Menunggu bukan dirinya sama sekali. Roose Nata tidak pernah menunggu. Dengan pakaian yang berlumuran dengan noda pekat kemerahan, bau amis itu mengganggu hidungnya. Dia tidak pernah menunggu dalam keadaan kacau sekaligus menyedihkan seperti ini. Mereka mungkin akan memburunya sebentar lagi dan semua hal yang Nata tutupi akan terungkap luas. Dia tidak akan bisa lari begitu saja dari mereka yang masih hidup. Adrian menghampiri dengan guratan lelah. Sama halnya dengan Nata yang memiliki beban di pundaknya, pria itu juga mengemban tugas berat. Yang menjadikan anak didiknya bertangan dingin dan tanpa hati. Menghabisi yang sekiranya pantas untuk dilenyapkan. "Aku berharap, Lamia tetap baik di luar sana." Nata tidak menjawab, lidahnya kelu. Berjuang melawan ajal bukan hal yang mudah. Bertahan

