Salwa duduk di ruang tamu, dengan tatapan kosong. Sudut bibir bekas tamparan sang ayah sedang diobati bundanya. Semua orang yang telah menyaksikan pernikahannya tadi sudah pada pulang ke rumah. Sampai saat ini, dia masih tidak menyangka statusnya telah berganti, menjadi istri Ruian. Di pikirannya sekarang, bagaimana Ruian, maksudnya sang suami berani mengambil resiko. Padahal kalau dia pengen mundur, bisa saja. Tidak apa-apa, kok. “Semoga setelah ini tidak ada luka lagi di tubuh kamu karena ayah, Nak,” ucap sang bunda. Tidak terhitung lagi berapa banyak luka anak tirinya diobati, oleh perlakuan sang suami. Beliau bilang begitu, karena berharap—sangat berharap Ruian bisa melindungi Salwa, dan membahagiakannya. Salwa tersenyum miris, lalu mengangguk kecil. Kata orang, rumah adalah tempa

