Bab 11. Cemburu

1137 Words
"Mas, sarapan dulu." Oliv telah menyiapkan sarapan di atas meja. Pagi itu dia membuat omelet serta sop ayam yang memang mudah untuk dibuat. Seolah tak mendengar apa yang Olivia katakan, Ethan hanya duduk di meja dan meminum s**u yang telah tersaji di atas meja. Hanya itu saja, karena setelahnya Ethan langsung menyambar tas jinjingnya dan langsung beranjak dari tempat duduknya. "Mas, sarapan dulu." Dengan sedikit berteriak, Olivia memanggil suaminya yang berjalan dengan cepat. "Makan saja, Liv. Nanti naik taksi aja kalau mau berangkat ke kampus," ucap Ethan yang membuat mulut Oliv menganga lebar. "What?" ucap Oliv dengan mengangkat kedua tangannya. Namun tak lama setelah itu, Oliv kembali tersenyum, "kita lihat saja, sampai kapan kamu akan bertahan dengan sikap dinginmu itu," gumam Olivia yang kemudian kembali ke tempat duduk untuk menghabiskan sarapannya. Ethan ternyata lupa siapa Olivia itu. Cukup hanya dengan menekan satu tombol saja di ponselnya, sopir pribadi yang memang dimiliki sejak sebelum Oliv menikah pun datang untuk menjemputnya, dan langsung mengantarkan Oliv ke kampus. -- "Selamat pagi Nyonya Ethan," sapa Cyril dan juga Metta saat melihat Oliv datang. Olivia hanya melirik kecil ke arah mereka berdua, sembari mengerucutkan bibirnya. "Kenapa sih, Liv?" tanya Cyril. Oliv pun kemudian menceritakan apa yang terjadi malam tadi kepada kedua sahabatnya itu. Ada rasa ingin tertawa namun Cyril dan juga Metta mencoba untuk menahannya agar tak keluar. Mereka tak ingin jika Oliv nantinya akan semakin badmood. "Tapi apa yang lo katakan itu udah bener, Liv. Biar bagaimanapun juga lo udah jadi istri saya om Ethan. Nggak bisa juga dong kalau om Ethan masih jalan sama tante itu," ucap Metta. "Thanks ya, Ril. Untung aja ada lo di sana, jadi gue bisa tahu kalau om Ethan lagi pergi sama si nenek lampir," sahut Oliv. Sementara Cyril hanya tersenyum saja menanggapinya. "Terus sekarang apa rencana lo, Liv?" tanya Metta lagi. "Sesuai saran kalian kemarin, kalau om Ethan nggak bisa gue dapetin dengan cara kasar, maka aku akan coba pakai cara halus." Oliv tersenyum sinis. Dia merasa sangat yakin jika lama-kelamaan Ethan pasti akan luluh dan jatuh juga dalam pelukannya. "Ini semua hanya soal waktu," lanjut Oliv lagi. Ketiga sahabat itu kemudian masuk ke dalam, dan mengikuti mata kuliah seperti biasa pula. Tak ada satu orang teman pun dalam satu kelas Oliv yang tahu jika dirinya telah menikah dengan Ethan. Hanya Cyril dan juga Metta yang diberitahu akan rahasia besar itu. -- Suara buku terdengar berjatuhan dari atas meja. Ruangan kerja Ethan pun sekarang terlihat berantakan. Dia begitu stress menghadapi kemelut antara dirinya dan juga Maya. Ethan juga memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa melepaskan diri dari Oliv. Ethan mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Maya berkali-kali, namun Tak ada jawaban apapun yang Maya berikan. Tanpa Ethan ketahui, Maya sedang tersenyum puas menatap pantulan dirinya dari cermin yang terletak di meja rias kamarnya. Maya terus mendiamkan gawainya yang sedari tadi berbunyi di hadapannya. "Tak akan semudah itu aku melepaskanmu, Ethan." Seringai tajam pun segera terbit di ujung bibir Maya. "May ...! Angkat dong, May!" gumam Ethan yang berharap agar panggilan telepon darinya itu dijawab. Namun apa yang diharapkannya ternyata tak terjadi. Maya sengaja memancing emosi Ethan. Dia sengaja ingin menjauhkan Ethan dari Olivia dengan cara mendiamkannya seperti ini. Dia ingin menanamkan rasa bersalah dalam diri Ethan. "Hhaarkh!" seru Ethan sembari menggebrak meja kantornya. -- "Awas, Liv!" Oliv tersentak kaget saat tangannya tiba-tiba saja ditarik oleh seseorang. Dia saat ini sedang mencoba untuk menghubungi Ethan seraya berjalan meninggalkan gerbang kampus. Namun karena dia terlalu fokus pada layar ponselnya, membuat Oliv tidak menyadari jika dari arah berlawanan melaju truk yang cukup kencang. Hampir saja dirinya tertabrak jika pemuda itu tak segera menariknya dari jalanan. "Revan!" ucap Olivia yang kaget. "Pengen mati lo, Liv?" tanya Revan dengan suara yang sedikit meninggi. "Kalau jalan tuh yang dilihat ya jalannya, Liv!" ucap Revan kasar. Revan adalah teman satu jurusan Olivia. Mereka mengambil jurusan yang sana dalam bidang manajemen ekonomi. Sebenarnya dia sudah begitu lama menaruh hati kepada gadis cantik itu, namun entah kenapa Oliv sangat susah untuk didekati. "Thanks, Van." Olivia berkata sembari menundukkan kepalanya. "Oke," jawab Revan singkat yang kemudian pergi meninggalkan Oliv begitu saja. "Revan, stop!" Oliv berteriak, dan seketika itu juga Revan berbalik. "Apa?" "Gue traktir lo ngopi," ucap Oliv. Tanpa berusaha ingin menolak, Revan pun mengiyakan ajakan Olivia. Dengan sepeda motor yang Revan miliki, mereka berdua segera pergi ke coffee shop yang cukup jauh dari sekolah. Coffee shop yang tak jauh dari perusahaan Ethan. "Kenapa ke sini, Liv?" tanya Revan. "Karena kopi di sini enak," jawab Oliv. Mereka berdua pun memesan kopi, dan menikmatinya sembari berbincang-bincang kecil. Hingga pada akhirnya kedua mata Olivia melihat ke sosok seorang pria. Ethan masuk ke dalam coffee shop. Ada senyum yang sengaja disembunyikan olehnya saat melihat Ethan berjalan mendekat ke arahnya. "Oliv? Ngapain kamu di sini?" tanya Ethan. "Hehe, cuma ngopi kok, Om," jawab Oliv dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang begitu rapi. Kedua mata Ethan terlihat membeliak lebar ketika Oliv memanggilnya dengan sebutan 'Om'. Beberapa saat kemudian Ethan menoleh ke arah Revan yang duduk berseberangan dengan Oliv. "Lalu siapa dia?" tanyanya lagi. "Dia temen aku, Om. Namanya Revan. Dia sudah menyelamatkan aku dari kecelakaan yang hampir saja terjadi." "Iya, Om. Tadi Olivia hampir saja ketabrak truk," timpal Revan dengan cepat. "Apa? Kenapa bisa?" Ethan terlihat sedikit panik. Sedangkan dalam kepalanya yang tertunduk, Olivia tersenyum kecil. "Ya sudah, kita pulang!" ajak Ethan yang kini mengeluarkan tangannya untuk menggandeng tangan Oliv. "Revan, sorry gue pulang duluan," ucap Oliv. "Nggak apa-apa, Liv," jawab Revan. Meskipun ada rasa tak rela karena dia hanya dapat menghabiskan waktu sebentar bersama dengan Olivia, tapi ya bagaimana lagi kalau om-nya Oliv mengajaknya pulang. "Tapi siapa om om tadi? Sepertinya dia dekat dengan Oliv?" gumam Revan yang masih melihat kepergian Olivia bersama dengan Ethan yang baru saja keluar dari coffee shop. Di dalam mobil Olivia hanya diam dan terus terdiam, begitupun dengan Ethan. Reaksi yang sama juga diperlihatkan olehnya. "Siapa cowok tadi, Liv?" Suara Ethan akhirnya terdengar memecah suasana yang sedari tadi begitu hening. "Yang mana, Mas? Revan?" tanya Oliv. "Mas? Sekarang kamu panggil Mas? Kenapa nggak tadi panggil dengan sebutan itu? Kenapa tadi kamu harus panggil Om di hadapan cowok itu?" Wajah Ethan terlihat memerah. Dengan sedikit senyum dan tawa yang terdengar, Olivia pun menyahut dengan santai, "Mas Ethan marah? Cemburu kah?" tanya Olivia yang saat ini menatap penuh pada Ethan. "Kamu itu istriku, Oliv. Jangan pernah pergi sama cowok lain!" ujar Ethan yang mengacungkan telunjuk jari kirinya ke wajah Oliv. Perlahan Olivia memegang jari telunjuk itu dengan cukup lembut, dan kemudian menurunkannya dengan perlahan. "Sama, Mas. Aku juga nggak suka kalau Mas Ethan pergi bersama dengan wanita lain," jawab Olivia yang begitu menohok dan menusuk di hati Ethan. Tak ada yang salah dengan hal itu, karena apa yang diucapkan oleh Olivia memang benar adanya. Ethan pun hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD