Accepted

1199 Words
(CHLOE) Berjam-jam aku mencoba memikirkan apa yang sebelumnya terjadi pada Nik setelah ia mendapatkan potongan ingatannya saat aku membawanya keluar hari sabtu lalu. Yang paling cocok dengan pengakuannya setelah melihat truk yang mengangkut rongsokan CyberTech itu adalah bahwa ia kabur dengan menaiki truk tersebut. Android yang masih bagus dan berfungsi dengan baik tidak mungkin dibuang. Android yang sudah tidak bisa digunakan semua bagiannya akan dibongkar terlebih dulu sebelum diangkut ke dalam truk dan dibawa ke tempat pembuangan. Situasi yang paling masuk akal adalah Nik kabur dan naik ke truk itu. Lalu saat ia tiba di tempat pembuangan kemungkinan daya baterainya habis saat ia mencoba menjauh dari tempat rongsokan itu menuju ke bawah jembatan. Itulah kenapa aku menemukannya di sana. Meski ini belum sepenuhnya benar, tapi aku yakin seperti inilah gambaran yang terjadi pada Nik sebelumnya. Tapi, mengapa ia kabur? Seberapa banyak pun aku menanyakannya, Nik belum bisa mengingat alasan ia kabur. Mungkinkah ia tersadar saat ia akan dinonaktifkan karena dianggap sudah tak berfungsi lagi dan memutuskan untuk kabur? Tapi bagaimana bisa? Meski belum pernah melihatnya langsung, rasanya mustahil untuknya bisa kabur dengan mudah dari tempat ia akan dinonaktifkan. Semakin hari, semakin banyak pertanyaan soal Nik yang memenuhi kepalaku. “Seharusnya ini saat yang kau tunggu-tunggu. Kenapa kau terlihat lesu begitu bahkan sebelum kau sempat melihat hasilnya?” tanya Hugo yang tanpa kusadari sudah berdiri di sampingku. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku. “Aku juga ingin melihat siapa saja yang diterima di CyberTech,” jawabnya. “Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu?” Aku menghembuskan napas dengan berat melalui hidung dan kembali menatap ke layar monitor besar di depan yang sebentar lagi akan memunculkan daftar nama-nama peserta magang yang diterima CyberTech. “Nik mendapatkan potongan ingatannya saat aku membawanya keluar sabtu kemarin,” ungkapku. “Apa? Ingatan seperti apa?” “Saat melihat truk yang mengangkut rongsokan milik CyberTech lewat di jalanan, ia bilang truk itu yang mengangkutnya,” kataku dan menoleh padanya. “Kau tahu sendiri kan semua yang ada di dalam truk itu sudah tidak utuh lagi. Tidak ada teori yang lebih masuk akal selain bahwa Nik kabur dari CyberTech.” “Astaga…,” ucap Hugo begitu pelan. “Tapi apa dia bilang kalau di kabur dari sana?” “Tidak. Dia belum mengingat itu. Meski tanpa ingatan itu kau pasti juga berpikir hal yang sama, kan?” Kulihat Hugo mencakup mulutnya dan menunjukkan ekspresi bahwa ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Tiba-tiba kerumunan yang ada di sekelilingku mulai riuh dan ternyata layar monitor di hadapan kami baru saja memunculkan daftar nama-nama peserta magang yang diterima di CyberTech. Aku tidak bisa maju ke depan untuk melihat lebih jelas karena ditutupi oleh kerumunan orang yang juga ingin melihatnya. “Jika ia memang kabur dari sana dan naik truk itu, sebaiknya kau membawanya kembali ke tempat pembuangan untuk memicu ingatannya,” kata Hugo. “Aku sudah melakukannya. Tidak ada hasil,” jawabku. “Yang kumaksud adalah bukan dari tempat kau melihatnya, tapi dari posisi Nik sendiri setelah truk itu membawanya ke tempat pembuangan. Kau harus masuk ke tempat pembuangan itu dan mendekati truk yang baru tiba di sana. Jika kau berada di posisi yang lebih dekat, itu mungkin dapat memicu ingatan apa yang terjadi setelah ia berhasil keluar dari truk itu,” ujarnya. “Yah… kurasa ia langsung menuju ke bawah jembatan itu. Terlihat cukup jelas, kan?” tanyaku dan mengangkat kedua bahuku. “Aku tahu. Tapi kau tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, kan?” “Terlalu berisiko. Apalagi tempat pembuangan itu juga dilarang dimasuki.” “Kau mengatakannya seperti kau tidak pernah memasukinya sebelumnya, Chloe. Membawa Android yang kau miliki sekarang itu jauh lebih berisiko dari masuk ke sana. Tidak ada alasan lagi, kan?” Aku dan Hugo teralihkan oleh suara-suara dari kerumunan di depan kami yang mengekspresikan kebahagiannya karena diterima sebagai peserta magang di CyberTech. Kerumunan di sana juga semakin berkurang, dan aku bisa maju ke depan untuk melihat apakah aku bisa diterima. Lagi. Sebagai peserta magang di sana. “Chloe, kau diterima,” ucap Hugo dengan nada cukup terkejut sebelum aku bahkan bisa melihat namaku sendiri di layar. “Apa? Aku belum melihatnya,” kataku. “Nomor 96. Aku langsung menemukan namamu di sana,” ujarnya dan menunjuk ke barisan nomor tersebut di mana nama lengkapku, Chloe .J Auguste tertera di sana. Aku tak bisa berkata-kata selama beberapa saat. Rasanya senang dan mustahil karena aku bisa diterima lagi. Aku bisa mendengar beberapa orang di sekitarku yang kecewa karena namanya tidak ada di sana. Aku sudah mempersiapkan diri jika hal tersebut juga terjadi padaku. Tapi aku tak menyangka bahwa aku diterima lagi pada akhirnya. “Selamat! Kau berhasil diterima lagi,” ucap Hugo dengan wajah senang. “Dan… kenapa kau tidak terlihat bahagia?” tanyanya setelah melihat ekspresiku. “Aku khawatir gagal mengikutinya lagi kali ini. Bagaimanapun juga aku tidak boleh gagal di kesempatan terakhir ini,” kataku dan merapatkan bibir karena cemas. “Kau tidak akan gagal lagi,” ucap Hugo membungkuk dan mencengkeram kedua bahuku. “Ibumu pasti mengerti kali ini. Apalagi setelah aku memberitahunya keadaanmu. Ia pasti masih berpikir kau belum sepenuhnya membaik dan tidak ingin melibatkanmu. Asal jangan katakan kau akan mendatangi CyberTech untuk magang.” “Aku tahu,” jawabku mengangguk dan menghela napas. “Kuharap kali ini benar-benar berhasil.” “Dan…,” ucap Hugo dan melihat sekitar. Ia lalu membawaku pergi menjauh dari kerumunan itu. “Ini kesempatanmu untuk mencari tahu apa yang ingin kau ketahui selama ini,” lanjutnya. Aku mengangguk-angguk. “Kuharap aku bisa menemukan jawabannya,” ucapku. “Kau tahu, sesuatu mulai menggangguku setelah kau bercerita soal ingatan Android-mu itu,” kata Hugo yang menegakkan tubuhnya kembali. “Akan lebih mudah jika kau bisa membawanya ke CyberTech untuk mendapatkan ingatannya di mana semuanya bermula.” “Kau tidak waras, ya?” ucapku terkejut. “Tidak. Aku serius, Chloe.” “Aku juga sempat berpikir untuk bisa membawa Nik ke sana di mana kemungkinan besar aku bisa mendapatkan jawabannya. Tapi itu mustahil untuk dilakukan.” “Yah… kau ada benarnya,” ucap Hugo dan mengedikkan satu bahu. Ia mengusap-usap dagunya sambil berpikir. “Bagaimana jika membuat dia menyamar sebagai salah satu tukang bersih-bersih?” “Tidak,” jawabku menggeleng. “Android yang telah dipekerjakan harus melakukan semacam absen di tempat kerjanya untuk melihat apakah ia masih berfungsi dengan baik dengan mengikuti jadwal tepat waktu sesuai yang diprogramkan untuknya. Apalagi di tempat semacam CyberTech.” “Kita bahas ini lagi nanti,” kata Hugo mengangguk-angguk. Sepertinya ia juga menyerah berpikir terlalu keras. “Dan selamat sudah diterima sebagai peserta magang CyberTech,” ucapnya dan menepuk bahuku. “Aku harus pergi. Hubungi aku nanti jika ada kabar terbaru,” katanya dan melangkah pergi meninggalkanku. Aku menghela napas dan menoleh ke kerumunan di mana sudah tersisa sedikit. Aku mengalihkan mataku menatap layar di depan dan menatap namaku sendiri yang tertera di sana. Seminggu lagi. Seminggu lagi sebelum aku bisa memulai magang di sana. Meski terlihat menakjubkan dari luar atau bagi orang lain untuk bisa bekerja di sana, bagiku ini adalah awalnya sebelum aku mulai memasuki medan perang. Setelah menemukan Nik, aku punya firasat bahwa CyberTech menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang lebih gelap dari bayangan semua orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD