Hazel berdiri di luar kamar, punggungnya bersandar pada dinding marmer yang dingin. Nafasnya belum stabil, jantungnya seperti baru saja berlari maraton. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri—tapi setiap kali bayangan semalam muncul, bibirnya bergetar lagi, dan pipinya kembali panas. “Apa yang baru saja aku lakukan…” gumamnya pelan. Ia menunduk, menggenggam ujung gaun tidurnya erat-erat. Rasa malu, bingung, dan sedikit takut bercampur jadi satu, membuat perutnya terasa mual tanpa sebab. Hazel menatap sekeliling. Koridor masih sepi. Hanya suara langkah pelan para pelayan yang sesekali terdengar dari ujung sayap mansion. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah perlahan. Tujuannya hanya satu—kabur dari suasana aneh yang masih melekat di kamar itu. Namun langkahnya terhenti ketik

