Chapter 5

3629 Words
Chapter 5 I want to pretend that I don’t know, but I can’t stand it anymore I know everything, come ever here, don’t avoid me anymore (Got 7 – A)   “Mama …” Arisa mengerang putus asa, untuk kesekian kalinya, ketika mamanya membawa lebih banyak album masa kecil Arisa ke ruang tamu. Seolah melihat, dan menertawakan, dua album foto masa kecilnya masih belum cukup. Arisa sudah tak sanggup menatap Ken setelah dua album, lalu apa yang harus ia lakukan jika Ken melihat tumpukan album yang ada di tangan mamanya? “Mite, mite (lihat) …” Arisa memutar mata ketika mamanya mulai mengoceh dengan bahasa Jepang. Itu kebiasaannya jika sedang terlalu senang. Ketika Arisa menatap Ken, cowok itu juga sedang menatapnya, membuat Arisa segera memalingkan wajah yang sudah terasa panas. Mau sejauh mana lagi mamanya mempermalukan Arisa di depan Ken? Jika begini, percuma juga kemarin mama Ken menceritakan masa kecil Ken. Arisa tidak akan pernah bisa meledek Ken dengan itu jika tidak ingin balik dipermalukan. Arisa baru bisa bernapas lega saat mamanya pergi keluar sore itu. Sepanjang siang, mamanya mengusik Ken dengan alasan sangat berterima kasih karena bantuan Ken di hari ulang tahun mamanya kemarin lusa. Mulai dari membuat segala macam snack spesial untuk Ken, hingga berbaik hati memamerkan foto-foto masa kecil Arisa saat mereka sedang beristirahat dari latihan. Ken dan Arisa sudah menyelesaikan tugas conversation mereka, dan kini mereka hanya perlu memutuskan apa yang akan mereka lakukan untuk tugas keseniannya. “Lo pilih aja lagu yang menurut lo bagus,” Arisa berkata. “Tapi gue nggak ada gitar, jadi lo latihan sendiri aja.” “Gue bisa pake piano,” sahut Ken. “Dan nyokap lo tadi bilang lo juga bisa main piano. Mau main bareng?” Arisa mengangkat alis. “No, thanks. Buat kesenian gue pake dramanya aja. Toh selama lo main musiknya bagus, gue juga bakal dapet nilai yang sama kayak lo.” “Lo yakin nggak mau mainin pianonya?” Ken memastikan. “Kan bisa ditambahin di awal. Jadi ceritanya, gue suka sama lo setelah dengerin lo main piano.” Jantung Arisa seolah berhenti selama beberapa detik karena kata-kata Ken. Ken tidak tahu kan, tentang perasaan Arisa? Tidak. Ia hanya asal bicara. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan awal kalinya Arisa menyukai Ken. Ken sama sekali tidak tahu tentang itu. “No, thanks,” lagi-lagi Arisa menolak. Ken mengangguk. “Oke,” ia mengalah. “Lo pengen gue main gitar atau piano?” “Yang mana pun nggak masalah.” Arisa mengedikkan bahu. Ken menatap Arisa lekat karena jawabannya, membuat Arisa lagi-lagi harus menghindari tatapannya. “Lo yakin, nggak ada lagu yang lo pengen gue mainin?” Ken kembali bertanya. Arisa menggeleng. “Oke,” ucap Ken enteng. *** Arisa melirik Ken, memperhatikan jemarinya yang bergerak di atas tuts hitam putih di depannya, memainkan beberapa melodi. Ken tiba-tiba menghentikan kesibukannya dan menatap Arisa. “Lo coba mainin lagu yang lo suka deh, sementara gue mikir.” “Heh?” Arisa melongo selama beberapa saat. Ken mengedikkan kepala ke arah piano. “Lo main,” ucapnya santai. “Kenapa?” tanya Arisa bingung. “Biar gue bisa mikir.” Jawaban Ken itu semakin membingungkan Arisa. Arisa meringis. Ia tidak tahu bagaimana itu akan berhasil, tapi karena sepertinya Ken tidak akan menyerah untuk yang satu ini, Arisa mengalah. Ken biasanya mengalah dengan mudah, jadi jika dia sudah menggunakan alasan yang tidak bisa dimengerti Arisa, itu artinya dia tidak akan menyerah. Dan sudah sejauh itulah Arisa mengerti Ken sejak mereka terjebak dalam tugas kelompok ini. “Gue nggak punya lagu kesukaan,” Arisa masih sempat berkata. “Tadi nyokap lo bilang, lo suka mainin lagu-lagunya Yiruma kalo main piano,” Ken tidak menyerah. Arisa menatap Ken yang sudah tersenyum penuh kemenangan. Mendengus pelan, Arisa memutuskan untuk segera memainkan satu lagu, hanya satu lagu, agar Ken berhenti menggerecokinya. Arisa menarik napas dalam, sebelum mulai memainkan salah satu lagu favoritnya. River Flows in You. Melodi yang mengingatkannya pada sosok yang saat ini duduk di sebelahnya. Dan Ken tidak perlu tahu itu. Setelah menyelesaikan satu lagu, Arisa bangkit dari duduknya. “Udah, kan? Sekarang terserah lo mau mainin lagu apa. Dan jangan harap gue mau mainin lagu lainnya cuma biar lo bisa mikir. Lo bisa mikirin lagu yang pengen lo mainin di rumah lo ntar,” ucapnya seraya hendak meninggalkan Ken, tapi ia dibuat terkejut ketika Ken menahan lengannya dan menariknya, membuat ia duduk kembali. “Gue udah tau mau main lagu apa,” Ken berkata. “Lo dengerin, dan kalo lo suka, kita pake lagu ini.” Arisa mengedikkan bahu. “Nggak penting gue suka atau nggak, kalo lo mainnya oke, kita pake lagu ini.” “I’ll feel better if you like it,” ucap Ken. “I said, it doesn’t matt…” “Just listen, okay?” Ken menyela. Arisa mendesah kecil seraya mengangguk. “Go on, then.” Ken menarik napas dalam, dan Arisa memperhatikan bagaimana ia berubah menjadi begitu serius, seperti saat ia sedang bermain musik di atas panggung. Arisa berusaha mengendalikan ekspresi sedatar mungkin ketika Ken menatapnya selama beberapa saat, sebelum memulai permainannya. The best thing about tonight that we’re not fighting Could it be that we have been this way before? I know you don’t think that I am trying I know you’re wearing thin down to the core   But hold your breath Because tonight will be the night That I will fall for you over again Don’t make me change my mind Or I won’t live to see another day, I swear it’s true Because a girl like you is impossible to find You’re impossible to find    (Secondhand Serenade – Fall For You)   Arisa terpaku di tempatnya mendengar lagu yang dimainkan Ken. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. “Lagu ini cocok kan, sama dramanya? Gue main lagu ini, abis itu gue confess ke lo, dan lo bilang yes, the end. Lo suka?” Arisa bisa merasakan Ken menatapnya. “Hm,” jawab Arisa pendek, sebelum ia bangkit dari duduknya dan bergegas meninggalkan Ken, sebelum cowok itu melihat ekspresi menyedihkannya. Ini hanya drama, Arisa berkata pada dirinya sendiri. Apa yang ia pikirkan? Apa yang ia harapkan? Dasar bodoh. *** Arisa memperlambat langkah ketika berbelok di koridor dan mendapati Ken dan teman-temannya berjalan tepat di depannya. Setelah seminggu ini, rasanya sedikit keterlaluan jika Arisa melewatinya begitu saja. Daripada harus berjalan dengan Ken dan teman-temannya, atau repot-repot menyapa mereka, lebih baik ia mengorbankan waktunya dan bersabar di belakang mereka seperti ini. Setidaknya, setelah hari ini, Arisa bisa kembali menjaga jarak dari Ken. Namun, teman-teman Ken, terutama Aira, benar-benar cerewet. Dengan santainya mereka mengobrol dan memenuhi koridor seperti ini. Memang, saat ini belum banyak murid-murid yang lewat di koridor, tapi tetap saja. Bahkan meskipun mereka adalah anak-anak populer di sekolah ini … “Eh, kemaren pas kita main ke rumah lo, nyokap lo ribut nanyain Arisa mulu. Lo kok nggak cerita kalo Arisa ke rumah lo?” Aira menyebut nama Arisa, membuat Arisa mengerutkan kening dan semakin fokus mendengarkan percakapan rombongan di depannya. “Iya. Nyokap lo kayaknya nge-fans banget ama Arisa. Kapan lo ngajak dia ke rumah? Akhirnya lo berhasil dapetin cewek yang lo suka nih, ceritanya?” goda Rey. Ken mendecakkan lidah, tampak terganggu. “Dia cuma ke rumah sekali, gara-gara tugas kelompok. Nyokap aja yang terlalu berlebihan.” “Kemaren gue juga sampai bingung pas nyokap lo tanya, gimana lo pertama ketemu ama Arisa,” Yura berkata. “Gue bilang aja kalo kalian deket gara-gara kalian satu kelompok.” Ken menoleh dan menatap Yura dengan kesal. “Lo ngapain ngomong gitu ke Nyokap? Nyokap pasti bakal mikir aneh-aneh, deh.” “Bukan salah Yura kali, Ken,” Dio angkat suara. “Lagian, lo mau dia ngomong apa? Lo suka ama cewek yang benci ama lo?” Ken kembali mendecakkan lidah, kesal. “Terserah kalian, deh. Tapi lain kali Nyokap tanya tentang Arisa, bilang aja kalian nggak tau apa-apa.” “Tapi kayaknya nyokap lo tau deh, kalo lo suka ama Arisa. Makanya …” “Gue nggak suka ama Arisa!” bentak Ken seraya menghentikan langkah. Ia berbalik untuk menatap Dio. “Gue nggak pernah suka sama … Arisa?” Ken tampak terkejut ketika melihat Arisa di sana. Arisa menunduk, menghindari tatapan Ken. “Temen-temen lo kayaknya nggak tau apa-apa, ya?” Ia berusaha membuat suaranya sesantai mungkin. Arisa mengangkat wajah untuk menatap teman-teman Ken. “Kayaknya kalian salah paham, deh. Ken nggak suka sama gue, dan gue nggak pernah benci sama dia, kok.” Arisa berusaha tersenyum saat mengatakannya. “Gue duluan ya,” Arisa kembali berkata pada Ken saat ia berjalan melewati Ken dan teman-temannya. Arisa menarik napas dalam, berusaha mengendalikan emosinya, meski saat ini air mata sudah memenuhi pelupuk mata. Sakit. Menyukai seseorang hingga sesakit ini … Arisa merasa bodoh. Ia baik-baik saja ketika menjaga jarak dari Ken. Ia baik-baik saja ketika menyimpan perasaannya untuk diri sendiri. Ia baik-baik saja sejauh ini, dan ia akan baik-baik saja setelah ini. Harus … “Arisa …” Suara itu membuat Arisa waspada. Arisa mempercepat langkah, tapi ia merasakan Ken menahan lengannya, lalu memutar tubuhnya, membuat Arisa berbalik menghadapnya. “Gue nggak bermaksud …” “It’s okay, Ken. Gue tau kok apa yang mau lo omongin, jadi nggak perlu khawatir. Sejak awal emang kita nggak ada apa-apa, kan? Temen-temen lo aja yang salah paham, jadi jangan terlalu dipikirin. Gue nggak pa-pa, kok.” Arisa berusaha tersenyum sembari menahan air mata, tapi bahkan sekuat apa pun ia menahan diri, air mata yang sudah mendesak di pelupuk matanya, akhirnya jatuh juga. Ken tersentak kecil, tampak terkejut hingga pegangannya di lengan Arisa melonggar. Memanfaatkan itu, Arisa menarik lengannya dan meninggalkan Ken. Dengan kasar ia menghapus air mata, tapi tak peduli berapa kali pun ia menghapusnya, air matanya terus saja jatuh ke pipi, tanpa sanggup ditahan. Dasar bodoh, Arisa memaki dirinya sendiri. Sekarang, bagaimana ia akan menghadapi Ken? Rasanya ia tak sanggup lagi menatap wajah Ken. Bahkan mungkin, ia harus menghentikan perasaannya pada Ken. Rasa sakit seperti ini … Arisa benar-benar membencinya. *** “Kayaknya sekarang dia bakal beneran benci deh ama gue.” Ken menghela napas berat. Dio mendengus tak percaya. “Sejak kapan lo tau kalo dia suka sama lo?” Ken mengacak rambutnya dengan kasar. “Gue nggak inget,” desahnya. “Di antara lima bulan terakhir ini, nggak tau kapan, akhirnya gue nyadar kalo dia ngehindarin gue bukan karena dia benci gue. Tapi gara-gara kejadian tadi, kayaknya ngeliat gue juga dia nggak bakal mau.” “Men, lo kacau,” dengus Rey. “Lo tau dia suka ama lo dan lo …” “Gue cuma penasaran, sampai kapan dia bakal nyembunyiin perasaannya ke gue. Waktu gue sekelompok ama dia, gue manfaatin itu buat deketin dia. Gue pikir, dia bakal berani confess kalo kita udah deket. Gue pikir …” “Lo suka ama dia,” cetus Aira. Ken menatapnya tajam. “Lo nggak ada kapoknya. Lo pikir gara-gara siapa tadi gue ngomong kayak gitu di depan Arisa?” Aira mengedikkan bahu santai. “Lo cuma perlu minta maaf kan, ke Arisa? Bilang kalo lo tadi kelepasan ngomong gara-gara lo marah ama gue ama yang lain. Atau lebih tepatnya, ngelampiasin kemarahan lo ke kita-kita.” Ken mendengus kasar. “Lo nggak terima, gue bilang lo yang salah?” “Lo nggak terima kalo gue bilang, lo yang nyakitin Arisa?” balas Aira sengit. Ken mendengus tak percaya. “Gara-gara kalian tadi …” Aira menyela kalimat Ken, “Lo nggak terima kalo ternyata lo suka ama Arisa, makanya lo marah ama diri lo sendiri, dan lo ngelampiasin itu ke gue ama yang lain? Tapi sialnya, tadi Arisa ada di sana dan denger lo ngomong kayak gitu. Jadi, berhenti ngelempar kesalahan ke kita-kita karena sejak awal, elo yang salah. Elo suka ama dia, tapi lo nggak mau ngakuin itu. Kenapa? Lo gengsi? Karena lo populer? Karena dia nggak confess lebih dulu? Lo nggak terima?” Kata-kata Aira itu menghantam Ken. Tidak. Ia tidak mungkin … “Bukan cuma rasa bersalah yang lo rasain pas Arisa pergi kayak tadi,” Aira melanjutkan. “Sakit, kan?” Ken memalingkan wajahnya. Tidak mungkin … “Elo yang egois, Ken,” cetus Aira. “Arisa mungkin emang suka ama elo, tapi terserah dia dong, dia mau confess atau enggak. Tapi kalo dipikir-pikir, gue bisa ngerti kenapa dia milih nyembunyiin perasaannya dari lo. Karena kayaknya, sejak lo tau perasaan dia, dia mulai ngerasa sakit gara-gara lo terus ngusik dia. Bukan perasaannya ke elo yang nyakitin Arisa, tapi elo. Karena itu, dia milih buat nggak confess. Karena dia tau, seandainya elo, atau temen-temen lo tau, ending-nya bakal kayak gini. Ending-nya, dia yang bakal terluka. Seenggaknya itu yang dia tau. Tapi lo lebih tau, dia bukan satu-satunya yang ngerasa sakit, kan?” Ken tercenung. Begitukah? Jadi … dia yang menyakiti Arisa. Jadi pada akhirnya, Arisa justru terluka karenanya. Ken mendengus pelan ketika menatap teman-temannya. “Jadi, sekarang … dia bakal beneran benci kan, ama gue?” gumamnya. Ken kembali memalingkan wajah melihat tatapan iba di mata teman-temannya. *** Ken tahu kenapa tidak ada satu orang pun di kelasnya yang tahu tentang perasaaan Arisa padanya. Cewek ini benar-benar pandai berakting. Bahkan setelah kejadian tadi pagi di koridor, dia masih bisa melakukan perannya dengan sangat baik. Dia tersenyum, tertawa dan bertengkar dengan Ken seperti Aira dan Rey, seolah kejadian tadi pagi tidak pernah ada. Ketika mereka tiba di adegan terakhir mereka, keduanya duduk berdampingan di depan piano. Ken menoleh untuk menatap Arisa, dan dadanya terasa sakit hanya dengan mengingat kejadian tadi pagi, mengingat bagaimana ia membuat Arisa menangis. Ken menarik napas dalam. “You’ll play for me, right?” suara Arisa terdengar begitu tulus. “For you, and only you,” Ken menjawab. Arisa menoleh, membalas tatapnya dan tersenyum. Saat itulah, Ken bisa melihatnya. Luka yang diberikan Ken pada cewek itu tampak jelas di matanya. Tak sanggup melihat rasa sakit Arisa lebih lama, Ken mengalihkan tatap ke arah piano dan memulai permainan pianonya. Ken bahkan belum tiba di bagian refrain-nya ketika menghentikan permainan pianonya. Ia bisa merasakan tatapan Arisa. “Ken?” cewek itu berbisik. Ken menarik napas dalam, lalu menoleh dan membalas tatapan Arisa. “I can’t do this anymore,” ia berkata. “I don’t wanna play this game anymore. I like you, Arisa. So stop pretending and just tell me how you really feel about me.” Arisa tampak sangat terkejut. Ken tidak heran jika cewek itu terkejut. Apa yang dikatakan Ken, sama sekali tidak ada dalam naskah drama mereka. “Just tell me the truth, should I stay or not?” lanjut Ken. Arisa tampak panik ketika memalingkan wajah dari Ken, membuat Ken mencelos. Cewek ini tidak lagi menginginkannya. Ken yang bodoh. Setelah kejadian tadi pagi, apa yang ia harapkan? “I bet you hate me now, for real. But what should I do? I like you. Well, I understand if you don’t wanna see me anymore. I know it sounds stupid but … I’ll go, then. For you. So, don’t be sad anymore, and don’t get hurt, cause it’s killing me to see you this way. I’ve been so selfish this whole time. I’m so sorry, Arisa.” Ken memaksakan senyum, senyum yang menyakitkan, sebelum ia bangkit dari duduknya dan tanpa menoleh ke belakang, meninggalkan stage diikuti tatapan teman-teman sekelasnya di aula. Ken bahkan tak meminta izin pada Miss Anne ataupun Bu Sandra saat meninggalkan aula. Ia hanya tak sanggup berada di sana lebih lama, dan menyakiti Arisa lebih jauh lagi. Ken memejamkan mata ketika sakit yang menyesakkan menghunjam d**a. Bodohnya. Apa saja yang ia lakukan ketika cewek itu menyukainya? Setiap kali Ken menoleh, ia selalu melihat cewek itu di sana, menatapnya. Arisa selalu berada di tempat yang sama, sampai Ken membuatnya berpaling dan meninggalkannya. Ken yang bodoh, karena tidak pernah menghargai perasaan cewek itu saat ia masih ada di sana. Ken yang bodoh, karena terlalu terlambat menyadari perasaannya sendiri pada cewek itu. Ken yang bodoh, karena terlalu egois untuk mengakui perasaannya. Ken tahu, kehilangan Arisa memang adalah hukuman untuknya. Untuk keegoisannya yang telah menyakiti cewek itu. Ken bahkan mendapat hukuman yang lebih pantas untuknya. Setiap kali Ken menyakiti Arisa, ia justru lebih terluka lagi. Melihat cewek itu terluka, rasanya benar-benar menyakitkan. Dasar bodoh, Ken memaki dirinya sendiri dalam hati, menyadari penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Ia telah kehilangan Arisa. *** Beberapa minggu telah berlalu sejak kejadian di aula, dan teman-teman Ken yang saat itu juga membolos untuk melihat Ken, juga tak sekali pun membahas itu. Ken tidak perlu penegasan lebih jauh lagi tentang kebodohannya, dan teman-temannya itu tampaknya sangat mengerti. Sejak kejadian itu, Ken tidak pernah lagi melihat Arisa menatapnya. Ken mungkin sudah gila. Ia hampir tidak pernah bisa melepaskan pandangan dari Arisa, sementara cewek itu sama sekali tak mempedulikannya. Sepertinya, memang ini yang terbaik bagi Arisa. Setidaknya sekarang, bukan Arisa yang terluka. Bahkan setelah beberapa minggu, Ken mulai terbiasa dengan teman-teman sekelasnya, bahkan murid-murid di sekolah ini, yang tak hentinya membicarakan tentang Ken dan Arisa. Setiap minggu, cerita yang menyebar selalu berbeda. Minggu pertama, semua orang mengatakan Arisa menolak Ken. Minggu berikutnya, ceritanya berganti menjadi Ken menyukai Arisa yang sangat membencinya. Dan minggu berikutnya, Ken menjadi orang yang memendam perasaan pada Arisa sejak lama. Untuk minggu ini, Ken tidak akan terlalu terkejut jika mendengar cerita baru lagi. “Gue denger, Ken salah paham sama Ari-chan. Katanya, Ken ngirain kalo Ari-chan itu juga suka sama dia.” Ken mendengar seorang teman sekelasnya memulai cerita baru lagi. Ken hanya menanggapi itu dengan senyum geli. Entah mengapa, mendengar cerita-cerita itu justru menghiburnya. Ken dan Ari-chan. Setidaknya ia masih bisa mendengar nama itu. “Bisa nggak sih, kalian berhenti bikin cerita sembarangan gitu?” Ken mengenali suara itu. “Kalo kalian nggak tau apa-apa, mending kalian diem, deh, daripada bikin cerita yang nggak jelas sumbernya gitu. Apa kalian nggak mikirin perasaannya Ken?” Ken nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun, saat ia tiba di depan pintu kelasnya, ia benar-benar melihat Arisa berdiri di sana, menatap kesal ke arah kerumunan murid-murid yang tadi sedang membicarakan Ken. “Biar jelas buat kalian ya, cerita sebenernya itu, bukan Ken yang suka sama gue, tapi gue yang suka sama dia. Jadi, dia bukannya salah paham. Gue emang pernah suka ama dia. Gua bahkan udah suka sama dia sejak pertama kali gue masuk ke kelas ini dan liat dia. Lagian, tau apa kalian tentang perasaannya Ken? Mau dia suka sama gue, kek, mau gue suka sama dia, kek, apa urusannya sama kalian? Tapi yang jelas, sekarang gue sama dia udah nggak ada apa-apa. Jadi, tolong, berhenti buat cerita nggak jelas kayak gitu,” sembur Arisa. Ken meringis. Jadi, sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi di antara mereka? Arisa salah. Cewek itu mungkin sudah tidak lagi melihat Ken, tapi Ken tidak pernah sekali pun memalingkan tatapan darinya. Ken tersenyum kecil ketika Arisa berbalik dan melihatnya. Ken sempat melihat keterkejutan Arisa sebelum cewek itu memalingkan wajah. Rasa sakit yang Ken rasakan karenanya, tidak lagi membuat Ken mengeluh. Ia sudah terbiasa. Saat Arisa melewatinya untuk meninggalkan kelas, Ken harus menahan diri untuk tidak menahannya. Kekosongan yang sudah akrab menghinggapi hatinya saat cewek itu berlalu bahkan tanpa menatapnya. Ken tersenyum getir. “Kayaknya sekarang dia juga udah muak denger nama gue.” Ken menghela napas berat ketika memasuki kelas, mengabaikan tatapan murid-murid yang tadi membicarakannya. Ken mengangkat alis ketika Aira dan yang lain mengikutinya ke kelas, alih-alih pergi ke kelas mereka. “Lo sama sekali nggak mau berusaha buat deketin dia lagi?” Dio bertanya. Ken mendengus. “Lo nggak liat tadi, dia bahkan udah nggak mau ngeliat gue lagi.” Aira mendecakkan lidah tak sabar. “Gue baru tau kalo lo sebodoh ini.” Ken mengedikkan bahu. Ia juga baru tahu. “Nih, hadiah gue buat lo,” Aira kembali berkata seraya meletakkan ponselnya di meja Ken. “Minggu depan lo bakal tampil di festival sekolah, tapi kalo lo sama sekali nggak bisa konsen pas latihan gara-gara mikirin Arisa, gimana penampilan lo di festival ntar? Pokoknya, abis lo liat hadiah dari gue ini, minggu depan penampilan lo harus bagus. Awas aja kalo lo bikin kacau penampilan Rey ama Dio.” Setelah mengatakan itu, Aira meninggalkan kelas Ken, diikuti Yura, Dio dan Rey. Ken mendengus geli. Ia mengakui, ia memang tidak konsentrasi selama latihan beberapa waktu kemarin. Namun, ia tidak akan mengacaukan penampilan Rey ataupun Dio. Bahkan meskipun ia masih tidak bisa menyingkirkan Arisa dari kepalanya, ia tidak akan membuat Rey dan Dio mendapat masalah karenanya. Bahkan meskipun ia nyaris gila karena Arisa, tapi ia tidak akan membuang band dan persahabatannya begitu saja. “Apaan coba ngomong kayak gitu,” dengus Ken kesal seraya mengambil ponsel Aira di mejanya. “Dan ini apaan lagi coba? Si cerewet itu emang …” Kalimat Ken terhenti saat ia melihat gambar Arisa di layar ponsel Aira. Video apa ini? Ken memutar file video itu dan ia dibuat tak sanggup berkata-kata karenanya. Itu adalah video rekaman penampilan Ken dan Arisa saat tugas conversation dan kesenian di aula beberapa minggu lalu. Hanya saja, ini adalah adegan yang tidak ada di naskah drama mereka, dan Ken juga tidak melihatnya. Ini adalah kejadian setelah Ken meninggalkan aula. Ini adalah jawaban Arisa untuk pernyataan gilanya waktu itu. Melodi favorit Arisa; River Flows in You. “Dasar bodoh,” gumam Ken ketika melihat Arisa mengusap pipinya yang basah oleh air mata ketika cewek itu berjalan ke seat belakang, menghindari perhatian teman-teman sekelas mereka. “Kenapa lo biarin gue bikin lo nangis lagi?” gumam Ken sedih. “Mau separah apa lagi lo nyiksa gue, Arisa?” ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD