Ijab Qobul

1151 Words
Suasana di rumah Yuyun sangat ramai, Yuyun mengundang orang-orang terdekat untuk datang ke acara pernikahan putranya. Ema dan Indra sedang di dandani dan mengganti pakaian adat untuk acara ijab Qabul. Para ibu-ibu yang datang ke acara itu pun masih membicarakan tentang kejadian yang di alami oleh putra tertua Yuyun. "Padahal mau di buat acara penyambutan anaknya karna udah pulang. Eh malah bonus acara nikahan lagi. Masalahnya bonusnya itu dari hasil keciduk jeng" ucap ibu-ibu mulai bergosip. Orang tua Indra dan juga Ema mereka hanya bisa sabar dan tegar dengan komentar negatif dari ucapan ibu-ibu yang bergosip. Mereka sebenarnya percaya dengan kejadian yang diceritakan Ema dan Indra. Tapi ngga cukup untuk menghentikan mulut jahat para ibu-ibu itu. Hanya ini satu-satunya cara, mereka tau..ini pasti berat banget untuk di terima oleh Ema dan Indra. Tapi mau ngga mau Ema dan Indra harus menjalani keputusan yang berat ini. 'Semoga keputusan untuk nikahin kalian bukan keputusan yang salah' batin Yuyun. Mempelai pria berjalan mendekati tempat yang digunakan untuk ijab Qabul. Sebelum melakukan ijab Qabul, Indra sudah menghafal apa saja yang akan di katakan ketika ijab nanti. Sedangkan Ema berada di kamarnya, menunggu sang mempelai pria menyelesaikan ijab Qabul. 'Sial..pulang-pulang malah nikah' batin Indra yang sudah duduk berhadapan dengan penghulu. 'Kalau nikahnya sama kamu. Walau dadakan juga ngga papa' Indra menyebut wanita yang masih tersimpan di hatinya. 'Seandainya aja itu kamu Rik. Aku bakalan senang banget' batin Indra tersenyum sendu. "Baiklah, kita mulai ijab Qabul ya. Nak Indra, apakah kamu sudah siap?" Tanya penghulu itu kepada Indra. 'Kalau masalah siapnya. Ya pasti belum siap lah pak. Heran..' batin Indra. "Saya siap" ucap Indra sambil tersenyum tipis. Selama masa ijab qabul Indra terus saja melakukan kesalahan pengucapan, hingga percobaan yang terakhir. Akhirnya Indra bisa dengan lancar mengucapkan ijab qabul. "Alhamdulillah..selamat, sekarang nak Indra dan mempelai wanita sudah sah menjadi suami istri" ucap penghulu. Indra hanya bisa tersenyum, tak ada rasa bahagia di dalam dirinya. Karna memang ini bukanlah keinginannya. "Sekarang nak Indra boleh pergi menghampiri istrinya" ucap penghulu itu sambil tersenyum. Indra sangat tidak ada niatan ingin bertemu Ema lagi. Tak sengaja Indra bertatapan dengan Pikri, ayahnya menyuruh Indra mengikuti apa yang dikatakan penghulu melalui gerakan kepala. Mau tidak mau Indra pun pergi ke kamar yang dimana terdapat Ema di dalamnya. Ema yang berada di dalam kamar hanya bisa menundukkan kepalanya. Di samping Ema sudah ada rium yang sedang membelai bahu Ema, untuk menenangkan Ema. "Nak...anak mama yang paling cantik. Sini liat mama" ucap Rium. Ema pun perlahan menatap wajah mamanya. "Mama tau ini pasti berat buat kamu. Mama harap kamu bisa nerima semua ini, mama yakin kamu pasti bisa laluin nak" "Tapi, Ema ngga ngelakuin itu ma.." "Iya, mama tau nak. Mama percaya sama kamu, kamu ngga mungkin ngelakuin hal yang seperti itu. Ema yang mama tau, anak yang sulit membuka perasaan kepada laki-laki jika itu rasa yang belum pasti. Jadi ngga mungkin dengan segampang itu kamu memberikan milikmu kepada orang yang bahkan belum kamu kenal" ucap Rium sambil mengusap kembali bahu Ema. "Dan untuk sekarang. Kamu sudah mempunyai suami nak. Ngga peduli, jika cara jalan pernikahan kamu seperti apa. Cobalah untuk membuka hatimu kepada suami kamu. Bismillah, mungkin dengan cara ini Allah memberikan jodoh untukmu. Semoga kalian sakinah mawadah warohmah" "Aamiin" ucap Ema sambil tersenyum sendu. 'Untuk membuka rasa? Setelah aku mendengar dia menyelesaikan ijab qabul nya, disitulah perasaan ku mulai terbuka ma. Tapi, aku ngga tau kedepannya akan seperti apa. Bakalan sakit hati atau bahagia. Dari ekspresi dia aja udah kebaca banget..ciri-ciri minta pisah nantinya. Yah itu ngga bakal aku biarin terjadi sih' batin Ema. Indra membuka pintu kamar dan memasuki ruang tersebut. Ema dan rium yang sedang duduk di ranjang pun melihat seseorang yang memasuki ruangan yang mereka tempati. "Nak, mama keluar ya. Suami kamu udah datang" Ema hanya mengangguk tanda mengiyakan. Rium berjalan keluar dari kamar, menyisakan Indra dan Ema di dalam sana. Indra pun menutup pintu kamar dan berjalan ke arah Ema hingga berhadapan dengan Ema. Ema mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat wajah seorang pria yang sudah menjadi suaminya. Indra terus menatap Ema dengan tatapan datarnya. Ema merasa tidak nyaman karna di tatap seperti itu. Itu adalah tatapan seperti sedang menyalahkan. "Liatnya ngga usah gitu banget, sini duduk" ucap Ema berusaha tenang. Indra pun menuruti dan duduk di samping Ema. "Umur kamu berapa?" "Ngapain nanya umur?" Tanya Indra. "Ya ngga papa nanya aja" "23" jawab Indra singkat. 'Aku nikah sama brondong?' Batin Ema. "Sejak kapan tinggal di rumah ini?" Tanya Indra. "Kemarin" "Berarti itu bukan salahku ya. Lagian ngga nampak juga ada orang yang lagi tidur, badanmu kecil. Lain kali kunci pintu, jadi biar tau kalau ada orang di dalam" "Iya iya. Lagian udah terjadi juga. Mau kamu bilang gitu pun emang ada perubahan?" Ucap Ema menatap Indra. "Bakalan ada perubahan" Ema mengerutkan keningnya tanda bingung apa yang di maksud Indra. "Perubahan?" "Iya. Ngga bakal lama lagi.." ucap Indra dengan tarikan bibir berbentuk senyum. "Kamu mau pisah?" "Kayaknya kamu pinter juga ya. Bisa paham maksudku" Ema pun menyentil jidat Indra karna kesal dengan ucapan Indra. "Aww...apa-apaan kamu. Main nyentil aja" "Kamu sih. Main ngomong aja, jangan asal ngomong ya. Pisah pisah..kamu kira mudah. Jangan main-main sama kata pisah. Nanti kamu nyesel baru tau" "Ha? Nyesel? Yang ada senang dong. Emang ada orang nikah tanpa cinta terus bahagia? Mikir kamu, aku pengen nikah sama orang yang aku suka..kamu pasti juga kan. Pake sok-sokan jangan ngomongin kata pisah. Paling besok kamu udah ga tahan terus minta pisah" "Indra.." panggil Ema dengan tatapan seriusnya. "Jaga mulut kamu. Udah dewasa kan? Ngaku umur 23, tapi ngomong aja ngga di pikir dulu" "Jangan bawa-bawa umur dong. Kayak kamu yang lebih tua aja" 'Emang iya' batin Ema. "Eh.. ngapain?" Indra terkejut dengan pergerakan Ema. "Sini tangannya" Indra mengulurkan tangannya. Ema pun memegang tangan Indra dan mencium punggung tangan lelaki itu. "Kalau udah selesai ijab qabul. Biasanya ada adat cium tangan ke suami. Terus yang aku liat-liat juga. Biasanya suami bakal cium kening istri" "Ngga. Enak aja, aku ngga ada niatan mau nyentuh kamu ya" ucap Indra sambil menarik tangan yang di pegang oleh Ema. "Ya udah, kalau ngga mau juga ngga papa. Aku cuma bilang doang" ucap Ema. "Tapi..bisa ngga kamu pura-pura suka sama aku?" "Ngga" "Cuma di depan orang tua kita aja.." ucap Ema, Indra pun langsung menoleh dan menatap Ema. "Tujuannya apa pura-pura?" Indra pun berdiri dan langsung menghadap Ema. "Denger ya, bukan berarti karna kamu istriku..kamu bisa dapat perhatian aku dan bisa nyentuh-nyentuh aku juga. Pernikahan ini cuma karna kesalahpahaman, palingan cuma bertahan sementara" 'Hhmm..sudah ku duga reaksinya bakalan kayak gini. Lagian kamu kira aku juga mau nikah dengan cara kayak gini. Prinsipku nikah hanya sekali seumur hidup, jadi aku ngga bakal biarin hubungan ini cuma sementara. Yang bener aja..masa baru nikah udah jadi janda karna pisah. Mending dari awal ngga usah nikah aja' Batin Ema sambil melihat kepergian suaminya yang dengan perlahan menghilang dari balik pintu kamar mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD