Operasi pengangkatan peluru, tidak berlangsung lama. Bahkan Najel tidak ingin diminta pembiusan. Sehingga setelah selesai, dia dapat langsung pulang.
Najel bersandar ke kaca jendela mobil. Sedangkan Jungkook fokus menelusuri jalanan raya.
Mereka memilih bungkam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sebenarnya dia tidak langsung pulang ke rumah.
Najel harus dimintai keterangan mengenai kejadian perampokan beberapa jam lalu.
Beruntungnya Najel terbebas dari tuntutan karena telah mencabut nyawa seseorang.
Itu sebagian dari perlindungan terhadap dirinya sendiri.
***
Pintu terbuka lebar. Menampilkan wajah cemas seorang lelaki untuk dirinya.
Najel tampak acuh hingga Ia sudah menaiki anak tangga yang keempat.
"Kau yang membuat kekacauan?" tanya Chanyeol memberhentikan langkah Najel.
Najel hendak melanjutkan jalannya, namun Chanyeol kembali melanjutkan kalimat. "Jangan bertindak yang tidak-tidak lagi."
"Kau...." Kalimat Chanyeol dipotong oleh jawaban Najel.
"Kau, Aku yang mempermalukan keluarga? Begitu?" Najel memicingkan matanya, senyum smirk-nya terangkat.
Najel bertepuk tangan dengan jeda-jeda waktu yang lama sambil melanjutkan jalannya lagi.
"Everything is gonna be okay."
***
Najel duduk di lantai kamar dengan menyandarkan tubuhnya di tiang ranjang.
Ia melepaskan sweater tebal milik Jungkook dan menyisahkan mini set dewasa yang ia kenakan.
Najel dapat melihat begitu perbannya menampakkan noda darah.
Sekarang ia memikirkan betapa bodoh aksi sok sebagai pahlawan kesiangannya tadi.
Aksi yang berbekas jahitan luka dimana tempat peluru bersarang.
Najel harus melupakan ini secepat mungkin dan mengabaikan reaksi apa yang akan tubuhnya lakukan setelah mendapat luka baru.
***
Tok.tok.tok.
Tak biasanya pintu yang bertuliskan.
ANJING DILARANG MASUK itu diketuk seseorang.
Najel membukanya, tentu pakaian dirinya sudah berubah menjadi piyama.
Rupanya Chanyeol, kakaknya.
Najel mengangkat satu alisnya sebagai isyarat menanyakan 'ada apa'
"Papa pulang."
Najel membalas dengan wajah datar. Saat ia ingin menutup pintu itu kembali, salah satu kaki Chanyeol menahannya.
"Apa salahnya kita mencoba?" Chanyeol meyakinkan sambil menahan rasa sakit di kaki.
***
Itu sebuah ruang makan Keluarga Park. Yang dulunya dihiasi dengan canda tawa keluarga, namun sekarang tinggal lah beberapa yang tersisa, atau bisa kita sebut sebagai kenangan manis yang tak akan kembali lagi.
Untuk kedua kalinya Najel berhenti, tepat di depan pintu dapur. Seketika tangannya mengepal dan dadanya terasa panas. Masih dalam raut muka tanpa ekspresi, tak lama kemudian sebuah jari jemari tangan menyentuh kulitnya. Ia menoleh, pria itu tersenyum, menampilkan lesung pipinya yang manis.
Makan malam apa-apaan ini? Begitu sunyi seperti semua penghuninya adalah hantu. Najel menjadi hilang selera untuk makan makanan di hadapannya. Ia hanya terfokus menatap sang cinta pertama sedang makan dengan santainya.
"Ada perlu apa Papa datang ke sini?" tanya Najel memecahkan keheningan.
Mata pria bernama lengkap Park Siwon itu langsung berpusat padanya. Ia menghabiskan kunyahannya sejenak lalu minum.
"Apa salahnya saya mengunjungi anak papa sendiri?"
Chanyeol hanya mengedarkan pandangan, suasana itu terasa menegangkan. Senyap. Seperti sedang mengikuti ujian nasional tetapi sedang menahan berak, sungguh tak mengenakkan.
"Najel lelah, ingin tidur." ucapnya dengan raut yang sama.
"Wait the moment, honey."
"Papa hanya mampir sebentar sebelum kembali ke hotel. Papa ada meeting perusahaan malam ini dan silahkan anak Papa duduk kembali," ucapnya lembut seperti seorang ayah pada anaknya. Iya, Ayah. Tapi tidak untuk Najel.
Apa yang barusan dia katakan? Honey? Sebentar? Meeting? Huh?
Apa telinga Najel tidak salah dengar?
Sang anak mendesah pelan. "I don't care what the hell is this. I just wanna go to sleep right now."
"Nona Park!" Siwon sedikit meninggikan suara.
Kau melupakan namaku, Tuan?
"Duduk," titahnya.
Napas Najel mulai tak beraturan, menahan gejolak hati yang panas.
"Sit.down.please!" ucapnya lagi.
"Bisa tidak? Papa tak ke sini? Aku mau tidur!"
Siwon berdiri dari tempatnya, semuanya juga ikut berdiri. "Nona Park!"
"Sudah enam bulan Papa tidak mengunjungi anak Papa. Dan Kamu kurang ajar seperti ini!"
"Kurang ajar seperti apa Pa? Aku mengantuk, Najel ingin tidur!" nadanya lembut, namun terkesan menolak keras.
"Papa tidak suka dengan tingkah Kamu yang semakin hari semakin tak Papa sukai!"
Najel menaikkan sedikit sudut bibirnya. Semakin hari dia bilang?
Anda bercanda tuan?
Lalu.. Enam bulan lamanya itu artinya apa?
"Aku tidak membutuhkan suka atau perhatian dari Papa."
"Urus saja anak Papa yang ada di rahim wanita perebut Mama ini!" Najel menunjuk wanita di samping Siwon.
Plak
"Tak tau diri Kamu ya! Dia Mama kamu juga!"
"MAU PAPA APA?" Pipi dan anggota tubuh lainnya memanas. Sudah enggan rasanya untuk saling bertatap tajam seperti ini.
"PAPA PULANG SAJA! NAJEL TIDAK PEDU----"
PLAK
Chanyeol sedari tadi diam turut prihatin. Ia segera menghalang tubuh Najel serta menahan tangan Ayahnya juga. "Udah Pa, ini sudah malam. Najel masih kecil."
"AKU BUKAN ANAK KECIL KAK! TAK PERLU MENGHALANGI PAPA UNTUK MENAMPAR NAJEL LAGI!"
"PAPA MEMANG LEBIH SAYANG SI JALANG BIADAB INI DIBANDING NAJEL!"
"PARK YEOLBI!"
Napas Najel memburu. Sorotan tajam mata elangnya menembus manik mata seseorang dihadapannya ini.
"Pa, please. Channie mohon," Chanyeol berusaha menahan tangan Papanya lebih lama. Ia menoleh ke belakang. "Jel, ke kamar sekarang."
Najel terdiam, matanya mengisyaratkan korbaran api. Tubuhnya bergetar hebat. Bahkan picingan matanya lebih terlihat seperti orang yang kerasukan.
"PAPA JANGAN PERDULIKAN NAJEL ATAUPUN CHANYEOL OPPA!"
"NAJEL BISA BAIK-BAIK SAJA DISINI TANPA PAPA DAN WANITA GAK WARAS ITU!"
"NAJEL MASIH MENGHORMATI PAPA UNTUK MENYEBUT PAPA SEBAGAI PAPA NAJEL!" napasnya memburu.
"NAJEL TAK INGIN PAPA ADA DISINI LAGI!"
"INI RUMAH MAMA NAJEL! BUKAN RUMAH PAPA LAGI!"
"PAPA PERGI!!!"
"PAPA TERLALU SIBUK MEMIKIRKAN KEHENDAK PAPA!"
"PAPA PERGI!!" nada bicara Najel semakin meninggi seperti berteriak, meluapkan segala emosi yang ada.
"NAJEL SUDAH BAHAGIA BERSAMA KAKAK!"
"TIDAK PERLU ADA PAPA!!!"
"PAPA PERGI!"
"JANGAN SAMPAI KEDUA TANGAN NAJEL MENCOBA MENYENTUH KULIT MULUS WANITA JALANG INI LAGI!"
"PAPA PERGI!!" Najel menjambak rambutnya sendiri. Menahan tekanan yang terus saja menimpa pikirannya.
"NAJEL SUDAH MUAK PA!"
"PAPA PERG--"
Seketika semuanya menjadi gelap. Tubuh Najel ambruk di hadapan keluarga yang bisa dibilang broken home itu.
Si Wanita sebagai objek amarah Najel hanya bisa diam dan merundukkan kepala. Sedangkan Mr.Siwon menahan kesalnya tertahan oleh Chanyeol.
Malam itu, untuk kedua kalinya pula semuanya kembali membuka goresan luka lama.
Seperti luka ini akan menjadi abadi, seperti tertanam dalam ingatan dan hatiku.
Mengapa semua orang begitu egois? Kepunyaanku.. Kebahagiaanku.. Kasih sayang yang pernah semua orang beri, begitu cepat di renggut.
Tubuhku bukan bayangan, tetapi berkesan antara ada dan tiada.
Tubuhku dipenuhi banyak luka. Namun tetap sama, sama-sama tak perlu dianggap.
Sudah cukupkah masa lalu membuatku menjadi setengah gila?
Sudah cukupkah masa lalu membuatku menjadi burung di dalam sangkar? Lalu kau ingin melepaskanku sesuka hatimu?
Bisakah Kamu menempatkan Ibu kandungku kembali ke sisiku?
Ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya..
Aku Rindu..