Dentuman musik menggelegar ke segala penjuru ruangan, menggetarkan hati para pendengar.
Kemerlap-kelip lampu diskotik ikut meramaikan suasana. Banyak orang bersorak tiap kali Disc Jockey memainkan keahliannya dan mereka sebagai penikmat pun berjoget ria di tengah-tengah ruangan. Beberapa diantaranya menikmati alunan musik itu dengan berpasangan atau mereka yang memilih sendirian menari dalam keadaan mabuk. Sebagian besar orang menyebutkan itu sebuah surga dunia.
Dari beberapa menit yang lalu. Seorang agen rahasia dapat merasakan aroma asap rokok serta alkohol minuman keras yang bertebaran di udara menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Lelaki itu terduduk di depan sebuah meja bar sambil terus mengamati target buruannya malam ini. Penampilannya tampak seperti pengunjung lain, terlihat santai dan tak terkesan aneh. Namun untuk lebih menyamarkan keadaan, ia memesan segelas cocktail kecil tanpa ada maksud untuk meminumnya.
Ponsel yang berlayar hitam ia jauhkan dan menjadikan smartphone itu sebagai spion. Butuh waktu berapa menit lagi ia harus menunggu, Dia melihat, seorang pria yang telah menghabiskan beberapa puntung rokok serta mengosongkan botol-botol minuman haram tak jauh dari lokasi meja bar. Menikmati adegan erotisnya bersama dua orang wanita berpakaian minim.
Si Pria tertawa puas bak Hyena saat bercanda tawa dengan teman perempuannya dan kembali melakukan aksi tak senonoh, Ia puas menyentuh beberapa bagian tubuh para wanita itu. Tangan nakal si pencabul dengan legal menjalar bebas, menjajah tubuh para kupu-kupu malam. Si pemilik tubuh sesekali mendesah dan tertawa menggelitik.
"Wanna play?"
Seorang wanita berbandana kelinci, mengenakan pakaian yang lebih terlihat seperti model bikini, berdiri memamerkan belahan dadanya di samping sang agen duduk. Bergerak-gerik tampang penggoda.
Ia mencoba mengusik perhatian si agen dengan sesekali berkedip mata dan memainkan rambut hitam panjangnya. Kemudian sedikit merundukkan badan, sehingga bagian dada itu tampak menggoda lebih hot.
Oh wow.
Menarik. Sorot matanya sekilas menuju pameran bagian dada besar itu. Agen yang digodanya hanya membasahi permukaan bibirnya sendiri. Ia tersenyum kaku kemudian menggelengkan kepala.
"Ayolah..." tangan perempuan itu melingkar di lehernya.
Suara mendayu manis terngiang di telinganya. Menyulut reaksi bagian tubuhnya berdiri. Sang wanita lebih mendekatkan diri, mencoba menerobos untuk menyambar bibir lelaki itu.
Tubuh sang agen sedikit menjauh, menghalau keras pergerakan liarnya. Ia perlahan melepaskan rangkulan itu. Sekali lagi ia menggelengkan kepala, tetap pada senyuman kotaknya.
Melihat tanggapan menolak. Wanita itu merasa kecewa. "Kau membosankan," balasnya lalu pergi ke tempat lain untuk mencari pelanggan baru.
Pria itu menggaruk bagian kepala belakangnya yang tak gatal. Tetap fokus! Dan harus fokus. Bukan saatnya untuk bermain atau sekedar menenggak minuman, ia harus menyelesailan misi.
Saat menatap kembali targetnya, ia pun berdiri. Karena pria yang menjadi targetnya itu sudah selesai bermain-main. Kini langkahnya mulai mendekati pintu keluar.
Ia tersenyum. Dipasangkannya masker hitam penutup mulut lalu berjalan menyusul lelaki itu pergi.
***
Langkah sempoyongan, beberapa kali nyaris terjatuh. Seorang pemabuk bersendawa hingga akhirnya tubuhnya ambruk bertengger ke tiang lampu jalanan.
Cekrekk
Mata merahnya menatap todongan pistol yang berjarak tepat 5cm dari dirinya. Mendadak matanya terfokus dan tubuhnya seketika bergeming.
Kepalanya sedikit terangkat. Kemudian dia berdiri sambil memegang kepalanya yang terasa sakit seraya menunjuk-tunjuk diri Agen itu.
"Si--sia--pa..kau!"
"Kim Namjoon. 25 tahun. Menewaskan seluruh anggota keluarga dari asisten rumah tangganya sendiri karena terjerat telah menghamili seorang gadis muda dari keluarga tersebut. Kemudian lelaki itu kabur ke jalanan dan berpindah-pindah tempat seperti kucing yang habis melahirkan. Wow! Kau dengar aku? Aku sampai hafal akan cerita pendek ini."
"Brengsek!" tubuh Namjoon terdorong ingin melepaskan kepalan tangannya. Tetapi Sang Agen berhasil menghindar.
Dirinya nyaris terjatuh, namun Namjoon masih bisa menyeimbangkan posisi tubuhnya kembali dengan memasangkan wajah tak suka. Berani sekali dia membongkar kartunya.
"Kau buronan Kota Gangnam."
"Sekarang.. Berakhirlah," pintanya dengan senapan yang siap siaga.
Seorang Kim Namjoon, target buruannya malam ini sedang dalam keadaan mabuk, membuat Sang agen bisa kapan saja menarik pelatuk senapannya dengan mudah.
Seiring melangkahnya Namjoon ke belakang. Dia terus mendekat.
"Kau siapa!" teriak Namjoon penuh penegasan. Tiba-tiba Dia tertawa menggelitik perut melihat sebuah pistol yang Ia kira mainan itu. "Kau bercanda? Sudahlah, pergi sana!"
"Kau bicara siapa aku? Baiklah."
Kalau itu maumu? Aku tak dapat menolak. Batin V melanjutkan.
Raut muka Namjoon seketika menegang. Ia menggelengkan kepala, tangannya pula melambai-lambai menolak.
DOR!
TIING
Refleks Namjoon memejamkan kedua matanya. Lalu menatap pria itu lagi. Benar ternyata, pistol sungguhan! Dia tidak main-main, sialan!
Peluru pertama melesat ke tiang lampu jalan. Senyum nakal Sang Agen dipasangnya saat peluru telah dilepas begitu saja.
"Kau jangan bercanda, sialan!" lawan Namjoon, sedikit menghilangkan ketegangan di tubuhnya.
DOR!
"ARRRGGH!"
Namjoon memegang dadanya yang mulai terasa panas dan begitu menyakitkan.
DOR!
"BASTARD!"
"PLEASE!"
Sedikit jeda memberikan nyeri sampai ke ubun-ubun serta teriakan yang dilakukan dari sang penerima. Namjoon berjalan ke belakang sampai tubuhnya terbentur tiang, mengeluarkan suara benturan dikit di sana.
DOR!
"ARRRGHHH!!!"
Tubuh Namjoon seketika terlentang di atas trotoar jalan. Erangan kuat dari mulutnya terus berulang membisingkan jalanan sunyi itu. Panas, sakit, ia mencoba menutup bagian yang terkena timah panas. Sesekali memejamkan mata adalah cara yang pas untuk menekan rasa menyakitkan itu.
Si penembak meniup asap kecil yang keluar dari ujung pistolnya. Sedikit memperhatikan seluruh bagian benda miliknya dengan memasangkan wajah santai.
Tangan sang agen menyapu bagian tak kotor dari pistol miliknya. Berkesan benda berharga miliknya itu telah mengeluarkan jasanya lagi. Tiga peluru yang ia lepaskan telah berhasil mengenai titik-titik vital lelaki itu. Lanjut sang agen hanya diam sembari mengenakan earphone ke telinganya sambil memandang lelaki yang sedang terkapar dalam keadaan sekarat. Bahkan Namjoon sempat mengeluarkan muntah darah yang mengotori jaket cokelatnya. Trotoar jalanan tergenang darah segar tiap kali ia berposisi menyamping kanan lalu berbalik ke kiri.
Tidak ada tanda-tanda pertolongan dari lingkungan sekitar. Waktu menunjukkan pukul dini hari, tentunya hanya ada aktivitas malam di dalam ruangan. Tidak akan ada yang menolongnya, malang sekali.
"Tebuslah dosamu ke neraka. Dan saat kau bereinkarnasi dikemudian hari, kau akan menjadi orang yang lebih baik lagi," suaranya terdengar seperti pendo'a yang bijak.
Namjoon mengangkat telunjuknya ke udara. "Se-benarnya.. Uhuk.. Uhuk.. Kau siapa! Bajingan!" tanya dan umpatnya dengan nada semakin melemah.
Ia menunjuk diri sendiri seraya membuka masker dan membuat senyuman kotak di bibirnya.
"They call me as V."
Ya. Dia adalah Agen V, salah satu secret agen yang menjadi tokoh utama pria dalam cerita ini.
Seketika semuanya menjadi gelap. Target buruannya sudah tak menghirup udara lagi.
Kemudian langkah sepatu si pembawa kematian berjalan mendekati Jasad yang baru saja menghembuskan napas terakhir itu seraya berucap melalui mic earphone-nya yang sedang tersambung panggilan. Ia akan memberikan kabar bagus bahwa....,
"Mission completed."
***
Seoul, Korea.
Seokjin. Sedari tadi pria berseragam itu menunggu kabar dari partnernya, kini bisa bernapas lega. Ia mengceklis daftar ke 966 misi pembunuhan yang berhasil rekannya kerjakan.
Seokjin menutup laptopnya. Ia berdiri untuk meregangkan otot-ototnya sambil menguap dan segera beristirahat.
Malam yang penuh dengan keberhasilan, ia bangga.