Chapter 3

2481 Words
Chapter 3 Hold my hand Cause I won’t let you go   “Wah … gue nggak tau kalo ending-nya murid-murid di sekolah pada tau kalo kalian jadian,” Aira berkata. “Lo nembak Yura di depan murid-murid lain atau gimana, Yo?” Dio mendecakkan lidah kesal, mulai terganggu. “Lo urusin Rey aja deh, Ai.” “Ntar kalo gue cuma ngurusin Rey doang, cewek lo diambil Alfon gimana?” balas Aira. Dio mengumpat dalam hati. “Selain Alfon, jangan campurin urusan gue sama Yura. Lagian, ini semua kan, gara-gara dare bodoh lo itu,” sengitnya. “Maka dari itu, gue bilang, ini kan cuma dare, tapi kenapa sampai anak-anak lain pada tau? Lo nggak lupa kan, kasusnya Ken ama Arisa dulu? Ntar kalo kalian putus cuma dalam hitungan minggu, bayangin aja, rumor apa aja yang bakal nyebar di sekolah. Kalo elo doang sih, gue nggak masalah. Tapi kalo Yura …” “Gue bilang, itu urusan gue!” suara Dio meninggi. “Biasa aja lah, Yo,” Rey angkat bicara. “Aira kan, cuma ngasih tau kemungkinan terburuk.” Dio mendengus kasar, lalu menarik tangan Yura dan meninggalkan teman-teman mereka menuju pelataran parkir. “Dio.” Panggilan Yura menghentikan Dio di samping mobilnya. “Nggak usah khawatir, Ra. Gue nggak bakal ngebiarin cerita-cerita nggak bener itu ganggu lo,” Dio berkata, berjanji dalam hatinya. Semua orang boleh mengatakan apa pun tentangnya, dan Dio tidak peduli, selama mereka tidak melibatkan Yura. *** “Lo nggak pa-pa?” tanya Rey malam itu saat ia dan Ken menemui Dio di kafe. Rey mengajaknya keluar hanya dengan Ken malam itu. Dio menoleh. “Kenapa?” Rey mengedikkan bahu. “Aira minta gue nanyain itu.” Dio mendesah lelah. “Dulu waktu Ken ada masalah ama Arisa, dia ngerecokin Ken mulu. Sekarang gue? Cewek lo tuh, emang hobi bikin orang lain kesel,” keluhnya. Rey mengangkat tangan. “Kalo lo lupa, yang punya cewek di sini elo sama Ken. Bukan gue.” Dio mendengus. Itu tak merubah apa pun. Kecuali untuk Ken dan Arisa. Sementara Dio dan Yura, sebelumnya juga mereka selalu seperti ini. Tidak ada yang berubah, kecuali status mereka, dari sahabat, menjadi pacar. “Selain Dio ama Yura, lo ama Aira juga cocok jadi couple. Kalian berantem, baikan, berantem lagi, baikan lagi, dan apa pun yang kalian lakuin, ending-nya kalian bareng lagi, bareng lagi,” celetuk Ken. Rey meringis. “That’s friendship, Bro. Dan gue nggak berniat buat ngorbanin itu buat hubungan konyol yang namanya pacaran,” tegasnya. “Lagian, gue nggak mau ribet urusan ama cewek. Ngeliatnya aja bikin capek.” Ken dan Dio berpandangan. “Lo nggak pernah nyoba, Rey,” celetuk Dio. “And risking everything?” dengus Rey seraya menggeleng. “Stop ngomongin tentang gue. Kita lagi ngebahas elo, Yo. Elo ama Yura,” tegasnya. “Gue ama Yura baik-baik aja,” balas Dio enteng. “Elo yang nggak baik-baik aja,” tuduh Rey. “Lo jadi … lebih sering marah-marah nggak jelas,” sebutnya hati-hati. Dio menghela napas. Jika dia tampak seperti itu di mata teman-temannya, jujur ia tak bermaksud. Hanya saja … belakangan ia merasa tidak bisa tenang. Dan alasan utama dari itu semua adalah … Yura. “Lo suka beneran ama Yura?” tembak Rey. Pertanyaan itu menyentak Dio. “Nggak mungkin lah,” sanggahnya. “Gue cuma … khawatir aja ama dia. Apalagi Alfon kayaknya serius deketin dia. Lo berdua kan juga tau, Yura kayak gimana. Kalo sampai dia kenapa-napa …” “Kalo emang Alfon serius ama Yura, bukannya Yura bakal baik-baik aja?” Ken memotong. “Lagian, beberapa bulan ini gue denger Alfon nggak deket lagi ama cewek-cewek koleksinya. Mungkin, dia emang serius ama Yura.” Dio tak terlalu suka mendengar itu. “Lo mau gue percaya itu?” dengusnya kasar. “Kalo seandainya Alfon emang serius ama Yura, gimana?” tantang Rey. “Nggak mungkin,” Dio menggeleng. “Alfon itu …” “Dia tanya ama gue, apa Yura beneran jadian ama lo,” potong Rey lagi. “Pas gue jawab iya, dia tanya, apa lo emang suka ama Yura, atau cuma Yura yang suka ama lo dan lo terpaksa jadian ama dia.” Dio mengepalkan tangannya. “Dan lo bilang apa?” Rey mengedikkan bahu. “Gue bilang ke dia buat tanya ke elo ama Yura sendiri.” Dio menyipitkan mata tak suka. “Alfon tanya gitu ke gue sebelum insiden di perpustakaan tadi,” ucap Rey. Dio sedikit terkejut. “Dari mana lo tau kejadian di perpustakaan itu?” “Yura,” sahut Rey santai. “Sore tadi Aira nelpon dia, dan lo tau sendiri lah, gimana ngerinya anak itu kalo nginterogasi.” Dio menghela napas berat. “Jadi, dia mau nanya langsung ke Yura tentang hubungan gue ama Yura?” “Kayaknya sih, gitu,” Rey mengangguk. “Dan lo tau kan, Yura nggak jago bohong. Jadi …” “Makanya, gue udah bilang ke elo ama Aira, kan? Jangan tinggalin Yura sendirian.” Dio tak dapat menahan kekesalannya. “Oke, seenggaknya selama dia masih cewek lo, lo bisa ngelarang dia temenan ama Alfon, atau cowok lain. Tapi ntar, pas permainan ini udah selesai, lo juga tau kan, lo nggak bisa lagi ngatur-ngatur Yura?” ungkit Rey. “Bahkan meskipun gue bukan cowoknya, selama ini gue selalu jagain dia. Jadi, gue …” “Nggak berhak ngatur hidup dan perasaan Yura,” Rey menyela. “Kalo Yura suka sama Alfon, apa lo bisa ngubah perasaannya?” “Dia bilang, dia nggak punya waktu buat hal-hal kayak gitu,” Dio menyanggah. “Trus, kenapa lo khawatir kalo Yura temenan sama Alfon?” serang Rey. “Karena gue peduli ama dia, karena gue khawatir dia bakal terluka, karena …” “Man … are you blind?” Rey terdengar tak sabar. “Lo nggak rela kan, Yura deket ama cowok lain, apa pun alasannya? Oke, sekarang lo berhak ngerasa gitu. Tapi ntar, kalo lo udah bukan lagi cowoknya Yura, apa lo pikir, lo bisa diem aja ngeliat Yura ama cowok lain? Apa lo nggak pa-pa?” Dio ingin mendebat kata-kata Rey, tapi ia menyadari, ia tak punya balasan yang tepat. Alih-alih, ia mulai memikirkan kata-kata Rey. “Rey ada benernya sih, Yo. Lo pikirin deh, apa yang bakal lo lakuin tanpa Yura?” Ken berbicara. Dio mendengus pelan. “Emangnya Yura bakal ke mana? Dia nggak bakal pergi ke mana-mana. Toh dari dulu gue yang selalu jagain dia.” “Dia nggak mungkin selamanya bakal kayak gini, kan? Dia juga mulai ngerasa nggak enak karena ngerasa ngerepotin elo terus, kan? Tinggal nunggu waktu sampai dia bisa ngelakuin semuanya sendiri, tanpa bantuan elo,” ujar Ken. Kata-kata Ken itu mengusik Dio. “Jangan ngehindar lagi, Yo. Lo suka kan, ama Yura?” akhirnya Ken pun melemparkan pertanyaan itu. “Kayaknya kalian salah paham, deh,” elak Dio. “Alasan gue selalu khawatir tentang Yura dalam segala hal, itu karena gue udah sejak lama jagain dia. Gue tau semua hal tentang dia. Karena itu, gue nggak bisa buat nggak khawatir.” “Justru karena itu,” balas Ken. “Karena elo terbiasa khawatir ama dia, lo jadi nggak nyadar kalo perasaan lo ke dia lebih dari sekedar khawatir sebagai sahabat. Lo …” “Ken, kita lagi ngomongin Yura. Mana mungkin gue suka ama dia? Gue tau dia kayak apa dan gue tau dengan amat sangat baik kalo dia sama sekali nggak peduli ama cowok,” Dio menekankan. “Gue juga ngomong gitu kan, ke kalian, waktu kalian bilang gue suka ama Arisa?” Ken mengingatkan. “Dan lagi, jangan-jangan lo takut kalo ternyata di sini, cuma elo yang ngerasa kayak gitu? Lo khawatir kalo Yura nggak nerima perasaan lo?” Dio menatap Ken tajam. “Terserah lo mau ngomong apa, tapi jangan pernah ngomong kayak gini ke Yura. Gue nggak mau dia salah paham.” Ken mendesah lelah, mengangguk. “Satu hal lagi,” ucapnya. “Jangan maksain diri buat ngelepasin Yura kalo lo emang nggak bisa. Trust me, that’ll kill you.” Dio mengernyit. Mendengar cara Ken mengatakannya, ia seolah bisa merasakannya. *** Yura melirik Dio. Lagi, dan lagi. Sejak mereka berangkat dari rumah Yura tadi, Dio sama sekali tak mengatakan apa pun. Memang, dia tidak selalu banyak bicara, tapi ini … terlalu sepi. Bahkan, terasa dingin. Apa dia masih marah karena kemarin? “Dio,” buru-buru Yura memanggil Dio saat Dio berjalan lebih dulu di pelataran parkir. Namun, panggilan Yura itu tak memperlambat langkah Dio. Yura mulai berlari untuk menyusul Dio, tapi kemudian, ia merasakan kakinya tersandung dan detik berikutnya, ia sudah jatuh di pelataran parkir. Yura meringis ketika merasakan perih di lututnya. Perlahan, ia berusaha berdiri untuk memeriksa lututnya yang terluka. “Yura!” Suara panik Dio membuat Yura mendongak. “Sekarang baru lo denger gue?” Yura merengut protes. Dio tak menanggapi pertanyaan Yura dan kembali bertanya, “Lo nggak pa-pa? Sakit?” Yura menyipitkan mata kesal. Dio masih tak mendengarnya. “Lo masih marah ama gue?” tuntut Yura kemudian. Lagi-lagi, alih-alih menjawab pertanyaan Yura, Dio justru berjongkok di depannya, mengikat tali sepatunya yang terlepas. Sepertinya tadi ia terjatuh karena menginjak tali sepatunya sendiri. “Dio …” Yura merasa bersalah karena lagi-lagi membuat Dio cemas. Saat Dio selesai mengikat tali sepatu Yura, ia berbalik, tapi masih berjongkok. Yura mengerang. Tidak lagi. “Gue bisa jalan sendiri,” Yura berkata. Namun, Dio meraih tangannya dan menariknya hingga ia jatuh tepat di punggung Dio. “Kenapa gue harus ngerepotin elo lagi?” muram Yura ketika Dio mulai menggendong Yura meninggalkan pelataran parkir. “Yura jatuh lagi?” tanya Aira takjub ketika mereka bertemu Aira dan yang lain di pintu keluar pelataran pakir. Dio tak menjawab dan hanya berjalan melewati teman-temannya, sementara Yura sempat berkata pada Aira tanpa suara, “Dio marah ama gue.” Aira mengangkat alis tak percaya. Yura mengangguk untuk meyakinkan sahabatnya itu. Ia bahkan sempat melambaikan tangan pada Aira dan yang lain sebelum berbelok di koridor menuju ruang kesehatan, yang akibatnya, mendapat teguran Dio, “Yura, pegangan! Lo mau jatuh lagi?” Tak ingin membuat Dio lebih marah lagi, Yura mengalungkan lengan melewati bahu Dio. Sementara Dio kembali diam, Yura mulai mengamati Dio. Dengan lekat, ditatapnya wajah Dio dari samping. Ini adalah pemandangan yang cukup akrab dengannya. Tidak sekali-dua kali Dio menggendongnya seperti ini. Saat pertama kali Dio menggendongnya seperti ini, Yura sangat takut karena kakinya tidak menapak tanah. Namun kemudian ia menyadari, ini justru lebih aman daripada Yura berjalan dengan kakinya sendiri. Ia justru merasa tenang karena ada Dio. Sejak saat itu, ia berusaha memperbaiki ketakutannya akan ketinggian. Setidaknya jika ada Dio, Yura tidak terlalu khawatir untuk berada di ketinggian beberapa senti dari tanah. Ia bisa memanjat batu besar di taman, meja, dan tangga, tanpa khawatir akan jatuh lagi sekarang. Mungkin Dio tidak tahu ini. Namun selama ada Dio, Yura percaya, ia akan baik-baik saja. *** Yura tersenyum lebar saat Dio masuk ke kelasnya dengan membawa makanan dan minuman kesukaannya jam istirahat itu, sementara Aira dan Rey sudah pergi ke kantin dengan Ken dan Arisa. “Kaki lo gimana?” Dio bertanya seraya membukakan minuman untuk Yura. “Nggak pa-pa,” jawab Yura cuek. Ia mengambil alih kaleng minuman di tangan Dio dan menenggak isinya. “Lo nggak nabrakin kaki lo ke meja atau kursi?” selidik Dio. Yura menatap Dio, meringis. Sepertinya tak ada yang Dio tak tahu tentang kecerobohan Yura. “Cuma sekali.” Yura mengacungkan jari telunjuknya. “Atau mungkin dua?” tambahnya tak yakin. Dio tak mengatakan apa pun setelahnya, membuat Yura kembali cemas. “Lo … masih marah ama gue?” tanya Yura hati-hati. Dio masih tak menjawab, sementara tatapannya masih tertuju pada kaki Yura. “Gue bilang, gue nggak …” “Ra,” potong Dio tiba-tiba. “Ya?” jawab Yura hati-hati. “Lo … apa yang bakal lo lakuin kalo gue nggak ada?” Pertanyaan itu diucapkan Dio dengan nada serius. Yura menatap Dio lekat. Jika tidak ada Dio … “Lo mau pergi ke mana?” Yura bahkan tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Ia meraih lengan Dio, memeganginya erat. “Kenapa? Gue bikin lo capek, ya? Gue janji deh, gue nggak bakal bikin masalah lagi. Gue nggak bakal ngerepotin elo lagi. Jadi, lo jangan pergi, ya?” Yura tak dapat membaca sorot mata Dio saat cowok itu menatapnya. “Gue nggak bakal pergi ke mana-mana,” ucap Dio seraya menarik tangan Yura yang memegangi lengannya, lalu menggenggamnya. “Kalo lo kayak gini, gimana gue bisa ninggalin lo sendiri coba?” Dio tersenyum. Yura tersenyum lega mendengarnya. “Makanya, lo jangan pergi ke mana-mana, hm?” tuntut Yura. “Gue janji deh, gue nggak bakal bikin lo repot lagi.” Dio mengangkat alis. Yura berdehem. “Dikit,” ia menambahkan. Dio tertawa kecil seraya mengusap lembut rambut Yura. “Seenggaknya, jangan terlalu sering jatuh lah, Ra,” ucapnya. “I’ll try,” balas Yura riang. Saat ini, seharusnya Yura mulai menyiapkan diri untuk melakukan semuanya sendiri, dan menjaga dirinya sendiri. Namun membayangkan Dio pergi saja, Yura tidak sanggup memikirkan apa yang akan ia lakukan nantinya. Sepertinya memang Yura tidak akan pernah bisa jika tanpa Dio. Meski ia seperti ini, Dio tidak akan pergi, kan? Karena jika Dio pergi, bagaimana dengan Yura? Ia bahkan tak berani membayangkan. *** “Ra, weekend besok keluar, yuk?” ajak Dio tiba-tiba dalam perjalanan mereka menuju pelataran parkir. “Ke mana?” tanya Yura antusias. Dio tersenyum. “Lo harus percaya ama gue, oke?” Yura mengangguk. Itu bukan syarat yang sulit. Mengingat selama ini itulah yang ia lakukan. “Dan sampai hari itu, pastiin lo nggak banyak cedera,” tuntut Dio. Yura meringis. “I’ll try,” jawabnya. “Lo juga tau kan, kadang benda-benda di sekitar gue yang nggak bisa diajak kerja sama,” ia membela diri. Dio mendadak menghentikan langkah, sekaligus menahan langkah Yura. Yura belum sempat bertanya ketika Dio sudah berjongkok di depannya untuk mengikat tali sepatunya yang terlepas. Yura bahkan tidak tahu jika tali sepatunya lepas. “Elo aja yang kadang terlalu ceroboh,” ucap Dio seraya kembali berdiri. Tak bisa menjawab Dio untuk yang satu itu, Yura menatap ke arah lain. “Dasar,” dengus Dio geli seraya mengacak rambutnya pelan. Kali ini Yura menatap Dio dan tersenyum. “Iya, iya, percaya, yang udah jadian,” celetuk Aira di belakangnya. “Makanya Ai, lo jadian aja ama Rey,” Arisa angkat bicara. Aira membalas kata-kata Arisa dengan desisan kesal. Rey dan Aira memang cocok. Mereka sudah saling kenal sejak kecil. Yura sendiri cukup heran karena hingga saat ini, mereka berdua tidak pernah terlibat hubungan yang lebih dari sekedar sahabat. Yura dengar, tidak ada yang namanya persahabatan antara cowok dan cewek. Salah satu, atau keduanya, mungkin merasakan lebih dari sekedar perasaan sebagai sahabat. Oh, pengecualian untuk dirinya dan Dio. Sejauh ini, mereka baik-baik saja. Yura dan Dio bersahabat, tidak lebih. Yura selalu bersyukur untuk itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD