerah. "Iya, sudah selesai kok. Oiya, kamu bisa antar aku pulang gak?" "Tentu aja bisa. Iya kan, Bang?" Mami langsung menyahut cepat sebelum aku sempat mengatakan apapun. Ia mengedipkan kedua matanya ke arahku seakan sedang memberikan kode agar aku mau mengantar Gita pulang. "Udah sana, antar Gita pulang. Anak gadis gak baik dibiarkan pulang sendirian, ya kan? Setelah itu kamu balik buat jemput Mami di sini biar kita bisa pulang sama-sama." Mami lanjut berbicara sebelum aku sempat menjawab ucapannya tadi. Aku menghela napas pelan. "Mm... kenapa gak sekalian aja sih, Mi? Capek banget kalau Abang harus balik lagi ke sini," protesku. Bukannya membela ku, Mami malah mendorongku dan Gita agar segera pergi. "Udah deh, jangan ngeluh kayak gitu. Pergi sana! Mami mau siap-siap tutup butik dulu," sahut Mami enteng. "Iya, iya." Aku menurut dan langsung bangkit berdiri. Gita mengikutiku dari belakang setelah berpamitan dengan Mami. Ku lirik Mami yang diam-diam tersenyum sambil mengangkat dua jempolnya untukku. Hah... lagi-lagi aku harus jadi tumbal kebahagiaan Mami. Tapi tidak masalah selama Mami bahagia. *** "Maaf ya, aku jadi nyusahin kamu." Gita memaksa senyumnya saat menatap ke arahku. Aku tahu jika saat ini dia merasa tidak enak hati karena takut telah membebaniku. Ku raih pundak Gita dan membawanya dekat dengan tubuhku selama beberapa saat, kemudian aku lepaskan. Karena aku membutuhkan kedua tanganku untuk mengemudikan mobilku dengan baik. Seketika wajah Gita merona merah karena malu. Mungkin karena dia terlalu menyukaiku hingga sulit untuk menyembunyikan perasaannya. Gita jadi baper karena ulahku. "Hei... kamu kenapa kamu jadi mellow gitu, sih? Biasa aja, lagian kita udah temanan lama jadi gak mungkinlah aku tega nyuruh kamu pulang sendirian," kataku dengan senyuman manis yang menambah kadar ketampananku. "Iya, maaf..." "Gak apa-apa. By the way, kemarin malam kamu ada nelpon ke rumah, ya?" Akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya padanya karena rasa penasaran yang begitu besar sejak kemarin. "Emangnya kenapa?" "Mm... Mbak Asih yang memberitahuku tapi dia bilang kalau dia tidak tau siapa namanya," jelasku. "Oh, itu? Iya, itu aku. Aku cuma ingin mengingatkanmu aja kalau pagi tadi kita harus kumpul lebih awal untuk brieving pagi," aku Gita berterus terang. Ya Tuhan, ternyata hanya itu. Dan hal sepele itu berhasil membuat aku uring-uringan dan tidak bisa tidur semalaman karena memikirkannya. "Kenapa gak telpon langsung ke nomorku aja?" tanyaku bingung. Tentu saja aku bingung, karena Gita tahu nomor ponselku dan aneh rasanya jika dia tiba-tiba nelpon ke nomor rumah dan bukan ke ponselku seperti biasanya. "Aku pikir, kamu pasti tidak akan membawa ponselmu saat makan malam. Makanya aku putuskan untuk menghubungi telpon rumahmu tapi kamu gak ada," jelas Gita. Aku tidak habis pikir bila Gita sengaja menelpon hanya demi mengatakan hal sepele seperti itu. Aku yakin, dia pasti ingin mengatakan hal yang lainnya juga, akan tetapi malu untuk menyampaikannya. Tapi apa? Ah, sudahlah! Itu gak penting. Palingan Gita cuma ingin berbasa-basi denganku seperti biasanya ketika kami bertemu di kampus. Gadis itu selalu memiliki topik menarik untuk dibicarakan denganku. "Ooh... iya, sih. Kemarin malam Mami ngajak makan di luar, katanya bosen makan di rumah terus," sahutku. "Oh, gitu ya?" "Iya." Ku lihat Gita menggerakkan kepalanya naik turun ketika mendengar ucapanku. Setelah itu, dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan memilih untuk mengunci mulutnya sepanjang perjalanan kami. Rasanya begitu canggung. Gita hanya menatap lurus ke depan. Sesekali wajahnya menoleh ke samping, melihat sesuatu melalui jendela di