Langkah kakinya semakin cepat bahkan nyaris berlari.
"Ailee..." Dirga setengah mendobrak pintu kamar Ailee membuat Ailee yang sedang duduk didepan meja riasnya, terkejut.
"Dirga.." Ailee hanya menatap Dirga yang berjalan mendekatinya. Melihat reaksi Dirga yang seperti ini membuat Ailee sadar bahwa Dirga sudah mengetahui tentang pilihannya.
"Apa yang Ayah katakan itu benar??"
Bukan jawaban, hanya tatapan saja balasan dari Ailee.
"Jawab aku Le..." Cengkram tangan Dirga pada pundak Ailee semakin kuat.
Ailee hanya terdiam dan menunduk.
"Kenapa diam? Aku tidak suka tingkahmu yang seolah membenarkan apa yang Ayah katakan.."
Menatap wajah Dirga adalah sebuah kesulitan bagi Ailee saat ini. Dirga bukan seseorang yang baru mengenalnya kemarin, sehingga membaca pikiran Ailee melalui tatapannya itu bukan hal yang sulit bagi Dirga.
"Ailee lihat aku.. Bilang kalau itu gak benar..." Cengkraman Dirga di bahu Ailee semakin kuat.
Ailee hanya bisa merelakan bahunya sebagai pelampiasan penekanan dari laki-laki yang sekarang berdiri didepannya itu. Rasa sakit dari cengkraman tangan dengan jari-jari yang panjang itu ditahannya.
Ia tidak mampu menatap Dirga yang sedari tadi menekannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang segera membutuhkan jawaban.
"Apa yang Ayah katakan tidak benar kan?? Ayah hanya keliru kan?" Desak Dirga.
"Apa yang kamu lihat dari mataku Ga?" Tanya balik Ailee sembari mengangkat kepalanya dan menatap Dirga dengan lekat.
"Gak.. Matamu sedang menipuku saat ini. Aku tahu kamu sedang menipuku. Kamu cuman mau ngelihat kesungguhanku kan?"
Dirga mencoba mengelak dari kebenaran yang perlahan mulai dia sadari.
"Bagaimana bisa aku menipumu dengan mataku.. Kamu juga tahu, hal yang tidak bisa aku sembunyikan dari kamu adalah kebenaran yang selalu diperlihatkan oleh mataku.."
"Gak..."
"Dirga..."
Sekali lagi Ailee menatap lekat Dirga, mencoba menyadarkan Dirga tentang fakta yang ada sekarang.
Dirga terdiam. Genggaman erat tangannya di pundak Ailee perlahan merenggang hingga tangannya jatuh tak bertenaga.
"Ha... ha.. ha.." Entah dia sedang tertawa atau sedang berusaha menipu diri dengan senyuman smiriknya. "Kamu bukan lagi orang yang kukenali"
Langkah yang tadinya begitu terburu-buru untuk bisa tiba dengan cepat dihadapan Ailee perlahan mundur tidak karuan.
Dirga menipu dirinya dengan terus-terusan bertanya pada Ailee. Meski kecil, Dirga sangat berharap Ailee bisa memberinya jawaban yang dia inginkan, namun tatapan Ailee saat ini memberinya kesadaran bahwa wanita yang sedang berdiri didepannya saat ini bukan lagi miliknya.
Dirga berbalik membelakangi Ailee, perasaannya tidak karuan dan airmatanya sudah menumpuk dipelupuk mata siap untuk ditumpahkan.
"Dirga..."
Dirga hanya terdiam.
"Dirga.." Sekali lagi Ailee memanggilnya.
"Kenapa??" Suara parau Dirga memberi isyarat pada Ailee bahwa sebentar lagi akan ada hujan di wajahnya.
"Maaf.."
Tak ada kata lain yang bisa diucapkan oleh Ailee saat ini.
Spontan Dirga berbalik. "Beri aku alasan.. Kenapa kak Delio dan bukan aku???" Desak Dirga dengan pertanyaannya yang berburu menginginkan jawaban. "Kamu bilang cinta sama aku, kamu bilang kamu gak suka kalau ada cewek lain yang dekat sama aku, kamu bilang..." Dirga menarik nafas sejenak. "Kamu bilang hanya aku, hanya aku yang pantas bersamamu. Lalu ini semua apa Ailee???" Dirga setengah menggertak membuat mata Ailee refleks berkedip.
"Maaf.." Satu kata itu, hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulut Ailee saat ini.
"Maaf??? Maaf itu berlaku jika kamu bisa mengubah kenyataannya. Oke, aku akan menganggap semua ini sebuah kesalahan, ayo bilang sama Ayah kalau kamu salah menyebut nama" Dirga menarik tangan Ailee.
"Dirga.." Ailee menarik tangannya kembali.
"Apalagi? Kita harus cepat menjelaskan ini semua sama Ayah sebelum Ayah terlanjur salah paham sama pilihanmu.." Dirga kembali meraih tangannya Ailee dan menariknya.
"Pilihanku gak salah.." Kata Ailee datar.