"Bu, aku tidak mencintai Salwa. Dia hanya Yoga anggap sebagai adik saja, tidak lebih dari itu." "Dengarkan dulu, Nak. Ibu akan bicarakan tentang Salwa dulu. Kamu boleh salahkan Ibu nanti, tapi dengarkan dulu penjelasan Ibu, Nak." "Baik, Yoga akan mencoba mendengarkan lagi penjelasan Ibu." Sebenarnya Badai sudah terlanjur emosi, sakit hati, tapi tidak tahu harus bilang apa. Patah hatinya jauh lebih sakit karena mengetahui masa lalu sang ibu, dan itu yang membuat beliau menjadi trauma terhadap orang dengan status sosial tinggi. Orangtua Zahra, misalnya. Namun, bukankah tidak bisa disamaratakan seperti itu. Memang banyak yang mementingkan status sosial, tapi bukan semua orang. Kedua, sang ibu terus bilang Salwa dan Salwa. Sudah kelihatan sekali berat sebelah, dimana dia harus mengorbanka