sampingnya. Setelah menempuh perjalanan hampir empat puluh menit, akhirnya kami tiba di rumah Gita. Rumah tiga lantai yang berada di sebuah komplek perumahan mewah itu tampak begitu luas dan ditutupi oleh pagar setinggi 2 meter. Aku langsung menepi dan memarkirkan mobilku di depan gerbang lalu segera turun dari mobil untuk membantu membukakan pintu buat Gita. Setelah berbincang beberapa saat, aku langsung pamit padanya dan segera membawa kuda besiku pergi dari rumah Gita untuk kembali menjemput Mami di butik. Namun, ku pastikan gadis itu lebih dulu masuk ke rumahnya, setelah itu aku segera pergi dari sana. Ku pacu mobilku agar tiba lebih cepat meski harus berusaha mendahului beberapa kendaraan yang berada di depanku. Jalanan kini tampak macet karena sudah waktunya bagi para pengais rejeki pulang ke rumah mereka sehingga membuat kendaraan tumpah ruah di jalanan. Ketika aku tiba, kulihat Mami sudah berdiri menungguku di depan butik sendirian. Aku merasa kasihan karena harus membuat Mami menungguku, tapi sangat sulit untuk menolak permintaan Mami tadi. Jika aku berani menolaknya, maka Mami pasti tidak akan berhenti mengomel padaku. Meskipun tidak sungguh-sungguh, tapi tetap saja membuat kupingku panas karena harus mendengar suara Mami hingga kami sampai di rumah. Dan mungkin saja, drama itu akan tetap berlanjut di sana. "Maaf ya, Mi. Udah lama gak nunggunya?" tanyaku saat Mami sudah duduk di sampingku. "Gak, kok. Mami baru aja keluar dari butik. Gimana, kamu antar dia sampai di rumahnya, kan? Jangan bilang kalau kamu nurunin Gita di tengah jalan, ya. Mami bakal jewer telingamu sampai di rumah," cecar Mami. "Ya ampun, Mi... mana mungkin Abang tega ninggalin dia di jalan. Gita itu teman paling baik di kampus, ya kali Abang gak bisa balas budi orang. Lagian dia udah buat Mami senang hari ini, ya walaupun Abang harus mondar-mandir demi Mami," celetukku. "Gitu, dong. Anak laki-laki Mami harus gentle, harus tau untuk membalas budi orang lain. Mami senang dengarnya. Ya sudah, kita pulang yuk." "Siap, Bos." Aku menyalakan mesin mobilku kembali dan siap meluncur kembali ke jalanan. Langit kini berubah jingga kala matahari mulai bersembunyi di peraduan, itu artinya kami harus segera kembali ke rumah. Sebab adik semata wayangku pasti telah menunggu kepulangan kami saat ini. "Ngomong-ngomong, gimana kerjaan kamu hari ini?" Mami kembali membuka suara, menemani perjalanan kami hingga tiba di rumah. "Kerjaan Abang baik-baik aja, sama seperti kemarin. Hanya saja, pasien kami hari ini tidak begitu ramai," jawabku santai. "Ooh... kerja yang baik supaya kamu bisa dapat nilai yang baik juga. Mami udah gak sabar nungguin kamu hingga jadi dokter benaran," lontar Mami dengan antusias. "Iya, Abang juga berharap seperti itu. Emangnya cuma Mami aja?" kataku menimpali. "Gimana dengan dokter dan perawat yang bertugas di sana? Mereka semua baik 'kan sama kamu? Mami gak suka kalau sampai ada dokter atau perawat yang sombong dan suka ngebully anak baru seperti kalian," kata Mami panjang lebar. "Karena kalian datang ke sana itu untuk belajar gimana caranya jadi dokter yang baik, jadi mereka harus terbuka pada calon dokter masa depan seperti kalian," sambung Mami lagi. "Iya, iya... Abang paham maksud Mami. Tapi mereka emang baik, kok. Kalaupun ada dokter yang sedikit keras pada anak magang seperti kami, itu untuk kebaikan kami juga, Mi. Mereka berharap agar kami bisa belajar dengan baik dan sungguh-sungguh biar jangan ada yang namanya kejadian malpraktek." Aku berusaha menjelaskan panjang lebar. Mendengar penjelasanku, Mami langsung menepuk pundakku pelan dengan senyuman menggantung di bibirnya. "Mam..." "Ya? Ada apa?" "Apa Mami sudah pikirkan tawaran dari Tante Merry kemarin?" tanyaku sedikit ragu. Aku hanya tidak ingin merusak suasana yang kami rasakan saat ini. "Emangnya kenapa?" Kening Mami mulai berubah berkerut. Aku melirik ke samping. Lalu menghela napasku pelan saat tatapan kami bertemu, nyaris tanpa suara, tepat sebelum mulutku kembali terbuka. "Apa Mami yakin untuk ikut liburan bareng mereka? Soalnya 'kan kita belum tahu kemana tujuan mereka. Lagian mana mungkin Tante Merry mau menanggung semua biaya liburan kita nanti, iya kan?" jelasku saat mengungkapkan keraguanku pada Mami. Aku menoleh ke samping untuk memastikan mengapa Mami tak menyahut ucapanku barusan. "Mami," panggilku lagi. "Mm..." "Kok diam? Mami lagi mikirin apa, sih?" tanyaku heran. Ku dengar suara Mami mengembuskan napasnya kuat, sepasang matanya tampak berputar seperti sedang memikirkan sesuatu. "Mami juga masih belum yakin, Bang. Saat ini Mami hanya fokus buat kamu dan Kirana aja, apalagi saat ini Abang butuh dana yang tidak sedikit sampai kelulusan kamu nanti. Apalagi selama dua bulan ini Papi kalian masih belum mengirimkan dana pendidikan kalian," keluh Mami dengan suara lemah. "Rasanya sayang menghamburkan uang hanya untuk bersenang-senang, iya kan, Bang?" lanjut Mami lagi. Ia memaksakan senyuman di wajahnya agar aku tidak khawatir padanya. Disaat seperti ini, aku mulai menyadari jika kerutan di wajah Mami mulai terlihat jelas, ketika Mami mulai memaksakan dirinya untuk berpikir tentang masa depan aku dan adikku. Selama ini Mami sudah bekerja keras untuk membangun kehidupan kami agar lebih baik, meski tanpa kehadiran Papi. Mami selalu berusaha agar kami tidak dipandang dengan sebelah mata karena status Mami saat ini yang merupakan seorang janda dengan dua anak. Kadangkala Mami harus menanggung semua biaya tanpa adanya bantuan dari Papi. Itu semua Mami lakukan karena Mami tidak ingin merusak hubungan baik yang telah terjalin dengan baik di antara mereka selama ini. Apalagi saat ini Papi sudah memiliki keluarga baru yang harus dia hidupi. Ku ulurkan tanganku untuk merangkul Mami, berusaha untuk mengalirkan kekuatan dan semangat di dalam diriku untuknya. "Mami gak usah khawatirkan Abang. Lagian, uang simpanan Abang masih cukup untuk membiayai kuliah Abang hingga lulus nanti. Abang gak mau merepotkan Mami, makanya Abang selalu menyimpan semua uang yang Papi kirimkan selama ini," jawabku untuk menghibur hati Mami. Mami mengulas senyumnya tipis, merasa bangga pada anak sulungnya yang selalu memikirkan keadaan orangtuanya. Anak lelaki tampan keturunan Matsusawa yang selalu berusaha untuk membuat bangga ibunya. "Jadi gimana, Mi?" "Mm... nanti Mami pikirkan lagi. Lagian kalau Abang gak ikut rasanya seperti ada yang kurang. Mami tetap aja gak tenang meninggalkan Abang sendirian di rumah sama Mbak Asih," kata Mami kembali beralasan. "Kalau gitu Mami harus sabar menunggu sampai Abang selesai magang. Nanti kita pergii bertiga aja. Gimana kalau kita liburan ke Labuan Bajo?" usulku sambil memainkan kedua alisku naik turun, secarik senyum penuh arti menggantung di bibirku. "Jangan deh, mahal. Lebih mahal daripada liburan ke luar negeri," protes Mami. "Masa, sih? Tapi tempatnya bagus loh, Mam." "Iya, memang bagus tapi 'kan biayanya juga besar." "Gimana kalau Jepang?" Mendengar usulku, mata Mami langsung melotot lebar ke arahku. Sesaat kemudian, tangan kanannya terangkat menarik telingaku kuat hingga tanpa sengaja membuatku menarik stir mobil hingga hampir membuat kami menyenggol kendaraan lain. "Mami..." teriakku spontan karena terkejut. "Gimana? Sakit, kan? Masih mau pergi ke Jepang?" debat Mami setengah mengancam. "Enggak, enggak lagi, deh. Ampun...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD