Pagi kembali datang setelah hitamnya malam berlalu. Bulan yang sebelumnya menggantung di langit malam, kini kembali ke peradabannya setelah mentari mulai menyingsing. Hari yang cerah di akhir pekan, seolah memberi waktu penghuni bumi untuk menikmati waktu mereka dengan baik.
Dirga tersadar setelah tidur pulas semalam, ia melirik jam digital yang terletak di samping tempat tidurnya. Waktu sudah menujukkan pukul tujuh kurang 15 menit. Ya karena hari ini akhir pekan dan mereka libur sekolah, sehingga tidak ada teriakan Eliza yang membangunkannya pagi ini.
Rasa malas mulai merayu Dirga untuk tetap rebahan menikmati waktu liburnya. Kasur empuk miliknya serasa menjadi posesif sekali pagi ini, ia terus memberi Dirga rasa nyaman, sehingga Dirga serasa tak ingin beranjak dari tempat tidurnya.
Namun, rasa nyaman yang diberikan tempat tidur untuk Dirga pagi ini, tidaklah ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa ingin Dirga untuk melihat Eliza pagi ini. Meski setiap harinya ia melihat Eliza, namun tetap saja, rasa ingin melihat wanita yang kini menghuni hatinya itu, selalu saja ada. Seolah memburu untuk menebus rindu setelah semalam terpisah saat tidur. Rindu ini benar-benar tak berakhlak, hanya satu malam dan jarak 5m saja, namun ia terus menghantui.
Dirga berjalan pelan menuruni anak tangga. Pagi ini ia tidak temui Eliza yang membersihkan di ruang tengah, juga tidak menemui bau wangi aroma masakan.
Berbeda dengan Dirga yang akan bangun sedikit siang jika hari libur, Eliza tetap bangun pagi seperti biasanya, dan akan membersihkan rumah atau memasak jika ia terbangun. Namun pagi ini, kedua aktifitas yang biasanya Eliza kerjakan, tidak terlihat.
“Apa dia belum bangun?” Gumam Dirga.
Dirga kembali naik ke lantai dua dan menuju kamar Eliza. Di ketuk pelan pintu kamar Eliza, namun tidak ada sahutan dari dalam. Setengah khawatir, Dirga kembali mengetuk pintu kamar Eliza sembari memanggil pelan. Dan lagi.. tidak ada sahutan dari dalam.
Dirga berinisiatif memutar engsel pintu kamar milik Eliza, sehingga kamar yang tidak terkunci itu bisa ia buka.
Laki-laki berpostur tubuh tinggi itu mulai menyapu kamar Eliza dengan pandangannya, mencari sosok Eliza yang tidak ia temui pagi ini setelah terbangun.
Tidak hanya membuka dan menunggu diluar, Dirga mulai melangkah masuk untuk mencari keberadaan Eliza, namun benar Eliza sudah tidak ada dalam kamar.
“Eliza...” Panggil Dirga kembali keluar dari kamar Eliza dan berlari menuruni anak tangga.
Rasa khawatir yang menghantuinya karena tidak dapat menemukan Eliza pagi ini, terbalas ketika ia mendapati wanita yang sedari tadi dicarinya itu, duduk tersungkur di ruang tamu sembari melamun.
“Eliza.. Kamu ngapain disini?”
Lamunan Eliza buyar seketika indra pendengarannya menyentuh suara khas milik Dirga. Eliza menoleh, dan memberikan senyuman sebagai sapaan pagi ini.
“Ah enggak, tadi aku bersih-bersih. Tapi karena kecapean, jadi aku duduk sebentar. Ah aku belum buat sarapan ya..” Eliza segera beranjak ketika sadar, matahari mulai meninggi namun belum juga ada sesuatu yang bisa dijadikan sarapan di atas meja.
“Are you okay?” Tanya Dirga yang melihat Eliza tidak seperti biasanya. Eliza terlihat lusuh dan wajahnya sedikit pucat.
“I’m okay” Jawab Eliza tersenyum.
Dirga dengan impuslif menempelkan telapak tangannya pada dahi Eliza setelah menduga-duga ada yang tidak beres pada keadaan Eliza.
“Apanya yang ‘oke’? Kamu demam Eliza..” Dirga mulai terlihat khawatir.
“Aku cuman demam biasa, nanti juga baikan”
“Ini pasti gara-gara kamu pulang kehujanan kemarin sore” Terka Dirga mengingat kemarin sore, Eliza pulang dalam keadaan basah setelah di guyur hujan.
Hingga sekarang, Eliza masih saja sulit berada dalam mobil, sehingga ketika ia memiliki janji temu dengan teman-temannya, ia akan berangkat menggunakan bis. Jarak rumah Dirga dari halte memang tidak jauh, namun cukup membuat basah kuyup ketika hujan datang dan tanpa payung sebagai pelindung, untuk berjalan dari halte menuju rumah.
“Ya terus bagaimana? Masa aku di halte terus nungguin hujannya reda”
“Kamu kan bisa ngehubungi aku buat nganterin kamu payung”
“Aku gak mau ngerepotin”
Ada rasa kesal ketika Dirga mendengar Eliza yang tidak ingin merepotkannya. Dirga selalu senang ketika Eliza meminta bantuannya, ia serasa menjadi seseorang yang dibutuhkan oleh Eliza. Tapi hal seperti itu sangat jarang ia rasakan, karena Eliza bukan perempuan yang mudah bergantung pada orang lain.
“Ck, kamu ini ngomong apa sih? Aku gak pernah merasa direpotin sama kamu. Kita ini kan tinggal bersama, jadi minta tolong satu sama lain itu bukan berarti ngerepotin. Aku kan sud..”..
“Iya iya..” Potong Eliza. Telinganya mulai serasa panas mendengar ocehan Dirga yang entah kapan selesainya, padahal ini hanya masalah kecil.
“Lain kali jangan seperti itu, kalau hujan hubungi aku”
“Iya, Dirga..” Kata Eliza dan mulai beranjak dari duduknya.
“Kamu mau ngapain?”
“Ya mau masak, ini sudah jam tujuh dan belum ada makanan yang bisa dimakan”
“Udah, kamu duduk aja. Biar aku yang masak..”
“Aku bantu”
“Gak usah, kamu duduk saja ini. Kamu kan lagi sakit”
“Aku cuman demam ringan Dirga, aku baik-baik aja”
“Demam ringan atau berat, itu tetap sakit. Udah aku aja yang masak”
“Kalau gitu aku yang beres-beres”
“Ck, aku kan udah bilang, kamu duduk aja disini. Semuanya biar aku yang ngerjain” Kata Dirga kembali mengarahkan Eliza untuk duduk.
“Tap..”
“Eliza bisa gak dengerin aku sekali ini saja? Kamu sekarang istirahat saja, biar aku yang masak, dan aku yang beres-beres. Oke?”
Eliza hanya terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Ya, perasaannya memang sedang buruk saat ini, meski ia masih bisa memaksakan diri untuk melakukan sesuatu. Tapi Dirga yang sudah memintanya untuk duduk saja sambil beristirahat, akhirnya Eliza menurut.
Dirga mulai melakukan aktifitas memasaknya, sedang Eliza kembali duduk untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik. Eliza merasa senang mendapatkan perhatian seperti ini dari Dirga, namun ia kembali menarik dirinya untuk tidak merasa di istimewakan, dia tidak ingin menjadi perempuan yang akan tersakiti karena terlalu jauh berpikir. Dan lagi, semenjak Dirga mengatakan bahwa pernyataan cintanya itu hanya sebuah candaan, Eliza bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak akan ada hubungan lebih yang akan dia miliki bersama Dirga. Bagi Eliza, dirinya dimata Dirga hanya teman serumah, bukan seorang yang akan menjadi teman hidup.
Berlalu sekitar 15 menit, Dirga kembali menghampiri Eliza setelah ia selesai menyiapkan sarapan pagi ini. Tidak ada menu yang wow, mengingat waktu semakin beranjak. Dirga memilih membuat sarapan yang sederEliza, agar Eliza tidak perlu menunggu waktu lama untuk segera sarapan pagi ini.
“Ayo sarapan” Ajak Dirga.
Eliza dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik, perlahan beranjak dari tempat duduknya, namun karena perasaan lemas ia menjadi sedikit lamban.
“Atau kamu disini saja, biar aku bawain sarapannya kesini”
“Gak usah, di meja makan saja”
“Tapi kamu..”
“Aku baik-baik aja, Dirga...”
Eliza dan Dirga mulai menikmati sarapan mereka, meski keduanya memiliki rasa yang berbeda. Eliza yang tengah tidak enak badan, merasakan makanan yang sedikit hambar, namun tidak komplain pada Dirga. Tentu saja Dirgaa akan menu lain jika ia bilang bahwa makanan yang tengah dikunyahnya sekarang serasa hambar, itu hanya akan merepotkan Dirga.
“Kerja tugas nanti dimana?” Tanya Eliza, mengingat sebelumnya dia yang berada satu kelompok bersama Dirga dan teman yang lainnya untuk tugas Kimia, sepakat untuk mengerjakan tugas diakhir pekan.
“Semalam Renako chat, katanya dicafe dekat pertigaan sebelum sekolah”
“Jam berapa?”
“Gak tahu, belum ada kabarnya lagi. Palingan siamg, karena aku gak yakin mereka udah bangun sekarang” Jawab Dirga sembari memasukkan sepotong omelet kedalam mulutnya.
“Yaudah, kalau Renako chat dan nentuin waktunya, kasi tahu aku”
“Kamu mau pergi”
“Iya, aku kan mau ngerjain tugas juga..”
“Tapi kamu lagi sakit, Eliza. Biar aku sama yang lainnya saja yang ngerjain”
“Tapi itu juga tugasku, Dirga. Aku ngerti apa nanti kalau kita persentasi, sedang aku gak ngikut ngerjain tugasnya”
Dirga terdiam sejenak. Dia begitu mengkhawatirkan kondisi kesehatan Eliza saat ini. Namun dia juga membenarkan apa yang dikatakan Eliza. Bagaimana Eliza bisa memahami isi tugas mereka kalau dia tidak ikut, bisa-bisa Eliza kesusahan saat persentase.
“Yaudah, selesai sarapan nanti kamu minum obat terus istirahat. Obatnya akan bekerja saat kamu istirahat, jadi pas mau ngerjain tugas perasaanmu jadi baikan. Biar aku yang ngerjain semua pekerjaan rumah hari ini”
Eliza menatap Dirga sejenak, semakin luas saja rasa kagum yang dia miliki pada Dirga, dan itu semakin membuat rasa cintanya tumbuh dengan subur.
Dirga yang terus di tatap oleh Eliza, menjadi bingung hingga salahh tingkah.
“Ke-kenapa ngeliatin aku seperti itu?”
“Gak, aku cuman mau bilang makasih”
Dirga tersenyum, dan memberikan omelet ke piring Eliza. “Jangan sungkan”
Sarapan yang mereka nikmati bersama, dengan perasaan yang sama juga sama-sama tak saling tahu.