Dokter atau Food Blogger

1434 Words
"Maaf, Dok. Apa sudah bisa memanggil pasien untuk masuk?" tanyaku padanya. Dokter cantik itu langsung menoleh padaku sambil melotot lebar karena aku sudah memotong pembicaraan pentingnya entah dengan siapapun itu, aku sungguh tidak perduli. Ku tinggalkan dokter Karina yang masih mematung karena ulahku tanpa menunggu jawaban darinya, karena aku tahu kalau saat ini dia sedang merasa kesal padaku. Dengan santai aku memanggil pasien pertama untuk masuk. Dengan begitu, dokter Karina akan langsung menyudahi pembicaraan mereka. Suara dengusan dari hidung mancungnya terdengar kuat. Wanita itu langsung melihatku seperti melihat seonggok daging berbau harum yang siap untuk dimakan, kemudian berjalan melewatiku dan masuk ke dalam ruangannya. "Awas kamu, ya." Ucapan dokter Karina terdengar penuh ancaman walau ia mengatakannya dengan suara pelan setengah berbisik. Aku menyeringai. Apakah aku takut? Enggak. Aku justru sangat senang karena bisa melihat wajah dokter cantik itu lagi hingga aku puas. Entahlah, mungkin aku sudah gila. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Tapi aku merasa kesal setiap kali perhatian dokter Karina teralihkan tiap kali ponsel pintarnya itu mulai berdering. Dan ini adalah pertama kalinya ada wanita yang tidak terpesona dengan wajah tampan dan sangat menggemaskan dari seorang Kaito Matsusawa, cowok blasteran yang begitu manis dan juga eksotis. Tentu saja membuat darah kelelakianku bergejolak, merasa tertantang untuk bisa menaklukkannya. Aku mengikuti dokter Karina masuk ke dalam ruangan. Seorang gadis kecil berusia kira-kira 4 tahun duduk di atas pangkuan ibunya. Wajahnya tampak kemerah-merahan. Begitu pun dengan kulit bagian tangan serta kakinya, diserta dengani bintik-bintik merah. Aku langsung membelalak kaget ketika baru meletakkan tanganku di wajahnya. Suhu tubuh anak itu cukup tinggi dan aku khawatir itu akan membahayakan dirinya. "Kita tiduran di sini dulu ya, Dek, biar Om Dokter periksa dulu badannya," bujukku dengan lembut agar anak itu mau turun dari pangkuan sang ibu. Satu anggukan kecil darinya membuatku bersemangat. Kuraih tangan kecilnya dan menuntunnya turun dari pangkuan ibunya. Kubawa anak itu untuk mendekati examination bed, kemudian ku baringkan dengan perlahan. "Bajunya dibuka sedikit ya, Sayang," ucapku lembut seraya tersenyum manis padanya agar tidak menakutinya. Aku mengambil thermometer dari saku baju dan langsung menempelkannya di ketiak anak itu dengan hati-hati. Sementara itu, aku memeriksa bintik kemerahan di kulitnya. Tak sabar menunggu hasilnya, dokter Karina langsung bangkit dari duduknya. Ia mengitari meja di depannya agar bisa mencapai ranjang. Stetoskop yang menggantung di lehernya langsung ditempelkan di telinga, sementara ujung bagian bawahnya mulai menjelajahi tubuh si anak. Aku mundur dua langkah untuk memberikan akses padanya. Raut wajahnya terlihat cemas seirama dengan kerutan di antara kedua alisnya. Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh wanita itu kepada ibu sang anak sambil tangannya terus bergerilya untuk memastikan kondisi si kecil. Suara peringatan dari benda kecil yang ketempelkan di tubuh mungil itu membuatku bergerak maju. Namun, dokter Karina telah lebih dulu mengambilnya. "Tinggi demam 39,7 derajat." Dokter Karina membacakan hasilnya untuk segera ku catat dalam rekam medis. Dokter Karina menginterogasi ibu si anak. Menanyakan beberapa pertanyaan penting padanya untuk memastikan tebakannya atas penyakit si balita yang kini terbaring lemah. Beberapa saat kemudian, dokter Karina menarik napas panjang kemudian mulai berbicara. "Anak ibu akan kita rujuk untuk segera kita rawat. Saya belum bisa memastikan jenis penyakitnya karena demam tinggi serta ruam dan bintik merah pada tubuh balita itu banyak penyebabnya. Jadi, anak ibu harus mendapatkan perawatan segera. Kita juga akan ambil sampel darahnya untuk memastikan jenis penyakitnya dan tingkat keparahannya." Dokter Karina menjelaskan dengan hati-hati. Ibu muda itu diam sejenak, kedua tangannya saling meremas di bawah meja. Aku tahu jika saat ini ada yang sedang menghantui pikirannya. Akan tetapi, ia ragu untuk mengungkapkannya. "Kemungkinan anak saya terkena penyakit apa ya, Dok? tanya si ibu akhirnya. Dokter Karina menghela napasnya pelan. "Saya belum bisa pastikan, Ibu. Bisa saja ini adalah deman DBD, campak, flu singapura, atau bisa saja hanya infeksi virus atau bakteri. Karena itu anak ibu harus kita cek lebih dulu darahnya." Ku lihat si ibu hanya manggut-manggut saat dokter Karina menjelaskan. Tak lama kemudian ia kembali bertanya, "Gimana dengan biayanya, Dok? Apakah mahal?" Aku bisa melihat ketika dokter Karina memaksa senyumnya. Ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Maaf, Bu, kalau itu saya kurang tahu. Ibu bisa tanyakan nanti di bagian pendaftaran. Kalau Ibu merasa berat dengan biayanya, Ibu bisa membawa anak Ibu ke rumah sakit lain. Saya tidak memaksakan agar anak ini dirawat di sini, tetapi alangkah baiknya jika anak Ibu bisa segera dirawat agar Dokter bisa segera menyembuhkannya." Kalimat itu terdengar sangat bijaksana dan sangat manusiawi, hingga tanpa sadar membuat lengkungan di bibirku ketika kedua ujungnya tertarik ke atas. "Gimana, Bu? Saya akan buat rujukan agar anak Ibu bisa langsung dicek darahnya. Ibu jangan khawatir, saya akan berikan obat untuk beberapa hari jika Ibu tetap ingin rawat jalan. Setelah hasil tes darahnya keluar, saya akan langsung ambil tindakan," jelas dokter Karina. Si ibu memandangi anaknya untuk sesaat lalu mengangguk pelan. Baik, Dok." "Jika terjadi sesuatu, segera bawa anak ini ke rumah sakit." Dokter Karina mewanti-wanti. Wanita itu sangat khawatir, tetapi tidak bisa memaksakan keputusannya pada si ibu muda yang duduk di depannya. Setelah keduanya pergi, aku langsung duduk di seberang dokter Karina. "Dok, apa tidak bahaya membiarkan anaknya pulang tanpa dirawat?" tanyaku cemas. Wanita di depanku tersenyum tipis. "Saya gak bisa paksakan ibunya untuk terima keputusan kita. Masalah biaya kadang-kadang jadi bumerang makanya banyak orang lebih memilih untuk dirawat di rumah saja." "Tapi 'kan kasihan anaknya, Dok." "Kalau kasihan, kenapa gak kamu bantu aja biayain perobatannya?" cicit dokter Karina. "Udah, sana! Panggil pasien yang lain untuk masuk," titahnya padaku. *** "Woaah..." aku menguap lebar ketika pasien terakhir keluar dari ruangan. Ku sandarkan punggungku di sandaran kursi sambil meregangkan kedua otot lenganku dengan menariknya tinggi di atas kepala. Setumpuk laporan di atas meja menungguku untuk disentuh. Kulirik jam dinding, dan lagi-lagi sudah lewat jam 12 siang. Tetapi, Gita dan rekan kami yang lain masih tidak kelihatan batang hidungnya. Biasanya mereka akan menyambangi ruanganku untuk mengajakku makan siang. Bahkan dokter Karina sudah keluar dari ruangan sejak lima menit yang lalu untuk mengunjungi para pasien yang sedang.dirawat. Saat ini, hanya perawat tua itu saja yang menemaniku. Dia membantuku agar pekerjaanku bisa segera selesai. Bekerja tanpa suara adalah kelebihannya dan itu sangat membosankan. "Sebaiknya Dokter makan siang aja dulu," katanya memecah keheningan di antara kami. Aku berbalik badan untuk melihatnya. "Ibu juga. Sudah hampir jam 1, tapi Ibu masih di sini hanya untuk membantuku," sahutku. "Gak apa-apa, Dok. Saya sudah biasa," jawabnya enteng. Aku berdecak kagum melihat eksistensi dan kesetiaannya dalam bekerja. Pantang berhenti sebelum selesai. "Jangan terlalu dipaksain, Bu. Entar sakit, loh." "Enggak. Saya udah biasa, Dok. Terkadang saya bisa makan jam 2 atau jam 3 setelah pekerjaan saya selesai," katanya menimpali membuatku sampai geleng-geleng kepala. Aku merasa tidak tega melihat orangtua seperti itu. Terlalu setia dengan pekerjaannya hingga melupakan dirinya sendiri. "Gimana kalau kita makan siang dulu? Saya yang traktir, deh..." "Gak usah, Dok. Saya ada bawa bekal tadi pagi," jawabnya. What? Bawa bekal? Aku gak habis pikir ketika mendengarnya. "Ya udah, bekalnya dimakan aja dulu. Biar laporannya saya aja yang selesaikan," kataku akhirnya. Padahal aku sangat senang jika si ibu mau membantuku agar pekerjaanku cepat selesai dan aku bisa makan siang lalu pulang untuk istirahat. "Udah, gak apa-apa, Dok. Diselesaikan sama-sama aja biar Dokter bisa cepat pulang," katanya tanpa menghiraukan tatapanku. Tangannya yang mulai tampak keriput terlihat sangat cekatan. Bekerja selama belasan bahkan puluhan tahun membuatnya ringan tangan untuk membantu. Perawat itu bahkan mengajariku beberapa hal dan itu membuatku cukup senang. "Setelah ini saya traktir makan siang ya, Bu. Kita makan di cafe depan aja." "Gak usah, Dok. Saya mau makan bekal saya aja, sayang kalau gak dimakan soalnya anak saya udah capek-capek buatnya." Perawat itu menolak tawaranku dengan sopan. "Mm... kalau gitu lain kali saya traktir ya, Bu. Soalnya Ibu udah baik banget sama saya," kataku sambil tersipu malu. Perawat paruh baya itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah. Ia kembali menunduk, membereskan beberapa berkas rekam medis pasien. Beberapa saat kemudian, ia pergi meninggalkan aku sendirian untuk makan siang bersama rekannya yang lain. Buru-buru ku selesaikan catatan terakhirku lalu menyusunnya di atas meja. Suara gemuruh mulai terdengar keluar dari dalam rongga perut yang mulai kelaparan. Sejak bekerja magang di rumah sakit, ini bukan kali pertama aku terlambat untuk makan siang. Mungkin mulai dari sekarang aku harus belajar jadi cowok tahan banting. Cowok kuat yang gak mentingin camilan dan makanan enak seperti dulu. Ya ampun, kenapa disaat begini otakku malah berkelana memikirkan camilan enak buatan Mbak Asih, sih? Duh, perutku inimemang sulit diajak kompromi. Gimana mau jalan sam cewek kalau perutku masih aja malu-maluin kayak begini? Aneka makanan enak berseliweran di kepalaku, membuat salivaku hampir menetes keluar. Cowok doyan makan, aneh gak, sih? Mungkin tidak kali, ya? Soalnya banyak kok food blogger lelaki. Aah... entahlah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD