Bab 2

1152 Words
Araya menatap pantulan dirinya lewat cermin yang ada di depannya. Gadis remaja berusia hampir tujuh belas tahun ini memiliki potongan rambut sebahu tanpa poni dan sering ia ikat poni tail. Wajahnya sebenarnya cantik, hanya saja dirinya terlalu malas memoles wajahnya dengan krim aneh seperti pelembab wajah ataupun lipbalm yang membuat bibirnya lembab seperti remaja pada umumnya. Sebenarnya tak ada seorang pun tahu jika ia adalah anak pemilik yayasan tempat ia bersekolah. Iya, sekolah SMA tempat Araya menuntut ilmu adalah milik papa dan mamanya. Hanya saja, Araya enggan mengatakan jati dirinya termasuk dengan para guru serta staf yang ada di sekolah. Lagian siapapun tak akan pernah ada yang menyangka jika putri keluarga Hutama akan bersekolah di sana. Tapi pada kenyataannya, Araya lebih memilih sekolah di sana ketimbang sekolah bergengsi lainnya. "Lihat saja Gevan, kamu pasti nyesel udah taruhan sama aku," ucap Araya dengan senyum optimis. Araya pun buru-buru mengambil tas nya, tak sabar untuk bertemu dengan Gevan. Araya yakin, cowok itu pasti akan tercengang dengan penampilan barunya saat ini. **** Araya meraba sisi ranjang dan ia hanya mendapati udara kosong. Dia hanya tersenyum pedih, Rion benar-benar menepati janjinya tak menyentuhnya sedikit pun. Araya segera mengenyahkan pikiran rumit itu, dengan cepat ia bergegas menuju kamar mandi sekadar menyegarkan tubuh dan pikirannya. Berharap pada pria penuh ambisi seperti Rion akan memperhatikan Araya layaknya suami istri pada umumnya tak akan pernah terjadi. Sebab mereka berdua menikah juga bukan atas unsur saling mencintai, hanya sebatas kerjasama bisnis yang saling menguntungkan bagi Rion. Kini Araya memandang sekali lagi kamar hotel yang seharusnya ia melepaskan mahkota miliknya. Jam sembilan pagi dia akan checkout dari hotel dan akan menuju ke kediaman Rion. Pintu kamar hotel terbuka dan Rion masuk ke dalam kamar itu. Penampilan Rion di pagi itu sangat segar. Aroma wangi maskulin merebak di udara dan Araya tanpa permisi langsung menyukai aroma Rion. Andai pernikahan ini bukan dilandasi hal-hal hitam di atas putih, Araya yakin dia akan memperoleh kebahagiaan yang sedari dulu ia cari. Kenapa kebahagiaan itu sulit sekali ia peroleh? Pria itu tampan dan Araya mengakui hal itu. Hanya dengan mengenakan kemeja biru dongker yang melekat pas di tubuh Rion mampu membuat Rion terlihat sangat keren. Dadanya seolah memanggil ku untuk bersandar di sana, sisi nakal Araya mulai memprovokasi. "Ngurus begitu saja enggak becus." Rion terlihat kesal pada orang yang berada di seberang sana. "Untuk apa aku bayar mahal." Pikiran iya-iya Araya hilang langsung melihat suasana hati Rion sama sekali tak baik di pagi ini. Rion lalu mematikan sambungan teleponnya dan memandang ke arah Araya yang sudah siap berkemas. "Enggak ada baju yang pantas di pakai?" sindir Rion sinis saat melihat penampilan Araya yang terlihat biasa saja tidak seperti Evelyn yang selalu terlihat luar biasa di mata Rion. Apa istimewanya Araya sampai kakeknya mengajukan persyaratan pernikahan segala dan dengan Araya pula. Rion yakin jika araya punya tipu muslihat yang mampu membuat kakek dan orang tuanya langsung menyukainya. Araya mengedikkan bahunya. "Seenggaknya baju ku lebih layak di pakai daripada baju pacar kamu yang selalu kekurangan bahan itu," balas Araya pelan dan nyelekit. Sebenarnya tak ada yang salah dengan penampilan Araya saat ini. Dia hanya mengenakan gamis berwarna peach dengan motif bunga-bunga serta hijab berwarna senada yang menutupi dengan sempurna seluruh rambutnya. Rion berdecak kesal. Wanita satu ini selalu membantah setiap ucapannya. "Terserah kau saja." Pada akhirnya Rion malas memperpanjang adu argumentasi itu. Sebelum mereka keluar dari kamar hotel itu, Rion membalikkan badan dan melihat ke dalam kedua mata Araya. "Jaga sikap." Araya hanya tersenyum. "Sikap ku selalu terjaga. Ingat, aku terlahir dari keluarga terhormat dan terdidik dengan baik." Araya lagi-lagi menjawab, tak mau kalah. "Aku tahu kalau kau hanya lulusan dari sekolah SMA yang tak bergengsi. Jangan mencoba bersikap angkuh." "Ya, ya, ya, tuan Rion selalu benar," ucap Araya dan lebih dulu keluar dari kamar hotel itu tak peduli dengan tatapan kesal Rion yang tengah menghunusnya. Araya hanya tertawa dalam hati, menggoda dan membuat Rion marah menjadi kesenangan tersendiri baginya. Hal ini mengingatkannya pada taruhan yang pernah ia lakukan pada Gevan dulu. Tiba-tiba saja tangan Araya di genggam oleh Rion dan Araya menatap tangannya yang di genggam cukup kuat. Dia pikir aku anak kecil apa yang bakalan hilang kalau enggak dituntun, batin Araya berbisik. "Senyum dan jangan banyak melamun." Araya tersenyum masam, Rion begitu suka sekali memerintah. "Dari tadi aku memasang wajah senyum kok, kamu saja yang jutek terus," balas Araya santai, "atau kamu sedang latihan menjadi pemimpin yang disegani?" "Berisik." Araya malas menanggapi ucapan Rion. Rion akan terus menjadi pria yang temperamental, membuat Rion menjadi jinak adalah pekerjaan terberat bagi Araya. Dan Araya tak mau repot-repot menjinakkan kucing garong seperti Rion. "Ngapain juga aku harus repot-repot menyenangkan hatinya," gumam Araya pelan. *** Rion dan Araya kini berada di dalam mobil menuju ke kediaman keluarga Brata. Bukan apa-apa Rion membawa Araya ke rumah orang tuanya sebelum menuju rumah mereka, ah, catat rumah sementara bagi mereka. "Enyahkan seluruh pikiran gila mu itu." Araya mengernyitkan dahinya. Pria yang ada di sebelahnya ini benar-benar kesambet kucing garong sepertinya. Sensi mulu bawaannya, persis seperti kucing pas lagi masa kawin. "Aku takut kamu beneran kesambet jin kucing garong gang sebelah," seloroh Araya. "Ah atau kamu masih belum puas bermesraan dengan pacar kamu yang cantik itu?" sindir Araya. Rion mencengkram erat kemudi setir, dia harus punya cadangan kesabaran jika berhadapan dengan Araya. Ia pikir, pernikahannya dengan Araya akan berjalan mulus tanpa hambatan tapi sikap Araya sungguh menyebalkan. Sungguh, di luar ekspektasi. "Kita hanya orang asing yang terpaksa bermain rumah-rumahan," ucap Araya tiba-tiba. "Saat ini kita berperan sebagai suami dan istri. Aku tahu bagaimana peran seorang istri." Rion tak menanggapi ucapan Araya. Yang ia tahu, ia harus sabar selama setahun ini. Sebelum posisi CEO itu berada di dalam genggamannya, dia tak akan pernah menyentuh Araya. "Kita hanya sebentar di sana." Araya hanya menjawab dengan gumaman tak berarti. Di dalam hatinya, Araya ingin sekali menarik kuping Rion dan berteriak sekeras-kerasnya bacoott. "Rion, seandainya aku hamil bagaimana?" Pertanyaan random yang mampu membuat Rion mengerem mendadak dan membuat tubuh araya terhempas ke depan, syukur saja keningnya tak menghantam dasbor karena terhalang sabuk pengaman. "Gugurkan," jawab Rion dingin. Araya mengulas senyum sebagai balasan ucapan Rion. Iya, akhirnya Araya menyadari jika dirinya tetap akan sendiri sampai kapan pun. Tapi Araya bersumpah jika makhluk mungil itu dititipkan di rahimnya suatu saat nanti, ia akan menjaganya dengan sepenuh hati. Bodo amat jika seandainya Rion ngotot ingin janin itu di gugurkan. Rahim itu punya Araya, dan cuma Araya yang berhak memutuskan mau diapakan isi dalam rahimnya nanti. Anggap saja Rion sebagai donatur di rahim Araya. Beres kan. "Enggak usah panikan gitu, lagian enggak mungkin aku hamil," ucap Araya sambil tertawa sumbang mencoba menyembunyikan jejak yang tak kasat mata yang mulai menjalar ke dadanya. "Kamu enggak mungkin mau menyentuhku." Rion melanjutkan lagi perjalanan mereka. Dia benar-benar gerah dengan segala tingkah Araya. Lama-lama berdekatan dengan Araya mampu membuat otaknya semakin panas. Tak tahu saja Rion, bahwa Araya pun tak kalah panas nya bertukar kata dengan Rion.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD