#2 Letter - Chapter 1

2819 Words
#2 Letter   Will You Be Alright? Aku tak pernah tahu Kau selalu ada di sampingku Yang aku tahu, aku tak akan bisa tanpamu    Chapter 1 Truth or dare? As long as I’m with you It doesn’t matter   “Dare macam apa coba kayak gitu,” protes Dio ketika mendengar dare dari Aira untuk Yura. “That’s why kita sebut ini truth or dare. Kita harus tulus juga maininnya. Kemaren waktu gue dapet dare, gue disuruh Yura confess ke Rey di depan kelas,” Aira beralasan. Dio menatap Yura gemas. Apa ia lupa, Aira sangat suka membalas dendam dengan cara yang mengerikan? “Waktu itu kayaknya seru aja …” gumam Yura. Dio mendengus tak percaya. Membereskan kekacauan Yura tidak selalu mudah. “Ya udah sih, daripada Yura pacaran sama sembarang cowok, mending dia pacaran sama lo aja, Yo,” saran Arisa. Di sebelahnya, Ken sudah tersenyum geli, sementara di depan Aira, Rey mengangguk setuju. Dio mengerutkan kening menatap cewek itu. “Lo enak ngomong aja, Sa. Lo sama Ken pacaran karena saling suka, sementara …” “Kita nggak pacaran,” sela Ken. Dio mengangkat alis. “Kita dalam masa menepati janji menuju pernikahan,” lanjut Ken. “Gue sama Arisa nggak sekedar pacaran. Gue serius sama dia.” Dio mendengus kasar. “Suka-suka lo, deh,” ia mengalah. “Tapi yang jelas …” “Jangan bawa-bawa Dio, dong,” Yura tiba-tiba berkata. “Masa gue bikin dia repot terus.” “Destiny, Ra,” Aira membalas santai. Dio menatap Aira geram. Bagaimana bisa ia memberikan dare pada Yura untuk berpacaran dengan seseorang, tidak hanya sehari atau seminggu, tapi sebulan. Terlebih, ini Yura. Apa yang ia harapkan? “Kalo ama Rey nggak boleh, ya?” tanya Yura hati-hati. “Lo bilang Rey itu punya gue. Kan lo yang pengen nyomblangin gue sama Rey,” sahut Aira enteng. Yura mengangguk. “Harusnya dulu gue ngasih dare-nya kayak gini, ya? Jadi kalian bisa jadian.” Aira tergelak mendengarnya. “Berarti next time, gue harus ngehindarin dare, ya?” Yura memanyunkan bibir seraya menatap sekeliling kantin. Dia tidak memikirkan apa yang Dio pikir dia akan lakukan, kan? Namun karena ini Yura, Dio tidak berharap banyak. “Rey, bantuin gue ngomong ke Alfon, dong,” ucap Yura kemudian. Dio menarik napas dalam, berusaha menahan teriakan tak sabarnya mendengar rencana Yura. Baru satu bulan tahun ajaran baru dimulai dan ia sudah sibuk membereskan masalah Yura, seperti biasa. “Alfon anaknya baik, kan? Nggak pa-pa kan, kalo gue minta tolong ke dia? Dia pasti mau bantuin gue, kan? Gue lumayan deket ama dia kok, sejak kita sekelas tahun ini. Dia juga sering bantuin gue,” urai Yura. Baik, tidak. Player, iya. Alfon selalu mendekati cewek-cewek di sekolah ini, menaklukkan mereka, lalu meninggalkan mereka. Itu hanya permainan baginya. Namun bagi Yura, di dunia ini, hanya ada dua jenis orang di dunia ini; baik dan jahat. Dan di matanya, nyaris semua orang bisa tampak baik. Yura bangkit dari duduknya, tapi Dio kembali menariknya untuk duduk. “Sama gue aja,” akhirnya ia berkata. Bahkan meskipun bukan Alfon, ia tetap tidak akan bisa percaya pada cowok lain. Pengecualian untuk Rey dan Ken. “Eh?” Yura membulatkan mata. “Tapi lo …” “Nggak ada Alfon, dan nggak cowok-cowok lainnya,” tegas Dio. Ia lalu menatap Aira kesal. “Yura bakal pacaran sama gue selama sebulan. Puas lo?” Aira tersenyum lebar sebagai balasan. Dio kembali menatap Yura yang tampak menyesal. “Gue bisa kok, minta tolong Alfon,” ia kembali berkata. “Gue bilang, nggak ada Alfon, Yura,” Dio menekankan. “Dan mulai sekarang, jangan deket-deket lagi ama dia. Bilang kalo lo udah punya pacar. Kalo lo butuh bantuan, minta ama Rey atau Aira.” Tahun ini, Dio tidak berada di kelas yang sama dengan Yura. Dua tahun sebelumnya, ia selalu berada di kelas yang sama dengan Yura sehingga dia bisa menjaga cewek itu. Namun tahun ini, Yura berada di kelas yang sama dengan Rey dan Aira, sementara Dio bergabung di kelas yang sama dengan Ken dan Arisa. “Waktu itu gue udah nawarin buat tukeran kelas, lho,” celetuk Aira. “Elonya aja yang nolak.” Dio menatap Aira geram. Ya, Aira menawarkan mereka untuk bertukar kelas. Saat itu, Dio mengkhawatirkan Yura karena Alfon mulai mendekatinya hanya dalam dua hari setelah mereka berada di kelas yang sama. Hanya saja, sebagai balasannya, Dio harus melakukan dare mencium Yura. Terkadang Aira memang sangat keterlaluan. “Dan gue juga udah bilang ke elo berdua dengan sangat jelas, jangan biarin Alfon deketin Yura, kalian lupa?” tudingnya pada Rey dan Aira. Rey mengangkat tangan. “I’ve tried my best, Man. Tapi kayaknya gue ama Aira emang nggak bisa nandingin lo kalo soal ngawasin Yura. Kita juga nggak tau kapan Alfon deketin Yura,” ia membela diri. Dio menarik napas dalam. “Alfon baik kok,” ucap Yura lagi, dengan polosnya. Dio menatap Yura putus asa. “Yura, dengerin gue. Mulai sekarang, lo pacar gue. Jadi, kalo ada apa-apa, lo nggak boleh minta tolong ama cowok lain kecuali gue, Rey atau Ken. Ngerti?” Yura mengerutkan kening. “Kita … beneran pacaran?” Dio tersenyum lemah saat mengangguk. “Jadi, kalo ntar Aira ngajakin main truth or dare lagi, lo pilih truth aja, ya? Lo nggak mau kan, kalo ntar lo ditantang pacaran ama gue selama setahun?” Yura meringis. “Sori ya … gue ngerepotin elo … lagi.” Dio kembali tersenyum seraya mengusap lembut kepala Yura. Tiga tahun sudah berlalu sejak ia pertama kali bertemu Yura, tapi ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan cewek ini. Sejak awal, saat melihat Yura tersandung kaki meja dan terjatuh di sampingnya saat cewek itu datang sebagai murid baru di SMP, ia mendapati dirinya ingin selalu melindungi cewek ini. *** “PJ, PJ,” tuntut Aira saat mereka berjalan ke pelataran parkir. Dio menatap Aira galak. “Elo yang maksa gue jadian ama Yura, dan lo masih berani minta PJ?” Aira menyeringai. “Sebagai gantinya, ntar gue bakal lebih ketat ngawasin Yura biar nggak deket-deket ama Alfon,” ia berbisik pada Dio. Dio mendesis kesal ke arah cewek itu, lalu menatap Yura dan berkata, “Bilang nyokap lo kalo lo bakal pulang telat.” “Kenapa? Lo beneran mau nraktir anak-anak?” tanya Yura bingung. Dio mendesah pelan dan mengangguk. Setidaknya itu sepadan dengan apa yang ditawarkan Aira. Aira dan Rey sudah saling ber-high-five sementara Arisa dan Ken hanya tersenyum geli melihatnya. “Sori ya, gue jadi ngerepotin elo lagi,” ucap Yura muram. Dio meringis. Setiap kali merasa menyesal, Yura selalu meminta maaf. Bahkan meskipun itu bukan salahnya. *** “Ra?” Dio mengguncang bahu Yura pelan, tapi alih-alih bangun, tubuh cewek itu justru terjatuh ke arahnya. Dengan sigap Dio menangkap bahu Yura, lalu dengan hati-hati disandarkannya kepala cewek itu di bahunya. “Jam tidur siang,” Aira berbisik dari meja seberang. “Ini belum jam setengah tiga,” balas Dio dalam bisikan, tak ingin membangunkan Yura. Aira mengedikkan bahu. “Tapi dia tidur nyenyak banget, tuh.” Dio menghela napas berat. Yura bahkan sering tidur siang saat menunggu Dio, Rey dan Ken latihan band sepulang sekolah. Dan itu selalu di antara jam setengah tiga sampai jam tiga. Biasanya jika mereka mampir ke kafe, mereka akan pulang sebelum jam setengah tiga karena jam tidur siang Yura. Yura sendiri bilang, meski ia tidak selalu tidur siang, tapi ia jarang melewatkannya karena itu kebiasaannya sejak kecil. Hanya saja, belakangan ini memang tampaknya Yura semakin mudah tertidur. Ia tampak lelah. Mungkin ia belajar terlalu keras hingga larut malam. Dio bahkan dibuat terkejut karena cewek itu masih sempat tertidur saat mereka berada di atas motor beberapa kali. Dan Dio tak bisa untuk tidak khawatir tentang itu. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk menggunakan mobil demi keselamatan cewek itu. Dio lalu menatap Aira yang sudah menyeringai. Dio bahkan tak bisa melakukan apa pun ketika Aira mengambil gambar tidur Yura di sebelahnya. Meski begitu, menanggapi tatapan tajam Dio, Aira beralasan, “Ini buat mastiin dia nurut ama gue. Lo mau dia deket-deket ama Alfon?” *** Yura perlahan membuka mata dan keningnya berkerut melihat kursi-kursi kosong di depannya. Ini di mana? Yura mengucek mata seraya menoleh ke tempat ia bersandar, lalu terkesiap dan segera menarik diri. “Dio!” panik Yura, lalu menatap sekeliling dan mendapati hanya ada dirinya dan Dio di meja mereka di kafe. “Kenapa nggak bangunin gue?” Yura mulai merasa bersalah ketika menatap Dio lagi. Dio tersenyum. “Gimana gue mau bangunin lo? Ini emang jam tidur siang lo,” ucapnya enteng, membuat Yura semakin merasa bersalah. Rasanya tak pernah sehari pun ia tak merepotkan Dio. “Tapi tadi kayaknya belum jam setengah tiga,” Yura merengut. “Belakangan ini gue gampang banget tidurnya,” lanjutnya. “Trus yang lain?” “Gue suruh balik duluan. Lagian, cowok lo kan, cuma gue, ngapain mereka harus ikut nungguin lo?” sahut Dio geli. Yura mengerang penuh sesal. “Lain kali, lo bangunin gue aja, Yo,” ucapnya. Dio hanya menjawab dengan anggukan, tapi Yura tak yakin dia akan benar-benar melakukannya. Teman-temannya ini memang sedikit berlebihan mengenai jam tidur siangnya. Yura bisa saja melewatkan jam tidur siangnya, tapi teman-temannya itu tidak pernah membangunkannya jika ia tertidur. “Gue serius,” desak Yura. “Lain kali, lo bangunin gue, ya?” Dio tersenyum dan lagi-lagi mengangguk. Dia selalu seperti itu. *** “Yura!” Panggilan itu membuat Yura menghentikan langkah dan berbalik. Ia tersenyum dan membalas lambaian tangan Alfon. Namun kemudian, ia tersentak saat merasakan seseorang melingkarkan lengan di bahunya. “Lo belum bilang ke dia kalo lo udah punya cowok?” tanya Dio tajam. Yura mengerutkan kening. “Kita kan, baru jadiannya kemaren. Lagian, itu juga karena dare-nya Aira. Ngapain coba gue mesti ngomong gitu ke Alfon?” “Kalo gitu, biar gue yang ngomong,” sahut Dio. Dio benar-benar melakukan apa yang dikatakannya ketika Alfon berdiri di depan Yura. “Gue cowoknya Yura,” Dio berkata tanpa basa-basi. Alfon menatap Yura, lalu Dio. “Gue tau kalian sahabatan, tapi …” “Apa perlu gue ulangin?” sela Dio tajam. Yura menatap Dio keheranan. Sepertinya Dio tak terlalu suka dengan Alfon. Alfon tersenyum. “Beneran, Ra? Lo udah jadian ama Dio?” ia bertanya pada Yura. “Iya, sih, tapi …” “Jadi, lo jangan ganggu cewek gue lagi,” Dio memotong kalimat Yura. Alfon kembali menatap Dio. “Gue nggak tau kalo usaha gue buat temenan ama Yura dianggep salah di mata lo.” “Lo pikir gue nggak tau kenapa lo deketin Yura?” sengit Dio. “Lo udah bosen ama cewek-cewek koleksi lo?” Alfon menyipitkan mata. “Ya, gue udah bosen main-main. Gue baru mau serius, ama Yura. Gue pengen jadi temennya.” Yura terkejut ketika tiba-tiba Dio melepaskan rangkulan di bahunya dan mencengkeram kerah seragam Alfon. “Dio!” panik Yura seraya berusaha menarik Dio, tapi Dio jauh lebih kuat darinya, membuat usahanya sia-sia. “Lo apa-apaan, sih?!” Yura memukul lengan Dio kuat-kuat. Yura baru bisa bernapas lega ketika Rey yang keluar dari kelas melihat mereka dan segera menarik Dio dari Alfon. Pagi ini, karena Yura bangun kesiangan, Dio meminta teman-teman mereka untuk tidak menunggu di pelataran parkir dan langsung ke kelas saja. Sepertinya, besok Yura akan bangun lebih pagi untuk menghindari masalah seperti ini lagi. “Wow, wow … pagi-pagi udah mau buat masalah lo, Man? Apa gara-gara ini lo nyuruh gue ama Ken berangkat duluan?” Rey menatap Dio dengan bingung. Dio melepaskan pegangan Rey dan kembali menghadapi Alfon. Sebelum Dio kembali melakukan hal bodoh, Yura berdiri di depannya, memotong aksesnya dari Alfon. “Yura,” panggil Alfon kemudian. “Sekarang gue tau lo udah punya cowok, tapi gue boleh kan, jadi temen lo?” “Eh? Iya … nggak pa-pa, kok,” sahut Yura. “Sori ya … Dio lagi bad mood.” Alfon tersenyum dan mengangguk. “Gue duluan, ya? Sampai ketemu di kelas,” ucapnya sebelum meninggalkan mereka di koridor. Yura lalu berbalik untuk menghadapi Dio. “Lo kenapa, sih?! Lo ada masalah sama Alfon?” Dio mendengus kasar. “Lo nggak denger tadi dia ngomong apa? Dia mau deketin lo dan …” “Dia mau temenan ama gue, Dio. Apa salahnya itu? Dia juga sering bantuin gue, kok,” balas Yura mantap. Dio menghembuskan napas frustasi. “Dia itu playboy, Yura. Dia juga sering deketin cewek-cewek lain dan akhirnya ninggalin mereka. Dia …” “Cuma mau temenan ama gue,” sela Yura tajam. “Lagian, dia mau nyakitin gue kayak gimana coba? Gue kan, cuma temenan ama dia.” “Kalo lo sampai suka ama dia …” “Kenapa gue bisa suka ama dia padahal gue udah punya cowok?” lagi-lagi Yura menyela. “Ra, lo juga tau kan, kita ini jadian cuma gara-gara dare dari Aira,” Dio berkata. Yura mengangguk. “Gue tau kita bukan pasangan kayak Ken ama Arisa, tapi asal lo tau, gue nggak bakal sembarangan suka ama cowok lain selama gue udah punya cowok. Lagian, gue juga nggak ada waktu mikirin cowok. Lo pikir, kenapa Aira ngasih dare kayak gini? Jadi, lo nggak usah khawatir. Gue nggak bakal suka ama Alfon, atau cowok mana pun. Karena, gue nggak ada waktu buat itu.” Setelah mengatakan itu, Yura meninggalkan Dio dan Rey. *** Yura mulai kesal ketika Aira dan Rey terus saja mengawasinya sepanjang hari. Yura yakin, ini ada hubungannya dengan Dio. Apa mereka pikir Yura bodoh? Yura tak mengerti kenapa Dio sampai semarah tadi pada Alfon hanya karena Alfon ingin berteman dengannya. Yura juga tahu jika banyak murid-murid perempuan di sekolah yang menyukai Alfon. Bahkan meskipun Alfon memang playboy, tapi dia baik. Apakah salah jika Yura berteman dengan Alfon? Baiklah, katakan saja Dio hanya khawatir pada Yura. Dio selalu khawatir pada Yura, dan Yura juga sangat tahu itu. Karena itu, tahun ini ia berencana memperbaikinya. Ia ingin menunjukkan pada Dio bahwa dia juga akan baik-baik saja tanpa merepotkan Dio. Namun, Dio bahkan tidak membiarkannya berteman dengan Alfon. Lagipula, Yura bukan Aira, yang bisa sembarangan suka pada orang. Yura benar-benar tidak punya waktu untuk memikirkan itu. Apalagi sekarang mereka sudah di tahun terakhir SMA. Yura harus lebih fokus lagi dengan belajarnya. Peringkat dua besar sejak masuk SMA yang diraihnya bukannya terjadi begitu saja. Ia harus belajar keras untuk itu. Ia juga tidak punya waktu untuk bermain spy dengan Rey dan Aira seperti ini. *** “Baru jadian kemaren, sekarang udah berantem?” goda Aira saat mereka berjalan ke pelataran parkir. Yura melirik Aira dengan kesal. Sementara Dio di belakangnya sama sekali tak berkomentar. “Gue nggak bego ya, Ai,” sengit Yura seraya menatap Aira kesal. “Gue tau kok, Dio pasti minta lo ama Rey buat mata-matain gue, kan? Kalian pikir gue ini …” Kalimat Yura berakhir dengan jeritan kaget ketika tiba-tiba seseorang menariknya ke belakang. “Dio apaan, sih?!” kesalnya seraya menarik diri. Dio tak mengatakan apa pun dan mengedikkan kepala ke depan Yura. Mengikuti tatapan Dio, Yura mendapati ia nyaris menabrak pagar pelataran parkir. Yura berdehem seraya bergeser untuk menghindari pagar, lalu melanjutkan langkah memasuki pelataran parkir tanpa menoleh ke belakang. Dalam hati, Yura memaki kecerobohannya. Ia nyaris saja bertindak bodoh di depan Dio. Namun jika dipikir-pikir, ia memang sudah pernah menabrak pagar, beberapa kali, saat bersama Dio. Hanya saja, kali ini berbeda. Terlebih, Yura sedang marah pada Dio. Tentu saja dia … “Ra.” Suara itu terdengar lelah di telinga Yura. Yura menoleh dan mendapati Dio sudah berdiri di belakangnya, lalu menggandeng tangan Yura dan menariknya ke arah sebaliknya. “Eh?” Yura menatap Dio bingung. “Tadi gue bawa mobil,” jelas Dio pendek. “Ah …” gumam Yura seraya dalam hati kembali memaki kebodohannya. Bagaimana ia bisa lupa? “Tapi, belakangan lo bawa mobil terus. Motor lo kenapa?” Tanpa menatap Yura, Dio menjawab, “Karena bawa lo naik motor pas lo ngantuk itu bahaya.” Yura berdehem. Ia sama sekali tidak berpikir tentang itu. Memang, beberapa waktu terakhir ini, Yura sempat tertidur dalam perjalanan pulang di atas motor Dio. Dia hanya sedikit kelelahan karena belajar lebih keras setiap malam karena ini adalah tahun terakhirnya. Jadi … inikah alasan Dio memakai mobil alih-alih motor kesayangannya? “Sori ya, gue ngerepotin elo lagi,” akhirnya Yura berkata. Dio menghentikan langkah, dan akhirnya berbalik untuk menatap Yura. “Kalo lo nggak mau ngerepotin gue, lo harus dengerin kata-kata gue, oke?” ucapnya. Yura merengut. “Itu berarti gue nggak boleh temenan ama Alfon?” Dio menghela napas berat. “Jangan sampai lo suka sama dia,” ia berkata. Yura tersenyum lebar seraya mengangguk. “Gue udah punya cowok, ngapain gue suka sama cowok lain?” ucapnya geli. “You should trust me, Ra,” ucap Dio kemudian. Yura menatap Dio lekat. “I do. All the time.” Yura sempat melihat keterkejutan di mata Dio, sebelum dia berbalik dan kembali menggandeng Yura bersamanya menuju parkiran mobil. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD