2 - JN

1644 Words
Tatapanku kosong saat berjalan dengan langkah gontai di jalanan ibukota. Mereka berbisik dibalik kaca bening, beberapa pasang mata itu memandangku jijik dan menganggap diriku sebagai perempuan tak waras. Kaos putih oblong. Celana pendek hitam di atas lutut. Rambut yang menggumpal seperti benang kusut dan ditaburi banyak benda berwarna putih. Yang sekarang lebih terlihat seperti permen kapas. Kau tau, apa yang aku lakukan? Well, Aku sedang mengamati isi dalam sebuah kafe keluarga melalui kaca jendela. Ekspresiku tetap sama, datar tanpa sedikit kerutan akan senyuman yang sangat jarang sekali aku buat. Namaku Jeon Najel. Hidupku tak seputih bola salju. Sejujurnya, aku tidak ingin membahas kata yang disebut Keluarga. Karena keluargaku berantakan. Ibuku tewas kecelakaan tiga tahun silam di hari kelulusan dan juga hari ulang tahunku. Hari yang sama saat prosesi penghormatan terakhir. Aku dikejutkan dengan kedatangan anggota keluarga baru yang tak ingin aku akui. Dia merusak karakterku! Dia merusak kehidupanku! Dia mengejutkanku dengan kabar ayah memiliki istri baru! Kau pikir bocah pubertas mana lagi yang mengancam ibu tirinya dengan senjata tajam. Di hari kematian ibu kandungmu? Aku memberontak, membabi buta untuk jangan menghalangku pergi ke arahnya. Namun pemberontakan yang kubuat berujung tubuh tak berdaya ini pergi ke rumah sakit jiwa. Aku mengalami depresi berat. Tak sanggup menerima kenyataan yang menjadi kehidupan baruku. Selama berbulan-bulan Aku diisolasi. Menenangkan diriku dengan sejuta obat penenang. Aku tak dapat menghitung dan membayangkannya lagi, betapa beratnya jalanku waktu itu. Begitu pula dengan aktivitasku yang selalu dikontrol dan diawasi ketat. Hahahahahahaha. Apakah manusia sepertiku boleh tertawa? Aku lupa kapan terakhir kali aku bisa tersenyum apalagi tertawa. Setahun lebih aku mengalami masa sulit untuk menerima kenyataan hidup. Ayahku juga dengan sengaja menyembunyikan bahwa aku merupakan bagian dari keluarga orang terkaya se-antero Korea. Dia hanya mengakui kakakku di hadapan publik. Menyakitkan sekali bukan? Hahahahaha! Anak yang tak dianggap. Anak yang tak punya cinta dan kasih sayang. Aku 'kan telah membuat malu keluarga. Tak ada yang mau berteman denganku. Karena tertutupnya kehidupan pribadiku. Tetapi Aku sudah terbiasa dengan keadaan dan beralih untuk melupakan masalah yang kupunya yakni bermain game. Game adalah belahan jiwa baruku. Game adalah keluargaku. Aku bisa memiliki banyak teman dari dunia virtual. Sejak kecil sampai menjelang dewasa ini, kegilaanku akan game terus meningkat. Seolah benar-benar bisa menghilangkan jejak kesedihan dalam daftar riwayat hidup. Oh, iya. Lamunanku buyar saat seseorang menyelimuti tubuhku dengan mantel panjang nan tebal. Refleks kepalaku menoleh. Lelaki itu tersenyum sambil menaikkan kupluk mantelku lalu menarik diriku pergi dari lokasi yang tak seharusnya seseorang berdiri disana. Di hari dengan cuaca ekstrim. Terlebih aku mengenakan pakaian yang tak seharusnya dipakai saat musim dingin tiba. Aku melewatkan satu hal fakta tentangku. Bahwa aku Pengidap penyakit CIPA. Sebuah penyakit yang tidak dapat merasakan rasa sakit, rasa lapar, suhu, maupun rasa kantuk untuk tertidur. Mengapa aku bisa melakukan hal gila saat salju sedang turun? Minus beberapa derajat. Hari ini, Aku mendapat kabar yang semakin menambah dan membuka kembali daftar-daftar riwayat menyedihkanku. Teman dekat yang baru kumiliki, mendadak dikabarkan tewas bunuh diri. Diperkirakan telah melompat jatuh dari ketinggian gedung kampus tempatku melanjutkan program studi. Kabar kematian itu menyeret namaku dan meninggalkan misteri. Dia tewas bunuh diri secara tak wajar. Tidak ada tanda-tanda memiliki masalah hubungan status, keluarga, maupun pendidikan. Meninggalnya dia juga tepat di hari ulang tahunku di tahun yang berbeda. Ini tidak adil, bukan? Apa ulang tahunku membawa sial? Dan memang seharusnya aku tidak dilahirkan ke dunia 'kan? Tekanan batin itu terasa kembali sehingga aku kabur ke jalanan untuk menghirup udara segar. Apakah kau tertarik membaca ceritaku? Tolong aku. Aku butuh teman. Untuk membentengi diriku dari masalah-masalah yang seharusnya tak ingin kumiliki. *** Tahun telah berganti... Aku sedang berjalan dengan mata tertutup. Langkah demi langkah jalanku dituntun oleh seorang pria yang memaksa ingin mengajakku pergi di hari itu. "Sudah sampai! Kau boleh membuka kain penutupnya," ucap Jeon Jungkook bernada ceria, Ia membantu melepaskan ikatan. "KEJUTAN!" teriak semua orang dengan senyuman yang mengembang. Najel mengerjapkan matanya beberapa kali saat memandang banyak lelaki bertopi kerucut dihadapannya. Mereka memegang balon, kue, sebuah boneka dan seseorang yang meniup terompet kecil. Semua berwajah ceria. Namun tidak bagi dirinya. Tetap dengan ekspresi yang sama. Senyum ceria semua memperlihatkan barisan gigi mereka yang rapi pun perlahan mulai pudar. "Ayo pulang," ajak Najel kepada Jungkook sebelum meninggalkan lokasi itu lebih dulu. Seorang pria berkulit seputih susu menghempaskan topinya ke lantai sebelum menjatuhkan tubuhnya ke sebuah sofa. "Bukankah sudah kukatakan, kalau merayakan hari ulang tahunnya adalah ide yang buruk?" Semua diam mendengar ucapan itu. Dia memang benar. Beberapa detik setelahnya, Jungkook pergi meninggalkan lokasi untuk menyusul kepergian Najel. Sedangkan Hoseok kembali memadamkan lilin berkarakter pria salju di atas kue ultah yang ia pegang. Tak berniat menanggapi komentar. Yoongi memandang Jimin dan menunjuk lelaki itu. "Kau membuang-buang waktu kita." "Harusnya ini reuni yang menyenangkan," sahut Jimin. Yoongi menyeringai, dikeluarkannya sebatang rokok dari kotak di saku bajunya itu sambil berkata. "Berapa kali aku harus mengulang kata-kataku? Kalau dia memang tidak ingin mengadakan pesta perayaan ulang tahunnya sendiri. Itu menyakitkan dirinya sendiri, bodoh!" "Sudah-sudah, jangan berdebat," lerai Hoseok di tengah-tengah pandangan keduanya. "Ayo buat ide baru tentang apa yang akan kita lakukan dengan semua ini?" Ucap Hoseok, wajahnya serius dipenuhi tanda tanya. Yoongi membuang muka seraya mengepulkan asap rokok ke udara. Membuat Hoseok mengibas-kibas udara di sekitar. "Sejak kapan kau merokok?" lanjut Hoseok, raut mukanya mendadak masam. Yoongi menyunggingkan senyuman. Tak ingin membalas jawaban itu, ia memilih untuk pergi meninggalkan restoran ayam itu, sama seperti Najel dan Jungkook. Wajah masam Hoseok terus ia pancarkan sampai menoleh ke arah Jimin. "Bagaimana, Huh?" *** Jungkook mendekati lokasi mobilnya. Saat mengedarkan pandangan ke sekitar, ia tidak menemui tanda-tanda akan keberadaan gadis itu. Ia berkacak pinggang lalu memainkan ponselnya. *** "Selamat datang, selamat berbelanja," Sapa seorang penjaga kasir wanita berseragam merah berpadu biru tua itu dengan ramah tiap kali para pengunjung masuk. Pria ber-headband merah berbalas senyum seraya memasuki lokasi minimarket lebih dalam. Tubuhnya mendekati lokasi minuman, mengambil sekaleng bir lalu kembali menuju kasir. Pandangannya beralih sesaat setelah seseorang menyenggolnya. Perempuan itu tak meminta maaf dan ia juga tak ingin mempermasalahkannya. Pria headband lalu pergi ke barisan antrian kasir, sembari menunggu antriannya. Ia memilih untuk memainkan ponselnya. "Selamat datang, selamat berbelanja." Beberapa pasang mata refleks ke arah pintu utama. Yang menampilkan sosok pria berjaket dengan masker hitam menutupi wajah. "Mau melakukan pembayaran online shop, Tuan?" sang kasir menanyakan saat pria itu sudah berada tepat dihadapannya. Cekrekk "JANGAN BERGERAK!" "Kyaaaaa!!" sontak salah seorang ibu-ibu berteriak. "SEMUANYA TUNDUK! DAN TURUTI PERINTAH SAYA!" Pria asing yang tampak seperti prampok itupun mengedarkan pistolnya ke arah para pembeli. Dia tak sendiri. Ada dua orang kawanan lainnya yang sibuk merampas isi dari meja kasir. "HEI KAU YANG DISANA! TURUTI PERINTAHKU!" Perempuan itu diam dan tetap berdiri memunggungi dirinya. "Hei, Turutilah!" bisik lelaki headband. Perempuan yang tak lain ialah Najel itu malah mendekati si perampok yang berkepala plontos. Aksi Najel membuatnya tertawa untuk meremehkan apa yang Najel lakukan. "Adek manis. Tidakkah saya suruh kamu untuk.." Bugh! Najel tanpa takutnya menendang kuat bagian terlarang lelaki itu. Sehingga Ia terhempas ke belakang dan mendarat ke aneka bungkusan makanan kecil di depan meja kasir. Gemerincing kotak-kotak kecil berjatuhan ke lantai. Semakin membuat suasana menjadi gaduh dan tegang. Pria yang menyaksikan Najel pun membulatkan matanya di tempat. Sungguh diluar dugaan, ada seorang perempuan yang berani melakukan hal itu. "KAU---Brengsek!" umpatnya kemudian mengarahkan senapannya ke Najel dan...., DOR! Tubuh Najel tersentak sedikit, namun tak sampai terjatuh. Ia memperhatikan dada kirinya yang mulai mengeluarkan cairan darah merah. Bajunya yang mulai kotor membuat Najel tertawa kecil. "Hanya segitu?" Jawabnya menantang. Perampok-perampok itu tampak terkejut. Hebat! Diluar ekspetasi dugaan. Perempuan ini tak merasakan rasa sakit sedikitpun. Lalu, Najel melemparkan sekaleng minuman bersoda dari tangannya ke muka pria yang baru saja Ia tendang, membuat dirinya menjatuhkan pistol yang ia pegang. "Arrggh!" ringis pria itu. Najel begitu cepat. Ia sudah berdiri di depannya, meraih satu senapan yang sudah beralih pengguna. Semuanya diam, tak ada yang berani membuka suara. Mereka hanya seperti sedang menonton adegan action. Najel tak ingin membuang waktu, diarahkannya pistol itu ke perampok tadi dan.. DOR.DOR.DOR! Satu orang perampok terkapar di lantai. Kepalanya bocor dengan darah segar yang keluar dari sela-sela lubang hasil karya Najel. Dan jangan lupakan kalau dia juga melubangi dada sang perampok. Lantai yang putih seketika kotor akan ceceran darah. "Yah..., dia mati," ucapnya santai tanpa dosa karena telah menarik pelatuk pistol tersebut. Tiga kata dari mulut Najel, berhasil menjadikan kondisi semakin ngeri. Dari beberapa pandangan terhadap Najel, perempuan itu sudah dapat dicap sebagai psikopat yang telah melancarkan aksinya. Dia gila! Mata elang Najel berpindah target. "Kau berdua, yang disana!" gertaknya mengarahkan pistol. Perampok-perampok itu ketakutan. Sedari tadi penjaga kasir di samping perampok terus menangis dalam diam dengan tubuh yang bergetar. Seringaian jahat dibentuknya. "Mau ikut ke neraka atau kabur?" Najel membuat opsi. Tanpa pikir panjang. Mereka berdua lebih memilih untuk kabur kocar-kacir menuju sebuah mobil jeep hitam lalu melesat pergi menjauh dari lokasi. Semuanya masih dengan kondisi yang sama. Najel mengedarkan pandangan ke sekitar. "Kau.." lirih Najel lemah seraya berjalan ke arahnya. Selangkah.. Dua langkah.. "Bawa aku ke rumah sakit." Perempuan itu ambruk dan seketika semuanya menjadi gelap. *** Jungkook berjalan cepat memasuki rumah sakit, diikuti Hoseok dan Jimin. Ekspresinya tak berubah semenjak sebuah panggilan masuk mengenai kabar buruk yang menimpa Najel. Dari kejauhan. Jungkook dapat melihat seorang lelaki duduk sendirian di ujung bangku, di depan ruang operasi. Ia mempercepat langkahnya. Saat sudah mendekat, Jungkook mencengkram kuat lelaki yang beberapa menit lalu telah menghubunginya. "Wow.wow.wow. santai Kook!" ucap Hoseok, sedangkan Jimin menahan tubuh jangkung itu. "Lepaskan," pinta jimin pelan dan Jungkook mau menuruti. Tak begitu saja Ia melepaskannya. Jungkook menghempaskan tubuh itu hingga mengenai dinding rumah sakit. Menyisahkan sedikit suara hantaman. "Apa yang terjadi?" tatapan tajam Jungkook terhadapnya. Dia tak menjawab. Tetap diam dan tenang. Mereka saling bertukar pandangan. Bersamaan itu pula. Dua orang pria berseragam polisi datang mendekat. "V?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD