"Apa yang dilakukannya? Mencelakakan Lamia?" Roose Nata berpaling. Tidak mau menatap sepasang mata cokelat madu itu yang menyala-nyala mendesak ke arahnya. "Dia ingin membunuhnya," ucapan Nata terhenti. "Dan itu atas perintah seseorang. Bukan keinginan murninya." Rahang Dokter Dahlia mengetat marah. Dia menegang melirik tubuh Lamia yang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Obat tidur nyatanya membuat gadis itu lebih tenang. Lebih dari apa pun. Membuat Dokter Dahlia menghela napas berat sebagai bentuk ungkapan rasa cemasnya. "Aku tidak tahu, mengapa banyak sekali yang ingin membunuhnya?" "Itu karena dirinya yang terlalu dingin dan kejam pada sekitar." Nata menyela dengan dingin. Dokter Dahlia mengangkat alis. Dia tampak tidak setuju dan menolak pendapat Nata tentang Lamia

