Chapter 4

3697 Words
Chapter 4 I can’t let you go Please don’t tell me no Again today, I walk alone as I think of you (Teen Top – Walk By)   “Jadi waktu SD dulu, dia super duper sombong, gitu? Makanya, dia dipanggil princess, gitu?” Alfon mengulangi cerita Aira. Aira mengangguk. “Temen-temennya dia sendiri juga sebenernya pada nggak suka ama dia. Mungkin pada iri, sih. Jadi, di belakang Elsa, mereka pada ngomongin Elsa gitu.” Alfon mengangguk-angguk. “Jadi, dari SD dia udah jadi Ice Princess?” “Nggak, sih,” bantah Aira. “Waktu SD, dia emang sombong. Tapi … nggak sedingin sekarang. Beda lah, sombong ama dingin. Waktu SD dulu, meskipun dia sombong tapi dia masih mau punya temen, meski temen-temennya juga dari kalangan atas kayak dia gitu.” “Tapi temen-temennya pada fake semua gitu,” cibir Alfon. “Nggak heran sih. Siapa pun yang temenan ama cewek es kayak gitu nggak bakalan ada yang tahan.” Aira meringis. “Sebenernya … ah, nggak deh. Gue nggak enak ngomongin lebih jauh lagi tentang masa lalu ama masalah pribadinya Elsa.” “Nggak masalah. Ini cukup, buat saat ini,” ucap Alfon puas. “Eh, tapi biasanya dia ke kafe ini jam berapa?” tanyanya seraya menatap sekeliling. “Hari Minggu dia ke sini juga, kan? Dia bilang setiap hari …” “Jam dua atau setengah tiga gitu dia biasanya datang. Sampai sore biasanya dia di sini,” beritahu Aira. “Tapi ngapain sih, dia ke sini? Bawa buku segala. Emangnya di rumahnya ada apaan, sih? Tiap hari ada pesta atau apa?” berondong Alfon. “Eh … itu …” Aira tampak ragu menjawab, jadi Alfon mengibaskan tangan. “Nggak pa-pa kalo nggak tau. Toh lo bukan temennya. Oh, dia nggak punya temen, sih.” Alfon tergelak mengingat itu. Lihat saja, apa yang akan dikatakan cewek es itu begitu Alfon menyebutkan tentang masa lalunya. *** Langkah Rey terhenti di depan kafe tatkala melihat Aira dan Alfon yang baru saja keluar dari kafe. Ia segera melenyapkan rasa sakitnya saat Aira mendongak dan menatapnya. Cewek itu tampak terkejut. “Rey? Lo … ngapain ke sini?” tanya cewek itu, sedikit gugup. Rey tersenyum kecut. Tadinya, ia mengajak Ken dan yang lain bertemu di kafe karena ia bosan di rumah. Tidak, ia hanya tidak ingin diam di rumah dan tersiksa memikirkan Aira dan Alfon. Namun ternyata, di sini ia justru bertemu mereka. “Janjian ama anak-anak,” jawab Rey. “Kalian udah mau balik?” Aira mengangguk. “Gue … iya … gue mau balik ama Alfon.” Rey benar-benar merindukan Aira karena kemarin ia tidak melihat cewek itu, tapi melihat Aira bersama Alfon seperti ini, rasanya menyakitkan. “Ya udah, gue masuk dulu, ya?” Rey ingin segera menghindari Aira sebelum Aira melihat rasa sakitnya. Aira mengangguk. Cewek itu lantas menatap Alfon. Rey mencelos. Ia mengangguk kecil pada Alfon sebelum akhirnya masuk ke kafe. Bodoh, Rey memaki dirinya sendiri. Tanpa Aira, ia benar-benar merasa ada yang hilang darinya. Namun, ia bahkan tak bisa meminta cewek itu tetap berada di sisinya, bersamanya. Melihat Aira pergi seperti ini benar-benar membunuhnya. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan dengan itu. Melihat senyum Aira lebih penting dibandingkan perasaannya. Setidaknya, ia tidak kehilangan Aira sebagai sahabat terbaiknya. *** Alfon mendesah lelah ketika Aira menunduk dalam begitu mereka berada di dalam mobil Alfon. “Mau nyusul Rey aja?” Alfon berbaik hati menawarkan. Aira menggeleng, lalu Alfon mendengar isaknya, “Tapi gue kangen dia …” Alfon mendesah berat. “Makanya, kenapa sih elo nggak confess aja ke dia?” Alfon berusaha sabar. “Gue nggak mau kehilangan sahabat kayak dia.” Aira menangis keras. “Emang apa hubungannya lo confess ama kehilangan sahabat?” tanya Alfon bingung. “Kalo dia tau gue suka ama dia, dia bakal ngejauh kali, Alfon!” teriak Aira di tengah tangisnya, membuat Alfon menutup telinga. “Karena dia nggak bisa ngebales perasaan gue dan dia nggak mau nyakitin gue, makanya ntar dia pasti ninggalin gue kalo tau perasaan gue. Gue nggak mau kehilangan sahabat sebaik Rey …” isak Aira. “Oke, oke, lo nggak bakal kehilangan sahabat kayak dia,” Alfon mengalah. “Tapi Ai, kalo lo confess ke Rey, mungkin aja Rey juga suka ama lo dan kalian bisa hidup bersama dan bahagia selama-lamanya,” ucap Alfon sedramatis mungkin. Aira menatap Alfon tajam karenanya. “Lo tau nggak, di dunia ini banyak yang namanya mantan pacar, tapi nggak ada yang namanya mantan sahabat,” katanya. “Mantan sahabat ada, kok. Sahabat yang nikung sahabatnya sendiri, sahabat yang ngekhianatin persahabatannya demi cowok, sahabat yang …” “Itu bukan sahabat namanya!” Aira tak terima. Ia menangis lebih keras lagi. “Oke, oke, gue yang salah,” Alfon terpaksa mengalah. “Tapi Ai, kalo lo jadian ama Rey, nggak mungkin lah, kalian putus trus jadi mantan sahabat, eh, mantan pacar … atau apa deh namanya itu. Yang jelas, kalian udah lama saling kenal, tetanggaan juga. Meski kalian jadian, trus putus, lo nggak bakal kehilangan sahabat lo, lah.” “Ya nggak mungkin, lah!” bantah Aira. “Seandainya gue emang jadian ama Rey, trus kita berantem dan putus, mana mungkin kita bisa kayak pas masih sahabatan? Anak-anak lain aja kalo putus paling anti ketemu mantannya lagi.” “Ya itu kan, orang lain. Lo ama Rey kan, beda. Lagian, ada kemungkinan juga kalian nggak bakal putus. Kayak Arisa ama Ken, Dio ama Yura, tuh,” sebut Alfon. “Justru karena itu …” Aira kembali menangis keras. Alfon mengerang putus asa. “Emangnya kenapa ama mereka?” “Gue ama Rey nggak bakal bisa kayak mereka. Ken ama Arisa bakal happy ending. Yura ama Dio juga. Tapi gue ama Rey itu berantem mulu. Dan kita berdua sama-sama keras kepala. Tapi Rey bahkan nggak suka ama gue.” Aira mencebik. “Ya kan, lo belum confess. Makanya, lo confess dulu ke dia terus …” “Lo dari tadi nggak dengerin gue, ya?!” teriak Aira diiringi tangis, menghentikan kata-kata Alfon. “Kalo gue confess, gue bisa kehilangan sahabat gue!” “Oke, oke, gue ngerti.” Alfon mengangkat tangan, mengalah. “Jadi, lo nggak bisa confess karena takut Rey ngejauh. Bahkan meskipun dia juga suka ama lo, lo takut kalo kalian putus dan lo kehilangan dia sebagai sahabat juga, gitu kan?” Aira mengangguk. “Jadi intinya, lo nggak mau confess, tapi lo nggak bisa deket-deket dia karena takut dia tau perasaan lo ke dia, tapi kalo lo jauh dari dia lo kangen dia?” runut Alfon. Lagi, Aira mengangguk. “Trus, sekarang lo maunya gimana?” tanya Alfon lembut. Aira sesenggukan. “Buat gue suka ama lo,” ucap cewek itu. Alfon melongo sesaat. “Kenapa gue harus buat lo suka ama gue?” “Biar gue bisa berhenti suka ama Rey dan kita bisa balik kayak dulu lagi,” jawab Aira tanpa ragu. Alfon meringis. “Ai, kayaknya lo perlu mikirin ini lagi, deh. Maksud gue … perasaan lo … dipaksain gitu nggak pa-pa, tuh?” “Yang jelas, gue nggak boleh suka ama Rey,” putus Aira. “Oh, well, oke … tapi … Rey gimana?” tanya Alfon hati-hati. “Gimana apanya?” Aira menatap Alfon bingung. Ah, Aira juga tidak tahu jika Rey menyukainya. Namun meskipun cewek itu tahu, sepertinya masalahnya akan tambah rumit karena ia tetap tidak akan mau menjadi lebih dari sekedar sahabat bagi Rey karena tidak ingin kehilangan Rey. Oh, girl’s logic. “Nggak pa-pa,” tutup Alfon. “Tapi kalo lo suka ama gue, lo nggak pa-pa?” Aira mengangguk. “Selama gue nggak suka ama Rey,” ucapnya. “Wow.” Alfon tidak bisa menyembunyikan sarkasmenya. “Tapi kalo lo nggak bisa suka ama gue …” “Gue harus bisa,” ucap Aira penuh tekad. “Gue yang mungkin nggak bisa, Ai,” aku Alfon. Apalagi karena dia tahu bahwa Aira dan Rey sebenarnya saling menyukai. “Kenapa? Toh gue nggak minta lo bales perasaan gue. Gue tau kok kalo lo suka ama Elsa. Gue nggak bakal maksa lo …” “Kapan gue ngomong gitu?” desis Alfon kesal. Kenapa tiba-tiba cewek itu menyebut-nyebut Elsa? “Nggak usah ngomong juga udah keliatan. Lo ama Elsa itu love-hate relationship,” kata Aira dengan yakinnya. “Berhenti ngomongin Elsa atau gue bakal kasih tau ke Rey tentang perasaan lo yang sebenernya,” ancam Alfon. Aira merapatkan bibir seraya mengangguk. Yah, setidaknya Alfon akan bisa menikmati perjalanan pulang yang damai. Sementara Aira sibuk menghapus air mata, Alfon menyalakan mesin mobil, akhirnya bersiap untuk perjalanan pulang yang tenang dan damai. Namun, Alfon harus menahan emosi saat di tengah jalan Aira berkata, “Tapi kalo lo ngerasa terganggu gitu cuma gara-gara gue nyebut nama Elsa, berarti lo beneran suka lho ama dia.” *** “Hari ini kalian beneran nggak ada acara nge-date, kan?” tanya Rey pada teman-temannya begitu ia kembali dari memesan untuk mereka. Keempat temannya menggeleng kompak, tapi mereka menatap Rey lekat. Rey tahu apa yang mereka pikirkan, tapi ia berusaha mengabaikan. “Aira … lo yakin kita nggak perlu hubungin dia?” tanya Arisa hati-hati. Rey mengangguk. “Dia lagi sama Alfon.” “Dari mana lo tau? Jangan asal nebak, deh,” sahut Yura. “Tadi gue ketemu dia di depan kafe,” aku Rey. “Mereka udah mau balik pas gue dateng tadi.” “Ah,” gumam Yura. “Lo … nggak pa-pa, kan?” Rey mendengus geli. “Emangnya gue kenapa?” “Ya kan, Aira jalan bareng cowok lain. Lo …” “Ra, please, deh. Dari awal kan, gue ama Aira emang nggak ada apa-apa. Kita cuma sahabatan. Kalian aja yang nyimpulin semuanya sendiri, kan?” tuding Rey. “Kita bukannya ngomong tanpa bukti,” Arisa mendebat. “Trus? Kalian pernah denger gue ngomong suka ke Aira?” tembak Rey. Keempat temannya tak bisa menjawab. Rey baru saja merasa menang ketika sebuah suara dingin tiba-tiba berkata, “Pernah.” Rey menoleh untuk melihat pemilik suara dan didapatinya Elsa duduk di meja sebelah. Cewek itu menunduk untuk mengikat tali sepatunya. Saat ia menegakkan tubuh, ia melanjutkan, “Waktu di kafe ini, di depan semua orang, lo bilang kalo lo suka ama Aira.” “Waktu itu gue ngomong gitu gara-gara Alfon,” Rey membela diri. “Oh ya?” Elsa mengangkat alis tak percaya. “Yah, satu-satunya orang yang tau perasaan lo dan bisa buktiin perasaan lo cuma lo sendiri, sih. Mau mereka ngomong apa juga, kalo lo nggak mau ngakuin perasaan lo, percuma juga, kan?” Cewek itu lantas bangkit dari duduknya. Ia sudah setengah jalan menuju meja di sudut kafe, tempat ia biasa duduk, ketika tiba-tiba berhenti, lalu kembali berkata, “Tapi waktu itu Aira juga ngira kalo lo serius, lho. Mungkin elo ngomongnya terlalu serius waktu itu.” “Dari mana lo tau apa yang Aira pikirin?” Rey membalas. Elsa mengedikkan bahu. “Karena dia nggak ngasih lo jawaban.” Cewek itu menoleh ke belakang untuk menatap Rey dan berkata, “Bukannya biasanya kalo kalian main game kayak gitu, selalu ada jawabannya, ya?” Rey mengepalkan tangan. Jika memang yang dikatakan Elsa itu benar, berarti alasan Aira menjauh darinya ini karena … ia tahu Rey benar-benar menyukainya. “Rey.” Suara Ken terdengar begitu jauh. “Apa yang diomongin Elsa itu … bener?” tanya Dio hati-hati. Rey memejamkan mata. Ia tidak tahu. Mungkin karena ia sendiri selalu berusaha membohongi dirinya sendiri, kini ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang hanya kebohongan. *** “Aira nggak pernah nanyain lo tentang kejadian di kafe waktu itu?” tanya Rey saat ia dan Alfon tinggal di kelas sementara Aira dan Yura sudah lebih dulu ke kantin. “Nanya gimana?” Alfon balik bertanya. “Tentang … confess gue waktu itu.” Rey tampak ragu dan juga cemas. “Nggak pernah,” jawab Alfon jujur. Aira lebih sering membicarakan ketakutannya akan Rey yang mungkin akan mengetahui perasaan Aira padanya daripada pernyataan Rey saat itu. Rey tampak ingin bertanya lagi, tapi ragu. “Kenapa? Lo mau minta gue ngomong ke dia kalo waktu itu lo serius?” tembak Alfon. Rey menggeleng panik. “Kata siapa gue serius? Gue ngelakuin itu kan, gara-gara elo,” kesalnya. “Jangan-jangan, lo ama Elsa ngerencanain ini, ya?” tuduh Rey tiba-tiba. Alfon mengerutkan kening mendengar nama Elsa disebut. “Elsa? Emangnya dia kenapa? Dia ngomong kalo gue ama dia ngerencanain ini?” “Gue sempet ketemu dia di kafe kemarin. Dan dia bilang, kurang lebih sama kayak lo. Tentang … gue serius pas confess ke Aira waktu itu,” jelas Rey. “Tapi waktu itu gue ngelakuin itu gara-gara penalty dari lo. Lo juga tau waktu itu gue nggak serius ngomong itu.” Alfon mengedikkan bahu. “Gue emang nyuruh lo confess, tapi mana gue tau gimana perasaan lo yang sebenernya, kan?” Rey mengerutkan kening. “Lo ama Elsa … lagi ngerjain gue atau apa, sih?” protesnya tiba-tiba. “Kenapa bawa-bawa cewek es itu lagi, sih?” geram Alfon. Tidak Aira, tidak Rey, dua-duanya sama-sama mengesalkan. Apa mereka mendadak kecanduan Elsa atau apa? “Kemaren Elsa juga ngomong gitu,” Rey berkata. “Ngomong apa?” Alfon sudah nyaris meledak karena berkali-kali mendengar nama cewek itu. “Dia bilang, cuma gue yang tau dan bisa buktiin perasaan gue sendiri,” sengit Rey. “Lo ama Elsa …” “Rey, please,” Alfon memohon sepenuh hati. “Bisa nggak, jangan bawa-bawa nama itu lagi?” Rey tampak bingung karena reaksi Alfon. “Ini … beneran bukan kerjaan lo ama Elsa?” “Apa gue udah gila?” geram Alfon frustasi. “Yes, you are.” Jawaban santai itu datang dari sosok yang baru saja masuk ke kelas. Yang tak lain adalah Elsa. Bahkan setelah mengatakan itu, cewek itu melenggang santai melewati Alfon tanpa sedikit pun merasa bersalah. “Ngeliat lo kayak gini, pantes aja temen-temen lo ngomongin lo di belakang lo,” sinis Alfon. Kata-katanya seketika menghentikan langkah Elsa. Cewek itu berbalik, menatap Rey tajam. “Gue nggak pernah cerita tentang itu ke Alfon,” jelas Rey, tak ingin bermasalah dengan si cewek es. Elsa mendengus. “Apa yang diminta Aira ke elo sampai dia ngasih cerita masa lalu gue ke elo?” Sebelum Rey sempat berpikir tentang maksud kata-kata Elsa, buru-buru Alfon berkata keras, “Kenapa? Malu dikhianatin sahabat sendiri? Gimana rasanya dikhianatin sahabat sendiri? Makanya, perbaiki dulu sikap lo itu. Kalo lo terus kayak gitu …” “Orang yang udah ngekhianatin lo nggak pantas disebut sahabat. Mereka cuma pengkhianat,” sela Elsa tajam. “Dan lagi, kalo lo nggak tau apa-apa, mending lo diem, deh. Buat orang yang nggak tau banyak, lo terlalu banyak omong, lo tau nggak?” Setelah mengatakan itu, Elsa berbalik dan kembali melanjutkan langkah menuju bangkunya. Alfon tidak percaya ia bahkan duduk di meja yang sama dengan cewek mengerikan itu. “Aira yang ngasih tau lo tentang itu?” tanya Rey pelan. Alfon mengangguk kecil. “Dia bilang apa aja tentang Elsa? Ck, dia biasanya paling nggak bisa nyebarin rahasia orang lain kayak gitu,” gumam Rey khawatir. “Dia nggak ngasih tau tentang temen-temennya yang …” “Gue tau,” dengus Alfon. “Temen-temennya nggak suka ama dia. Tapi menurut gue, itu karena sikap sombong dia, lah. Mana ada orang yang tahan temenan ama cewek sombong kayak dia?” Alfon bahkan tak berusaha memelankan suaranya saat berbicara. Rey menatap melewati bahu Alfon, ke arah tempat duduk Elsa, dengan panik. “Al, lo kenapa, sih? Lo tau nggak, temen-temennya waktu SD dulu pada manfaatin dia? Meskipun Elsa sombong, tapi kalo ama temen-temennya dia … tulus.” Rey mendesah putus asa saat Elsa berjalan melewati mereka. Entah kenapa, melihat punggung Elsa yang pergi seperti itu membuat d**a Alfon mendadak terasa sakit. “Aira bilang sih, kalo temen-temennya pada ngomongin dia di belakang karena iri,” desah Alfon. “Trus kenapa tadi lo ngomong gitu ke Elsa?” gemas Rey. Alfon mendesah lelah menyadari alasan bodohnya. “Gue cuma pengen buat dia kesel. Gue cuma pengen ngebales dia.” Sekarang, ia benar-benar menyesalinya. Meski ia tak mau mengakui. *** “Kenapa, Rey?” Aira berusaha menjaga ekspresinya tetap datar meski saat ini jantungnya berdegup tak keruan. Rey menoleh ke sekitar mereka, memastikan mereka berdua cukup jauh untuk bisa didengar murid-murid lain. “Lo cerita apa aja sih, ke Alfon?” tuntut Rey. Aira mengerjapkan mata. Cerita … apa? Tidak, Alfon tidak mungkin mengatakan pada Rey tentang alasan Aira menjauhi Rey dan mendekati Alfon, kan? “Lo tau nggak, tadi dia ngomong apa ke Elsa?” lanjut Rey. “Elsa?” Aira mengerutkan kening. Rey mengangguk. “Tentang temen-temennya Elsa waktu SD. Kenapa lo ngasih tau Alfon? Bahkan meskipun lo suka ama Alfon, tapi lo harusnya nggak sembarangan ngasih tau cerita itu ke dia, kan? Lo nggak mikirin perasaan Elsa?” “Gue emang cerita ke Alfon tentang temen-temennya Elsa. Tapi gue juga bilang kalo temen-temennya itu suka ngomongin Elsa di belakang. Dia juga tau kalo temen-temennya itu fake. Tapi … dia ngomong apa ke Elsa?” tanya Aira penasaran. Rey menghela napas berat. “Lo tau nggak, Alfon masih dendam banget ama Elsa gara-gara confess-nya ke Elsa di kafe dulu. Yang dia pikirin cuma ngebales Elsa. Dan yang jelas, kata-katanya tadi nyakitin Elsa banget. Gue juga nggak ngerti kenapa Alfon sampai sebenci itu ke Elsa gara-gara itu. Waktu itu kan, dia mendadak confess. Bahkan cewek lain mungkin aja bereaksi kayak Elsa gitu. Tapi …” “Elsa tau kalo itu cuma game,” sela Aira lemah. “Apa?” Rey tampak tak percaya. “Maksud lo … Elsa tau kalo itu cuma game, tapi dia masih jawab gitu dan …” “Dia sengaja jawab gitu, di depan pegawai kafenya pula,” desah Aira lelah. “Bahkan pengunjung lain di dekat meja mereka, sampai di meja kita juga denger jawaban Elsa waktu itu, kan?” Rey mendengus tak percaya. “Gue nggak tau kalo mereka berdua ternyata punya hubungan se-complicated ini,” gumamnya. “Elsa … nggak pa-pa, kan?” cemas Aira. Rey menggeleng. “Gue juga nggak tau.” Aira kini merasa bersalah pada Elsa. Karena perasaannya, ia sampai melibatkan Elsa seperti ini. Ia bahkan telah menyakiti Elsa secara tidak langsung. *** Alfon mencelos ketika Elsa bahkan tak menatapnya hingga pelajaran hari itu berakhir. Sejak kejadian saat istirahat tadi, Elsa jadi semakin dingin. Seolah selama ini ia belum cukup dingin. Alfon melempar bukunya asal-asalan ke dalam ransel. Ia berusaha untuk tidak memikirkan kejadian saat istirahat tadi. “Kalo salah, harusnya minta maaf, kan?” Suara Aira membuat Alfon mendongak. “Rey balik duluan?” tanya Alfon. Aira mengangguk. “Gue nggak percaya lo bener-bener make cerita masa lalu Elsa buat balas dendam,” desisnya kemudian. Alfon mengerang. “Jangan itu lagi, please …” Aira mendengus geli. “Kalo ending-nya bakal ngerasa bersalah, ngapain tadi ngomong kayak gitu ke Elsa?” Alfon kembali mengerang seraya menelungkupkan kepala di atas meja. “Rey ngomong apa aja sih, ke elo?” “Dia mastiin gue tau kalo kata-kata lo nyakitin Elsa,” jawab Aira santai. “Banget,” ia berbaik hati menambahkan. Alfon menutup telinga. Ia tidak ingin mendengar apa pun lagi tentang Elsa. Ia tidak ingin … “Kafe,” gumam Alfon seraya menegakkan tubuh. Ia menoleh ke arah Aira. “Kita ke kafe dulu,” katanya. Aira mengangkat alis. “Mau minta maaf ke Elsa?” Alfon memutar mata. “Gue cuma mau liat dia.” “Kenapa?” tuntut Elsa. “Ya cuma mau liat dia,” ulang Alfon. “Kangen?” Aira menyeringai. “Barusan pisah juga …” Alfon mendesis kesal seraya bangkit dari duduknya dan menyeret Aira meninggalkan kelas. “Mentang-mentang nggak ada Rey, lo seenaknya ngomong gitu ke gue. Terusin aja kayak gitu dan besok Rey bakal tau semuanya,” ancam Alfon. Aira meringis. “Sori, sori …” ucapnya, tak terdengar tulus sedikit pun. “Nggak tiap hari gue bisa ngegodain lo. Mumpung ada kesempatan ….” Alfon lagi-lagi harus menahan emosi dan menenangkan diri jika tidak ingin membuat mereka berdua celaka di jalan nanti. *** “Kayaknya hari ini dia nggak dateng, deh,” Aira berkata. Alfon menengok jam di ponselnya. “Ini masih belum jam empat. Mungkin bentar lagi dia dateng.” Aira mendesah lelah. “Lima menit lagi jam empat, Al. Dia mungkin nggak dateng hari ini karena ada acara lain.” Alfon mendecakkan lidah. “Bukan gara-gara omongan gue tadi, kan?” Aira mendengus pelan. “Emangnya tadi lo ngomong apa sih, ke dia?” Alfon mendesah berat, lalu mengatakan apa yang tadi ia katakan pada Rey di depan Elsa. Aira ternganga tak percaya setelah mendengarnya. “Bahkan abis gue bilang keburukan temen-temennya, dan lo bahkan tau kalo temen-temennya itu fake, tapi lo …” “Jangan dibahas lagi, bisa nggak?” potong Alfon tak suka. Aira menghela napas, mengangguk. Pantas saja sejak tadi perasaan Alfon sepertinya tak enak. Ia pasti merasa bersalah. Tak peduli betapa pun ia kesal pada Elsa, tapi tampaknya ia benar-benar merasa bersalah. Bahkan kini ia tampak cemas hanya karena tak melihat Elsa di kafe. “Kita pulang aja deh, Al. Besok pagi deh, lo langsung minta maaf kalo ketemu Elsa,” saran Aira. “Siapa yang mau minta maaf?” sembur Alfon. “Gue, gue …,” Aira mengalah. “Gue mau minta maaf, soalnya gue udah sembarangan ngasih tau lo tentang masalah pribadi Elsa.” Tampaknya jawaban Aira cukup bisa diterima Alfon. Aira dibuat terkejut ketika tiba-tiba Alfon berdiri. “Kenapa lagi?” tanya Aira. “Balik. Lo mau nginep di sini?” balas Alfon sinis. Aira mendengus tak percaya. Dan siapa yang sedari tadi berkeras untuk tinggal di sini hanya untuk melihat Elsa? “Tapi lo yakin, dia nggak bakal dateng ntar agak sorean gitu, atau malem, gitu?” Alfon bahkan masih sempat menanyakan saat mereka meninggalkan kafe. “Mau gue kasih alamat rumah atau nomor telponnya aja, nggak?” tawar Aira dengan nada frustasi. “Nggak perlu,” jawab Alfon pendek. Syukurlah setelahnya ia tak lagi bertanya tentang Elsa. Meski Aira seolah bisa melihat satu-satunya hal yang ada di kepala Alfon saat ini adalah Elsa. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD